Kamis, 04 Februari 2010

AMITABHA SUTTA

Sutra yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha



Demikianlah yang telah kudengar : Pada suatu saat Hyang Buddha berdiam di Sravasti pertapaan Jeta Taman Anthapindika bersama serombongan Bhiksu yang berjumlah seribu dua ratus lima puluh yang semuanya Arahat yang di kenal oleh semua orang seperti ; Sesepuh Sariputra, Mahamaudgalyayana, Mahakasyapa, Mahakatyayana, Mahakausthila, Revata, Suddhipanthaka, Nanda, Ananda, Rahula, Gavampati, Pindolabharadvaja, Kalodayin, Mahakaphina, Vakkula, Aniruddha, dan beserta Siswa-siswa terkemuka lainnya ; dan para Bodhisattva Mahasattva, Manjusri Pangeran Dharma, Ajita Bodhisattva, Gandhastin Bodhisattva, Nityodyukta Bodhisattva, dengan para Bodhisattva Mahasattva lainnya ; dan dengan Sakra, Indra atau Raja para dewata yang tak terhingga jumlahnya.


Pada saat itu Hyang Buddha bersabda kepada sesepuh Sariputra : Sebelah Barat dari sini melewati ratusan ribu Koti negeri Buddha, terdapat sebuah alam yang bernama Sukhavati. Ada seseorang Tathagata yang bernama Amitabha. Kini beliau tengah mengajarkan Dharma.

Sariputra, apakah sebabnya alam itu disebut Sukhavati ?

Karena di alam Sukhavati tiada lagi penderitaan bagi makhluk-makhluk yang hidup di sana! Sumber kebahagiaan tak terhingga banyaknya, oleh sebab itu disebut Sorga Sukhavati. Dan lagi, oh, Sariputra! Di Sorga Sukhavati terdapat tujuh tingkat Veranda dengan tujuh tirai rajutan, tujuh baris jajaran pohon, semua terbentuk dari empat macam mustika. Karenanya negeri itu disebut kebahagiaan sempurna.


Lagi pula Sariputra, di alam Sukhavati terdapat tujuh kolam permata berisi air yang memiliki delapan sifat kebaikan. Dasar kolam penuh dengan hamparan pasir emas, keempat sisinya terdapat tangga yang terbuat dari : emas, perak, batu lazuardi dan batu kristal, di atas terdapat pagoda-pagoda yang terhias emas, perak, beryl, kristal, Musaragarbha batu-batu akik, indung mutiara. Di kolam-kolam terdapat bunga teratai sebesar roda pedati, berwarna hijau dengan kemilau hijaunya, berwarna kuning dengan kemilau kuningnya, berwarna merah dengan kemilau merahnya dan berwarna putih dengan kemilau putihnya, lembut, menakjubkan, indah dan murni. O Sariputra, demikianlah negeri Buddha itu dihiasi dengan pahala dan kebajikan yang indah, megah dan agung, lagipula Sariputra, di negeri Buddha ini senantiasa terdengar musik surgawi dan tanahnya kuning emas. Dalam enam periode sehari semalam, turun hujan bunga-bunga Mandrawa.



Tiap makhluk di negeri ini, sepanjang pagi yang cerah dengan jubahnya mengumpulkan bunga dan mempersembahkannya kepada beratus ribu koti Buddha dari penjuru lain. Pada waktu makan mereka kembali ke negeri mereka masing-masing, dan usai makan mereka istirahat. O Sariputra, di negeri kebahagiaan sempurna. Dengan pahala dan kebajikan terhias indah, megah dan agung. Lagipula Sariputra, di negeri ini selalu ada burung-burung beraneka warna nan indah dan langka, burung seriap putih, merak, kakaktua, bangau putih kecil, kalavinka dan burung berkepala dua. Kumpulan burung ini bernyanyi dalam enam periode sehari semalam dengan suara merdu dan harmonis. Suara mereka yang jernih dan riang membabarkan lima akar kebajikan. , tujuh bagian bodhi, delapan jalan suci dan Dharma-dharma lain. Bila makhluk di negeri itu, mendengar suara-suara ini mereka bersama-sama ingat akan Buddha, ingat akan Dharma dan ingat akan Sangha.



O, Sariputra , janganlah mengira bahwa burung-burung ini lahir akibar pelanggaran karma mereka karena alasan apakah? Di negeri ini tidak ada tiga jenis kelahiran sesat. O, Sariputra di negeri Buddha ini bahkan nama-nama tiga jenis kelahiran sesat tidak ada.

Bagaimana sebenarnya ?

Kumpulan burung ini semuanya diciptakan melalui penjelmaan oleh Amitabha Buddha agar suara Dharma tersiar luas. O, Sariputra , di negeri Buddha itu, ketika semilir angin berhembus, barisan pohon-pohon permata dan tirai-tirai permata menimbulkan suara-suara lembut dan indah. Laksana seratus ribu jenis musik dialunkan pada saat yang sama. Mereka yang mendengar suara ini dengan sendirinya ingat akan Buddha, ingat akan Dharma, ingat akan Sangha. O, Sariputra, negeri Buddha itu dihiasi dengan pahala dan kebajikan terhias indah, megah dan agung.

O, Sariputra apa yang kau pikirkan? Mengapa Buddha ini disebut Amitabha?

O Sariputra, kemilau cahaya Buddha ini tak terhingga menerangi sepuluh penjuru dunia tanpa halangan. Oleh karenanya disebut Amitabha lagipula O Sariputra, kehidupan Buddha ini dan rakyatnya mencapai kalpa Asankhyeya, tiada terbatas tiada terhingga. Oleh karenanya disebut Amitabha. O Sariputra sejak Amitabha mencapai tingkat kebuddhaan sepuluh kalpa telah berlalu. Lagipula Sariputra, Buddha ini mempunyai siswa-siswa pendengar suara tak terhingga, tak terbatas. Semua arahat, jumlah mereka tak dapat dihitung demikian pula kumpulan Bodhisattva. O Sariputra, demikinlah adanya negeri kebahagiaan sempurna dengan pahala dan kebajikan terhias, megah dan agung. Lagipula Sariputra, di negeri kebahagiaan sempurna makhluk hidup yang lahir semuanya Avaivartika. Di antara mereka banyak yang dalam kehidupan ini mencapai tingkat kebuddhaan, jumlah mereka sangatlah banyak tidak dapat dihitung dan hanya dapat disebut Kalpa Asankhyeya. Yang tiada terbatas, tiada terhingga.

O, Sariputra makhluk hidup yang mendengar ini seyogyanya berikrar agar dilahirkan dinegeri itu, mengapa demikian ?

Agar mereka yang berhasil adalah orang yang suci dan saleh semua berkumpul bersama-sama di satu tempat. O, Sariputra seorang tidak boleh kurang dalam perbuatan-perbuatan baik, berkah, kebajikan dan hubungan penyebab untuk mencapai kelahiran dinegeri itu. Sariputra, kalau ada seorang lelaki berbudi dan wanita berbudi, mendengar nama Amita Buddha dan memanjatkan nama itu baik selama satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, tujuh hari, dengan sepenuh hati dan tanpa gangguan, bila orang itu mendekati akhir hayatnya, Amitabha Buddha berserta para orang suci akan muncul dihadapannya. Ketika akhir hayatnya tiba hatinya tidak goyah, ia akan terlahir di negeri kebahagiaan sempurna Amitabha Buddha. Sariputra, karena aku melihat manfaatnya maka ku-ucapkan kata-kata itu. Jika makhluk hidup mendengar ucapan ini, mereka seharusnya berikrar untuk lahir di negeri itu.

O Sariputra, sebagaimana aku sekarang memuji manfaat yang tak terkira dari jasa dan kebajikan Amitabha Buddha, demikian juga di TIMUR ada Aksobhya Buddha, Merudhvaja Buddha, Mahameru Buddha, Meruprabhasa Buddha, Sughosa Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang tak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga. Di negerinya masing-masing mengemukakan penampilan lidah maha luas dan panjang menutupi Trisuhhasra Mahasahasra loka datu dengan kata-kata tulus dan nyata. Semua makhluk hidup patut percaya, memuji dan mengingat dengan teguh akan jasa dan kebajikan yang tak terkira dari sutra yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini.


O Sariputra, di dunia sebelah SELATAN ada Chandrasuryapradipa Buddha, Yasahprabha Buddha, Maharciskamdha Buddha, Merupradipa Buddha, Arantavirya Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang tak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga. Di negeri-Nya masing-masing mengemukakan penampilan lidah maha luas dan panjang menutupi trisuhasra mahasahasra loka datu dengan kata tulus dan nyata semua makhluk hidup, patut percaya, memuji dan mengingat dengan teguh khidmat akan jasa kebajikan yang tak terkira dari sutra yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini.

O Sariputra di dunia sebelah BARAT, ada Amitayus Buddha, Amitaskhamdha Buddha, Amitadhavaja Buddha, Mahaprabha Buddha, Maharasmiprabha Buddha, Maharatnaketu Buddha, Suddharasmi Buddha dan Buddha-Buddha lainnya, yang tak terhingga seperti pasir-pasir di sungai Gangga dinegerinya masing-masing, mengemukakan penampilan lidah maha luas dan panjang. Menutupi trisuhasra mahasahasra loka datu, dengan kata tulus dan nyata semua makhluk hidup patut percaya memuji dan mengingat dengan teguh, khidmat akan jasa kebajikan tak terkirakan dari sutra yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini.

O Sariputra didunia sebelah UTARA ada Maharciskamdha Buddha, Dumdubhisvaranirghosa Buddha, Duspradharsa Buddha, Adityasambhava Buddha, Jalemiprabha Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang tidak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga di negerinya masing-masing mengemukakan penampilan lidah maha luas dan panjang menutupi Trisuhasra mahasahasra loka datu dengan kata-kata tulus dan nyata. Semua makhluk hidup patut percaya memuji dan mengingat dengan teguh akan jasa kebajikan tak terkira dari sutra yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini,

Sariputra di dunia sebelah BAWAH (nadir ) ada Simha Buddha, Yasas Buddha , Yasahprabha Buddha, Dharma Nuddha , Dharmadhvaja Buddha, Dharmadhara Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang tidak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga di negerinya masing-masing mengemukakan penampilan lidah yang maha luas dan panjang menutupi trisuhasra mahasahasra loka datu dengan kata kata tulus dan nyata semua makhluk hidup patut percaya memuji dan mengingat dengan teguh, akan jasa kebajikan tak terkirakan dari sutra yang di karuniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini

di dunia sebelah ATAS (zenit) ada Brahmaghosa Buddha, Naksatraraja Buddha, Gamdhottama Buddha, Gamdhaprabhasa Buddha, Maharciskamdha Buddha, Ratnakusumasampuspitagatra Buddha, Saylendraraja Buddha, Ratnotpalasri Buddha, Sarvarthadarsa Buddha, Sumerukalpa Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang tak terbilang seperti butiran pasir. Di sungai Gangga, di negerinya masing-masing mengemukakan penampilan lidah maha luas dan panjang menutupi trisuhasra Mahasahasra loka datu. Dengan kata-kata tulus dan nyata, semua makhluk hidup patut percaya, memuji dan mengingat dengan teguh akan jasa kebaikan tak terkirakan dari sutra yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini.

O Sariputra, Apa yang kau pikirkan ? Mengapa sutra ini disebut sutra yang dikaruniai dan dilindungi semua Buddha ?

O Sariputra, kalau seorang lelaki berbudi atau wanita berbudi mendengar sutra ini dan mengucapkannya serta mendengar nama-nama semua Buddha ini. Lelaki berbudi atau wanita berbudi ini akan menjadi orang yang ingat akan Buddha dan dilindungi oleh semua Buddha dan tidak akan gagal mencapai Annuttara Samyak Sambodhi. Sebab itu Sariputra, kalian semua patut percaya dan menerima kata-kataku dan ucapan semua Buddha. Sariputra, kalau ada orang yang telah berikrar yang sedang berikrar atau yang akan berikrar: "Aku berhasrat lahir si negeri Amitabha". Orang-orang ini semua tidak akan gagal mencapai Annutara Samyak Sambodhi. Apakah dia lahir pada masa lampau, sekarang atau pada masa yang akan datang. Sebab itu Sariputra semua laki-laki berbudi dan wanita berbudi. Jika mereka orang-orang yang memilik keyakinan, seyogyanya berikrar untuk lahir di negeri ini.

O Sariputra sebagaimana Aku memuji jasa dan kebaikan semua Buddha, semua Buddha juga memuji jasa dan kebajikanKu yang tak terkirakan, dengan mengucapkan kata-kata : "Sakyamuni Buddha dapat melasanakan secara luar biasa perbuatan-perbuatan sulit di dunia saha, dikurun kejahatan dari lima kekeruhan diantara kekeruhan kalpa, kekeruhan pandangan, kekeruhan penderitaan, kekeruhan makhluk hidup dan kekeruhan kehidupan. Ia dapat mencapai Annuttara Samyak Sambodhi. Demi makhluk hidup, membabarkan Dharma. Ini yang diseluruh dunia sulit dipercaya, Sariputra. Kamu seharusnya mengerti bahwa Aku, dikurun kejahatan dari lima kekeruhan mempraktekkan perbuatan yang sulit ini, mencapai Annuttara Samyak Sambodhi. Demi semua dunia kuucapkan Dharma yang sulit dipercaya ini, benar-benar sulit untuk dipercaya."

Setelah Hyang Buddha mengucapkan sutra ini, Sariputra dan semua Bhiksu, semua dewa manusia dan para Asura dan yang lain-lain dari dunia, mendengar apa yang telah Hyang Buddha sabdakan menyambut dengan sukacita, menyembah dengan sujud dan mohon diri.


Source : http://www.geocities.com/Athens/Stage/5255/dhamma/sutra/amitabha.htm
Saved at : http://groups.yahoo.com/group/parasohib/message/666

Kisah Perjalanan Ke Surga Sukhavati (2/2)

{..lanjutan..}
Penghuni di Varga Bawah Tengah, ketika masih hidupnya di bumi, mereka telah banyak berbuat kebaikan, memupuk akar-akar yang baik dan berkeinginan lahir di Sukhavati Loka. Berkat kekuatan Pranidhana Buddha Amitabha, mereka ditempatkan di tingkat alam kedua di Sukhavati Loka.

Varga Bawah Atas adalah tingkat alam ketiga di Sukhavati Loka, lebih tinggi setingkat dari Varga Bawah Tengah. Penghuni di Varga Bawah Atas ini, pada masa hidupnya di bumi, mereka telah menjalankan Pancasila dengan baik, dan tekun menjaga Delapan Larangan, serta giat melakukan kebaikan, berdana, dan bertindak sangat hati-hati sesuai dengan Ajaran Sang Buddha.

Sesudah mengelilingi Varga Bawah, Kuan She Ing Phu Sa mendesak kami pula, agar cepat meninggalkan Varga Bawah secepat mungkin, karena waktu kami sangat sempit.


NEGERI TERATAI VARGA TENGAH
Kami meninggalakan Varga Bawah, segera menuju Varga Tengah. Kami memanjatkan Surangama Dharani. Badanku terbang melayang seperti pesawat. Dalam perjalanan kami melihat pancaran sinar gemerlapan dari gedung istana, dan puncak lancip pagoda-pagoda dengan kecepatan yang tinggi terbang berpapasan dengan kami. Badan saya semakin menjadi tinggi dan besar. Bunga teratai di Varga Tengah besar-besar, sebesar satu propinsi di Tiongkok kurang lebih 800 li (400 Km) diameternya. Jarak dari Singapore ke Kuala Lumpur hanya 180 li (90 km) saja. Maka 800 li kira-kira sama dengan jarak Singapore ke daerah tengah Thailand. Bunga teratainya begitu besar, maka penghuninya ikut menyesuaikan dengan keadaan, menjadi sebesar raksasa.

Kuan She Ing Phu Sa berkata, “Penghuni Varga Tengah kebanyakan asal dari empat kelompok masyarakat (Bhiksu, Bhiksuni, Upasaka, dan Upasika), maka tingkat kesadaran mereka lebih tinggi setingkat dari penghuni di Varga Bawah. Mereka pada masa hidup di bumi telah bertekad berusaha melepaskan belenggu Triloka. Ketika di bumi mereka tidak hanya rajin melakukan kebaktian, tekun menjalankan Sila Vinaya, disamping itu mereka sangat bersemangat memajukan pendidikan Buddha Dharma, membangun Vihara, mencetak buku-buku tentang Ajaran Agama Buddha untuk menyebar luaskan Dharma. Tindakan dan tutur kata mereka selalu sesuai dengan hati yang tulus ikhlas, berdasarkan Catvari Apramani (Empat kebajikan yang tak terhingga yaitu Maitri, Karuna, Mudita, dan Upheksa) sehingga pada akhir hayat mereka, berkat jasa pahala mereka dan bantuan trisuci di Sukhavati Loka. Mereka di tempatkan di Varga Tengah. Varga Tengah seperti Varga Bawah juga dibagi 3 tingkat, yaitu Varga Tengah Atas, Varga Tengah-Tengah, Varga Tengah Bawah. Penempatan penghuni di ketiga tingkat itu menurut tingkat ketekunan mereka bertapa, serta jasa pahala yang mereka pupuk pada masa hidup di dunia fana.

Tak lama kemudian kami telah sampai di sebuah Aula Istana yang amat besar, saya segera bernamaskara kepada Bodhisattva yang berada di Aula. Sesudah dibawah, Kuan She Ing Phu Sa melanjutkan perjalanan kami, tahu-tahu kami tiba di sebuah kolam teratai. Wah! Alangkah besar dan indahnya kolam Teratai di Varga Tengah ini ! Dibandingkan dengan yang di Varga Bawah, entah berapa kali lebih besar, lebih indah, lebih megah dan lebih agung. Sekeliling tepi kolam bertahtahkan tujuh macam intan manikam, bunga teratai di dalam kolam luar biasa bagusnya, garis-garis urat setiap kelopak (mahkota) sangat indah dan halus sekali serta setiap garis berkilauan dengan warna masing-masing. Garis-garis yang beraneka warna saling bersilang membentuk gambar-gambar yang indah dan menarik, sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Aneh bin ajaib! Setiap kuntum bunga teratai terdiri dari entah beberapa sap mahkota dan setiap sap terdiri entah beberapa mahkota, dalam setiap mahkota yang luas itu terdapat beraneka ragam bangunan, ada pavilion, teras, gedung bertingkat serta pagoda pagoda tinggi dan semuanya memancarkan puluhan jenis warna sinar sangat menakjubkan! Para penghuni di bunga teratai semua berbadan merah emas yang tembus cahaya bagaikan kristal, serta berkilau kilau oleh pantulan sinar, mereka mengenakan baju seragam dan mereka semua pemuda berumur kurang lebih 20 tahun, diantaranya tak ada orang tua atau anak kecil.

Keadaan orang-orang disekeliling kami mengingatkan saya terhadap badan diriku. Saya terperanjat menengok diriku, entah kapan keadaan diriku telah berobah bentuk dan tampang mukaku mirip dengan mereka dan bajuku juga seragam sama dengan mereka, Cuma Kwan She Ing Phu Sat yang tetap seperti keadaan semula.

Saya bertanya kepada Beliau, “Mengapa semua benda, orang di sini bersinar sesuai dengan warna cahaya masing-masing. Dan mengapa badanku juga berobah menjadi seperti mereka?”

Beliau menjelaskan, “Hal ini semuanya oleh karena Abhijna (kekuatan sakti) Sang Buddha Amitabha, sehingga semua benda makhluk di sini berkilau terpantul sinar Sang Amitabha yang tak terbatas. Dan kekuatan Abhijna Beliau merobah bentuk warna benda-benda, makhluk-makhluk di sini termasuk Anda dan mereka. Kecuali bila anda telah mempunyai kekuatan Abhijna pada dirimu, Anda dapat mempertahankan ciri khas kepribadianmu.”

Di Varga Tengah kadang-kadang juga mempunyai gedung bertingkat yang agak suram, ini hanya suatu pemandangan delusi yang sementara jikalau si penghuni tiba-tiba mengigat keluarganya pada masa hidupnya di dunia fana. Kuan She Ing Phu Sa mengajak saya masuk ke sebuah gedung yang suram. Sekitar gedung itu dikelilingi taman bunga yang luas dan indah, ratusan bunga berkembang seolah-olah berlomba memamerkan keindahannya, burung-burung berkicau serta melompat dari dahan ke dahan, pemandangan taman demikian tidak beda dengan rumah mewah seorang yang kaya raya di dunia fana. Semua keluarganya sangat bertakwa kepada Triratna, di ruang tamu mereka terpampang altar yang indah dan rupang Trisuci adalah pujaan mereka. Ibu, bapak, istri, saudara, anak famili dan sebagainya semua berkumpul di ruang tamu yang luas itu. Mereka bersama-sama mengadakan kebaktian, membaca Sutra, menyebut-nyebut nama Sang Buddha. Laki perempuan, tua muda semuanya berjumlah lebih dari 20 orang.

Kuan She Ing Phu Sa bercerita, “Keluarga ini pada masa hidup di dunia fana, berkelakukan baik, suka berdana, menghayati Catvari Apramani yaitu Maitri, Karuna, Mudita, dan Upeksa. Antara mereka ada yang lahir di Varga Tengah, namun pertalian kasih sayang dengan keluarganya belum putus sama sekali, maka bayangan keluarga besarnya kadang-kadang terpantul di layar batinnya.”

Menurut Kuan She Ing Phu Sa bahwa Sukhavati Loka terbagi tiga Varga dan setiap Varga terbagi lagi tiga tingkatan, maka jumlah semuanya 9 tingkat, penghuni-penghuni di Varga Bawah-Bawah dapat meningkat setingkat lebih tinggi dari Varga Bawah Tengah, melalui meditasi yang tekun, naik setingkat demi setingkat, bunga teratai yang dimilikinya di Varga Bawah Tengah bagaikan kendaraan dapat dipindahkan ke Varga Bawah Tengah. Peristiwa demikian seperti terjadi dalam Samadhi dari Dhayana pertama masuk ke Dhyana kedua, masuk ke Dhyana ketiga, terakhir sampai masuk ke Dhyana keempat, setahap demi setahap terakhir sampai pada Varga Atas Atas tidak perlu melompat lagi.

Tiba-tiba terdengar suara genta, bergema di angkasa, dengan sekejap mata, semua gedung, taman yang indah tadi lenyap tanpa bekas. Mereka memakai baju seragam. Jumlah orang makin lama makin banyak, sehingga tidak terhitung banyaknya memenuhi lapangan yang besar dan luas sekali.

Kuan She Ing Phu Sa memberitahu saya, “Hari ini Bodhisattva Mahasthamaprapta dan Bodhisattva Nityadukta akan memberikan khotbah tentang Sutra Sad Dharma Pundarika, maukah anda ikut mendengarkannya?”

“Saya paling gemar mendengar khotbah yang bertema Sad Dharma Pundarika, mari kita segera ke sana !” saya menjawab dengan gembira.

Sambil berbincang, kami telah sampai di podium. Di sekitar podium dikurung oleh jala-jala berkilau-kilau seperti ribuan pelangi silang menyilang melengkungi podium. Beribu-ribu mata jala bagaikan mutiara-mutiara warna-warni menghiasi sekitar podium yang tingginya puluhan meter terbuat dari emas, perak bertahtahkan dengan tujuh jenis intan permata, luar biasa agung dan megah. Di dua sisi podium terdapat jajaran pohon besar setinggi pencakar langit di Amerika. Setiap dahan pohon terdapat bangunan teras pavilion, gedung bertingkat, dan lain sebagainya, di mana banyak Bodhisattva- Bodhisattva berkumpul menanti khotbah.

Kuan She Ing Phu Sat membawa saya naik ke podium, dan memperkenalkan saya kepada Bodhisattva Mahastamaprapta dan Bodhisattva Nityadyukta. Saya segera bersujud kepada mereka. Beliau mempersilahkan saya duduk dibaris samping podium. Saat ini asap wewangian entah dari mana berluik-liuk naik ke atas, harum dan segar sekali. Alunan musik kayangan yang merdu datang dari angkasa jauh. Banyak burung-burung cantik mungil beterbangan, menari-nari naik turun mengikuti tinggi renda nada irama musik. Setelah saling memberi salam Bodhisattva Mahastamaprapta berdiri mengumumkan perjamuan dibuka dan khotbah dimulai.

Bodhisattva Nityadyukta memulai khotbahnya, :”Sutra Sad Dharma Pundarika Sutra adalah akar dan sumber dari semua Buddha di Negeri teratai, adalah pedoman dan dasar untuk mencapai ke-Buddha-an. Setiap insan yang bercita-cita mencapai Samyaksambodhi harus membaca Sutra ini. Pada pertemuan lalu telah saya jelaskan tentang ‘Apakah Saddharma Pundarika itu?” Sad Dharma Pundarika Sutra suatu harta kekayaan yang tak ternilai harganya. Dan hari ini akan saya uraikan tentang fungsi-fungsinya..” Uraian Beliau hampir 1 jam lamanya.

Setelah saya mendengar kata-kata yang Beliau kutip dari Sutra Sad Dharma Pundarika berbeda dengan Sutra Sad Dharma Pundarika Sutra yang saya baca di dunia fana, [NOTE.6] saya lalu bertanya kepada Kuan She Ing Phu Sa mengenai keraguanku. Beliau menjelaskan, “Sutra Sad Dharma Pundarika sutra di bumi mienggunakan kata-kata dan contoh-contoh yang mudah dimengerti oleh orang di bumi, sedangkan sutra Sad Dharma Pundarika di sini lebih mendalam, namun bagi penghuni Sukhavati Loka yang pengetahuannya lebih luas malahan lebih mudah dipahami. Biarpun penggunaan kata-kata berbeda-beda, namun arti yang terkandung sama. Hal ini sama dengan Alam Dewa yang tidak mengerti Alam Arahat, Arahat tidak mengerti Alam Bodhisattva, dan Bodhisattva tidak memahami alam Buddha. Anda tadi mendengarkan uraian Bodhisattva Nityadyukta, Beliau mengucapkan dengan satu bahasa saja, namun beribu-ribu bangsa dari manca negara mendengar dan memahami seperti bahasa mereka masing-masing. Inilah yang disebut Dharani/dharani Samaya.”

Seusai khotbah, terjadilah suatu peristiwa yang tidak dapat dibayangkan oleh orang bumi. Saat ini banyak benda-benda aneh berguguran dari angkasa bagaikan hujan. Bunga-bunga warna-warni beraneka ragam serta macam-macam intan permata berkilau-kilau menggores angkasa bagaikan kembang api memancarkan beribu-ribu sinar beraneka warna yang menakjubkan. Para hadirin yang di bawah podium hampir semuanya mengulurkan tangannya atau mengangkat ujung bajunya untuk menadahi bunga atau benda yang jatuh itu. Kemudian terdengar alunan musik yang merdu hening entah dari mana. Tiba-tiba para hadirin di bawah podium yang semuanya terdiri dari pemuda laki-laki berbaju merah dengan serentak menjelma menjadi pemudi-pemudi mengenakan blus hijau dan rok merah, pada pinggangnya diikat pita (sabuk) kuning emas, mereka melompat-lompat, menari-nari dengan riang gembira. Dengan sekejap mata mereka menghilang dan sekonyong-konyong lapangan yang penuh dengan gadis cantik menjelma menjadi taman bunga yang penuh dengan bunga teratai yang subur dan bulat-bulat, masing-masing memancarkan sinar berwarna indah sesuai dengan warna masing-masing. Beratus ribu bunga teratai beraneka warna berkilau-kilau memantulkan cahaya masing-masing yang mengagumkan bagaikan ombak-ombak panca warna di lautan luas. Tiba-tiba di atas setiap bunga teratai muncul seorang Bodhisattva bersila dengan tenang dan agung sekali. Dengan tidak terduga pula taman teratai dengan serentak menjadi rimba pagoda, pagoda emas, pagoda perak, dan warna-warna lainnya yang tidak terhitung banyaknya. Setiap pagoda memancarkan sinar ke empat penjuru sesuai dengan warna masing-masing. Pemandangan yang demikian indah menakjubkan mempesona sungguh tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Ketika saya sedang terpaku pada pertunjukan yang luar biasa itu, sekonyong-konyong beratus-ratus gadis berbaju hijau muncul dari angkasa melayang dengan cepat lalu menukik menuju gedung aula menembus atap, menerobos dinding dan pilar seolah-olah melayang di udara bebas tanpa halangan. Saya terkejut sekali dan bertanya kepada Kuan She Ing Phu Sa.

Beliau menjelaskan, “Sukhavati Loka adalah penjelmaan kekuatan Abijna Sang Buddha Amitabha, maka makhluk, benda, gedung, teras, pavilion, istana, pagoda maupun sungai, gunung, bunga rumput, pepohonan semuanya seperti kristal yang tembus cahaya, dan tiada satupun bersifat materi. Karena itulah mereka dapat menembusnya sebebasnya tanpa halangan, sekarang silakan anda coba sendiri.”

Mengikuti sarannya, saya mencoba menancapkan tanganku pada dinding pilar, semuanya dapat kutembusi dengan mudah, tangan, kaki dan badanku dapat menembus masuk keluar dengan bebas, tetapi bila diraba dengan tangan, semua benda, bangunan seolah-olah barang nyata dan padat seperti benda-benda di bumi. Saat kita berniat menerobosnya maka kita dapat sesuka hati menerobosinya.

Selanjutnya Kuan She Ing Phu Sa membawa saya meninjau kedua tempat yang ajaib, yaitu Gunung Delapan Pemandangan Besar dan Pusat Pameran Dunia teratai.

GUNUNG DELAPAN PEMANDANGAN BESAR
Penghuni Varga Tengah Bawah pada umumnya masih mempunyai delusi sedikit namun sebagian kecil sudah bersih dari delusi. Tampang mereka rata-rata sama dan usianya antara 16 tahun sampai 20 tahun. Mereka berpakaian seragam, tak ada perbedaan jenis kelamin (bukan laki-laki dan juga bukan perempuan). Kegiatan harian mereka kebanyakan berkumpul melakukan puja bhakti bersama, menyani menari bersama, mereka suka hidup berkelompok. Bunga teratai di sana dibandingkan dengan yang di Varga Bawah jauh lebih besar, lebih super, sap (kelopak) nya lebih banyak, warnaya juga lebih banyak dan sinar-sinarnnya lebih cemerlang.

Di sini terdapat sebuah gunung ajaib yang disebut “Gunung Delapan Pemandangan Besar”, delapan pemandangan tersebut melambangkan Parijana (8 indra, konsepsi, pencerapan) yaitu:

1. Caksur Vijnana : Indera penglihatan/mata
2. Srotra Vijnana : Indera pendengaran/telinga
3. Ghrana Vijnana : Indera Penciuman/hidung
4. Jihva Vijnana : Indera Rasa / lidah
5. Kaya Vijnana : Indera Penyentuhan / badan
6. Mano Vijnana : Indera pengertian/perasaan hati atau paham
7. Klisa-Mano Vijnana : Indera Diskriminasi/akal, pertimbangan, pembadingan, pembeda, serta kalkulasi.
8. Alaya Vijnana : Indera pengingatan.

Gunung 8 Pemandangan Besar ini didirikan oleh Buddha Amitabha khusus untuk mendeteksi, mengukur sisa-sisa delusi atau karma yang masih tertinggal di 8 Vijnana bagi pendatang baru di Varga Tengah Bawah. Penghuni di sini harus bertapa terus menerus sehingga tercapai sunyata (kosong, tanpa kilesa, tanpa delusi).

Pemandangan pertama disebut ‘Dunia Sinar Terang’ yang melambangkan Caksur Vijnana (Indera Penglihatan) kita, di dalam alam pemandangan ini, kita dapat melihat dengan mata telanjang segala sesuatu yang terjadi di seluruh penjuru. Misalnya kita ingin melihat riwayat seseorang di dunia fana, tentang keadaannya pada kelahiran yang lalu, atau beberapa kelahiran yang lampau, dengan sekejab mata kita akan tampak suatu kejadian si anu pada beberapa kelahiran yang lalu ia adalah seekor babi, kemudian bertumimbal lahir menjadi pembantu, tumimbal lahir lagi menjadi orang kaya, sampai menjadi jendral, menteri atau raja... , semuanya tampil ke depan mata kita satu per satu seperti film serial. Bahkan keadaan tanah suci, Buddha Ksetra, alam dewa dan lain-lainnya semuanya dapat dipantau di sini.

Pemandangan kedua disebut ‘Dunia Suara Gema’ yang melambangkan Srotra Vijnana (Indera Pendengaran) kita, dari alam kita dapat mendengar segala suara dari dunia di sepuluh penjuru. Di sini pendengaran kita menjadi sangat peka, suara dari jauh, suara semut pun dapat kita dengar dengan jelas, bahkan suara yang bising dan campuran dari beberapa suara dapat kita beda-bedakan terdiri dari suara apa saja. Kita pun dapat mendengar Sang Buddha sedang berkotbah di tempat jauh, sekarang Beliau sedang menguraikan Sutra apa?.. di bab apa?... kalimat apa? ... suaranya, intonasinya sangat jelas sehingga artinya dapat dimengerti dengan jelas.

Pemandangan ketiga disebut ‘Dunia Harum Semerbak’yang melambangkan Ghrana Vijnana (Indera Penciuman) kita, di dunia ini hidung kita menjadi sangat peka sekali, segala aroma bau setelah kita cium dengan hidung, kita segera dapat mengetahui beberapa wewangian yang terkandung di dalam bau itu. Misalnya dari bau wanita hamil, kita segera dapat mengetahui bayi di dalam kandungan itu bakal laki-laki atau perempuan. Dengan mencium sebatang logam alloy kita dapat mengetahui logam tersebut campuran emas, perak, besi, aluminium, dan lain-lain.

Pemandangan keempat disebut ‘Dunia suara Kecap’ yang melambangkan Jihva Vijnana (Indera Lidah), segala suara ataupun bahasa yang keluar dari mulut makhluk-makhluk di sepuluh penjuru, dari Buddha Dhatu sampai dengan Niraya Dhatu (neraka), dapat kita dengar dan mengerti dengan jelas.

Pemandangan kelima disebut ‘Dunia Tubuh Emas’ yang melambangkan Kaya Vijnana (Indera Penyentuhan), di dunia ini indera penyentuhan kita luar biasa pekanya, kita dapat membedakan segala sesuatu dengan menyentuh saja kita dapat mengetahui bentuk warna benda tersebut dengan jelas seolah-olah kita lihat dengan mata. Dengan rasa sentuh kita dapat merasakan beradanya para Buddha Bodhisattva di Buddha Ksetra di Sepuluh Penjuru. Misalnya Dvatrimsa (Tiga puluh dua bentuk) penjelmaan Kuan She Ing Phu Sat dapat kita lihat dengan indera penyentuhan.

Pemandangan keenam disebut ‘Dunia Batin’ yang melambangkan Kaya Vijnana (Indera Pengertian, Kesadaran), di dunia ini kita dapat membatin, mengetahui jalan pertapaan para Buddha di segala penjuru, dari masa manusia mereka, sampai mencapai Ke-Buddha-annya. Semua peristiwa Beliau tampil di alam batin kita, dan kami dapat mengetahui dengan jelas riwayat tumimbal lahir Beliau sampai beribu-ribu kali seperti gambar bioskop tampil di layar batin kita.

Pemandangan kedelapan, disebut ‘Dunia Luas Tanpa Batas’ yang melambangkan Alaya Vijnana (Indera Pengingat), alam ini luas mencakup ruang dan waktu yang tak terbatas. Segala peristiwa yang terjadi di trikurun waktu (masa lalu, masa sekarang, masa yad), di sepuluh penjuru dharmadatu, tidak ada sesuatupun yang tak dapat dilihat, diketahui.

PUSAT PAMERAN NEGERI TERATAI
Pada umumnya, penghuni-penghuni di Varga Tengah-Tengah, pada masa hidupnya di dunia fana, mereka cukup mengerti Dharma, selalu menghayati dan mengamalkan Dharma. Mereka tekun bertapa, rajin menjalankan kebaktian, serta berdana tanpa pamrih, maka mereka telah menanam bibit baik di Varga Tengah-Tengah, serta memupuk akar baiknya (Kusala Mula) dengan baik sehingga bunga teratainya bertumbuh dengan subur. Pendeknya, penghuni di Varga Tengah-Tengah baik dalam penghayatan ajaran Buddha, melakukan meditasi maupun dalam menjalankan pengamalan lebih maju dan rajin dari penghuni di Varga Bawah.

Di alam ini, gedung, pagoda, dan bangunan lainnya lebih banyak , lebih besar, dan lebih tinggi, serta lebih indah dan megah dari yang di Varga Bawah. Di sini setiap hari turun hujan bunga, dan penghuninya setiap hari memungut bunga-bunga yang indah itu untuk mempersembahkan kepada Para Buddha di Seluruh Penjuru. Bunga-bunga yang harum dan cantik itu entah berapa ribu kali lebih indah dari bunga-bunga di bumi. Alunan musik merdu, halus dan sentimental datang dari langit sungguh sulit melukiskan keindahan dengan kata-kata. Saya kutip beberapa kalimat dari Sutra sebagai berikut, saya kira paling sesuai dengan keadaan yang sebenarnnya, “Beribu-ribu jenis musik istana di dunia fana, tak dapat menandingi satu nada yang ada di Kerajaan Pemutar Roda Dharma. Beribu-ribu jenis musik di Alam Dewa Travastrimsas, tidak dapat menandingi satu nada musik dari Alam Dewa Mahasvara, dan beribu-ribu jenis musik di Alam Dewa Mahasvara, tidak dapat menandingi satu nada musik dari tujuh baris jajaran pohon ajaib di Sukhavati Loka!”

Tubuh penghuni di Varga Tengah-tengah bagaikan kristal berwarna merah emas yang memancarkan sinar kemerah-emasan pula. Mereka dapat mendatangi setiap Ksetra Buddha melakukan kebaktian kepada Para Buddha di sepuluh penjuru dengan sekejab mata saja. Dan kembali ketempat asalnya dengan sekejab mata pula. Andaikan pada masa hidupnya di dunia fana, tidak berbuat kebajikan, menimbun banyak jasa pahala, tidak mungkin mereka dapat lahir di alam yang sangat indah ini.

Mereka yang memperoleh pahala lahir di Varga Tengah-Tengah, boleh dikatakan delusi mereka hampir tidak ada. Dan selera makan mereka kecil sekali, tidak seperti mereka yang berada di Varga Tengah Bawah, mereka masih sering berkeinginan makan, makanan mereka adalah kue yang terbuat dari madu bunga. Jika meditasi mereka makin meningkat, makin kecil kebutuhan mereka terhadap makanan.

Di Varga Tengah-Tengah terdapat Pusat Pameran Negeri-Negeri Teratai yang memamerkan aneka cara Para Buddha menjalankan pertapaan mereka untuk mencapai ke-Buddha-an.

Gedung pusat pameran tersebut bertingkat-tingkat, setiap tingkat menampilkan riwayat perjuangan salah satu Buddha, mulai dari masa manusianya sampai beliau mencapai ke-Buddha-an. Misalnya di salah satu tingkat yang menampilkan riwayat Sang Buddha Amitabha, mulai dari masa hidupnya di dunia fana Beliau masih bernama Bhiksu Dharmakara dan Beliau berguru pada Lokesvararaja Tathagata.
Saat itu pintu dharma mana yang beliau tekuni, dan Pranidhana apakah yang diikrarkan, semuanya dapat kita lihat dengan mata kepala sendiri peristiwa yang sesungguhnya. Bahkan kita dapat menyaksikan peristiwa-peristiwa sekian ribu kali tumimbal lahir sebelum Beliau mencapai ke-Buddha-an, bila kita inginkan. Jita kita pergi ke lain tingkat kita dapat lihat riwayat hidup Bodhisattva Avalokitesvara (Kuan She Ing Phu Sa) pada setiap tumimbal lahirnya, serta bagaimana perjuangan-Nya untuk mencapai penerangan. Kita dapat menelusuri riwayat Buddha Sakyamuni, Buddha Bhaisajya, Buddha Samanthabhadra, Buddha Manjusri, dan lain sebagainya. Pada pokoknya di pusat pameran tersebut bagaikan ensiklopedi riwayat hidup yang lengkap dan terperinci para Buddha dan Bodhisattva, bahkan serba otomatis dan visualis.
:::

NEGERI TERATAI VARGA ATAS
BILA BUNGA BERKEMBANG MEKAR, BERJUMPALAH DENGAN BUDDHA


Meninggalkan Varga Tengah, kami memanjatkan mantra “Surangama Dharani”, Bunga teratai yang kami kendarai terbang kencang ke atas, badanku terasa makin membesar sampai sebesar ketika bertemu dengan Sang Buddha Amitabha.

Kuan She Ing Phu Sa menjelaskan, “Penghuni Varga Atas Atas pada masa hidupnya di dunia fana, mereka rajin bertapa, tekun menjalankan Sila Vinaja bersih suci bagaikan mutiara putih tanpa noda. Mereka memperdalam Ajaran Buddha, menjauhi/memutuskan Sepuluh Perbuatan Jahat, dan melakukan/mengembangkan Sepuluh Perbuatan Baik, mentaati petunjuk-petunjuk Pintu Dharma yang mereka anut, dan menyelaminya satu demi satu secara lahiriah maupun batiniah maju terus pantang mundur, sepuluh tahun bagaikan sehari, sehingga akhir hayatnya ditambah pula mereka banyak melakukan kebaikan yang terbentuk/nyata, misalnya berdana, menolong orang sakit, miskin, derita, dan lain sebagainya telah menanam banyak jasa pahala. Maka pada saat mereka melepaskan napas terakhirnya, bunga teratainya telah tumbuh dengan subur di Varga Atas dan segera berpenjelmaan teratai di sana.

Mereka yang di Varga Atas boleh dikatakan telah bersih dari polusi duniawi tanpa ternoda oleh delusi karma-karma seperti di Varga Tengah dan Varga Bawah. Mereka telah membersihkan Enam Debu Indra, telah mencapai Alam Bodhisattva, dapat menjelma sesuka hati, dan dapat mempertunjukkan Abbijna (kesaktian) dengan terampil. Para Bodhisattva berkumpul, mereka bisa bermain sesuka hati, ingin menjadi bunga, mereka semua menjadi bunga, menjadi pagoda, batu, pohon dan semuanya menjadi pagoda, batu, dan pohon.

Selanjutnya Kuan She Ing Phu Sa mengajak saya berkunjung ke kolam teratai. Kolam bunga Teratai di Varga Atas, betul-betul istimewa, luar biasa. Tepi-tepi kolam lebih bagus, lebih megah dari yang di Varga lainnya, dikelilingi baris-baris teratai yang segar semerbak di sekitar kolam yang menyejukkan hati. Pagoda-pagoda besar berdiri di tengah-tengah kolam bagaikan gunung menjulang tinggi, pagoda-pagoda tesebut berbentuk poligon memancarkan berjuta-juta sinar aneka warna. Di antara pagoda-pagoda dihubungi dengan jembatan-jembatan yang unik dan cantik sekali. Entah berapa luas kolam tersebut, bagaikan lautan yang tak dapat melihat ujung seberangnya. Di dalam kolam tidak hanya dihiasi berjuta-juta bunga teratai yang indah dan segar, juga dibayangi jutaan pemandangan indah. Di angkasa dipenuhi kanopi-kanopi Ratna yang bertatahkan beraneka macam intan permata berkilau. Setiap kuntum bunga teratai mempunyai mahkota (kelopak) bersap-sap yang tak terhitung banyaknya. Setiap sap mahkota mempunyai bangunan pagoda, teras veranda bertingkat dan lain sebagainya semuanya indah dan megah menakjubkan. Penghuni di sini semuanya berbadan kuning emas kristal, mengenakan baju anggun sekali yang dapat memancarkan sinar beraneka warna.

Tiba-tiba Kuan She Ing Phu Sa berkata, “Di sini ada seorang penghuni Bhiksu Yin Kwang (salah satu dari tiga Bhiksu agung tersohor di Tiongkok pada abad ke-20), apakah anda mengenal Beliau?”

“Di manakah Beliau sekarang? Sudah lama saya dengar nama besarnya, namun belum pernah menjumpainya.” Kujawab dengan spontan.

Seusai perkataanku, segera muncul seorang pemuda berumur sekitar 30 tahun di depan kami, dan sekonyong-konyong beliau berubah menjadi seorang Bhiksu Tua, bentuk asal Bhiksu Yin Kwang ketika di dunia fana. Kami bertemu dengan suasana yang sangat hangat dan gembira, seolah-olah reuni dua sobat lama yang sudah lama berpisah. Kami saling memberi salam hormat dengan beranjali, beramah-tamah mesra akrab sekali. Dengan mempercakapkan masalah-masalah di dunia fana, khususnya mengenai Agama Buddha di Tiongkok. Namun sayang, saya tidak dapat ingat pembicaraanya seutuhnya, ada sebagian telah lupa. Beliau berulang-ulang berpesan “Saya harap sesudah anda pulang ke dunia fana, tolong sampaikan pesanku kepada saudara-saudara se-Dharma, bahwa Sila Vinaya adalah sokoguru, guru sejati bagi para pengamal Dharma, para petapa. Jalankanlah dengan sungguh-sungguh Sila Vinaya, menghayati sutra setiap hari, memanjatkan nama Sang Buddha dengan tulus ikhlas apabila mempunyai waktu luang, selalu mengingat Sang Buddha setiap tindakannya. Sraddha (berkeyakinan) , Pranidhana (berikrar melakukan kebajikan), dan Samsakara (melaksanakan) adalah tiga persyaratan mutlak penting bagaikan tiga mata rantai untuk mencapai penerangan, jika mereka menjalankan 3 persyaratan itu dengan konsekuen, mereka pasti dapat lahir di Sukhavati loka..., janganlah cepat menyombongkan diri setelah memperoleh sedikit kenamaan, mengira dirinya sudah lebih pandai dari orang lain, lalu merubah-rubah Sila Vinaya yang ditentukan Buddha Sakyamuni dan para Sesepuh Agama Buddha dengan sesuka hati. Jaman sekarang banyak orang suka merubah Vinaya dengan dalil ‘pembaharuan’, ’modernisasi’, hanya untuk mencari kepoluleran, hal-hal demikian sungguh menyedihkan!”

Sepanjang perjalanan kami menuju istana besar bertingkat, kami berjumpa beraneka jenis burung yang langka beterbangan dan berkicau di dahan-dahan pohon emas berdaun ‘jade (giok)’. Kicauan burung, panjatan mantra serta nyanyian pujian menjalin menjadi perpaduan suara yang merdu. Di mana-mana ada bunga-bunga bulat yang bertumbuh subur, wewangi bunga segar menyemerbakkan setiap partikel udara, lentera-lentera mutiara, koral, kristal yang beraneka warna berbaris-baris, berjajar-jajar, memancarkan sinar macam-macam warna, sehingga mataku tak keburu menikmati keindahannya.

Di dalam istana dihiasi, didekorasi dengan luar biasa megahnya membuat kami terpukau sejenak. Pilar, dinding, pintu, jendela, lantai, dan langit-langit semuanya menyilaukan warna emas, perak, mutiara, koral, safir, dan lain sebagainya. Setiap benda di dalam aula istana memancarkan sinar sesuai dengan warna masing-masing. Khususnya lantai dan langit-langit memantulkan sinar benda lain menjadi berwarna-warni yang indah semarak. Saya mengikuti Kuan She Ing Phu Sa naik ke tingkat atas, di salah satu ruangan tersimpan banyak jenis cermin kristal dan bermacam-macam bentuk ada yang besar, ada yang yang kecil. Di antara cermin-cermin tersebut terdapat sebuah cermin yang paling unik, paling besar dan menonjol. Kuan She Ing Phu Sa memberitahukan, “Cermin ini lain dari pada yang lain, dapat mencerminkan Jati Diri setiap orang yang berdiri di depannya. Bersih atau tidaknya jati diri seseorang tidak bisa luput dari sorotan tajam dari cermin ini. Dengan kata lain, ternoda atau tidaknya jati diri seseorang akan terlihat jelas di dalam cermin ini.”

Di kedua sisi ruang ini terdapat dua baris kursi yang terbuat dari 7 macam intan manikam yang berkilau-kilau, dan berjajar dengan rapi sekali. Di atas sebuah meja terletak barang aneh yang tak tahu apa gerangan barang itu. Kuan She Ing Phu Sa seolah-olah tahu saya sedang lapar dan menawarkan, “Laparkah Anda?” “Ya, tetapi disini ada apa yang dapat dimakan?” saya jawab dengan spontan, karena saya betul-betul sudah lapar.” Makanan disini sama dengan apa yang ada di Varga Bawah dan Varga Tengah. Apa yang anda sedang inginkan akan segera tersajikan (secara otomatis) !” kata Kuan She Ing Phu Sa. [NOTE.7] “Bagus sekali, saya minta nasi putih dan sup sayur putih saja, lain tidak!” perkataanku belum selesai, hidangan nasi putih dan sup sayur putih telah terletak di atas meja. Saya menawarkan kepada Beliau, “Mari kita makan bersama-sama!” Beliau menjawab, “Kami disini (penghuni Varga Atas), pada umumnya, tidak makan, silahkan anda makan sendirian.”

Kebanyakan penghuni Varga Atas Atas, mereka telah mencapai ke-Bodhisattva-an, dan telah berkurang sekali gairah makannya, atau sama sekali tidak ada nafsu makan. Karena mereka sudah tanpa delusi, sudah bersih dari kebiasaan duniawi. Membandingkan diri dengan mereka, saya merasa malu, namun saya tetap makan sampai kenyang. Selesai makan saya letakkan mangkok dan sumpit di atas meja, dengan sekejap mata mangkok, piring, sendok, dan sumpit semuanya hilang tanpa bekas. Saya ternganga melihat kejadian tersebut “Mengapa Demikiran?” tanyaku.

Kuan She Ing Phu Sa menjelaskan, “Hal ini disebabkan delusi hidup sehari-harimu di dunia fana membuat anda merasa lapar dan ingin makan. Dan seperti anda sedang bermimpi merasa peristiwa itu serba nyata dan ada sungguh-sungguh, kemudian anda bangun dari mimpi dengan segera semuanya lenyap tanpa bekas. Waktu anda berangan-angan makan, maka makanan segera datang. Sesudah kenyang, angan-anganmu terhadap makanan hilang, maka semua makanan serta alat-alatnya ikut hilang juga!”

:::
Saya mengangguk-anggukkan kepalaku menyatakan telah mengerti. Beliau menegaskan pula, “Jika jati dirimu bersih, tentu tidak ingin makan, tidak ingin sesatu yang duniawi. Seperti ruang hampa tanpa sesuatu. Jika angan-angan timbul bagaikan angkasa kosong bersih mulai berkabut dan bermega. Renungkanlah perumpamaan ini, lambat laun anda akan mengerti dan akan bermanfaat bagi anda mencapai penerangan.”

Mereka yang lahir di Varga Atas-Atas telah meninggalkan semua delusi karma di dunia fana, telah mencapai pahala ke-Bodhisattvaan yang tidak akan mundur lagi. Apa yang mereka sekarang mengalami adalah alam hakiki. Dengan selintas saja, mereka atas bantuan kekuatan Purva-Parinidhana Sang Amitabha dapat memperoleh bunga-bunga indah, buah-buahan segar, dan sesajian yang lain menurut keikhlasan hatinya untuk dipersembahkan kepada Para Buddha di sepuluh penjuru. Jika pada saat khotbah tiba, dengan serentak, beribu-ribu juta Bodhisattva hadir di Aula, ada yang duduk di atas bunga teratai, ada di ruang atas aula istana, ada yang di beranda, di pagoda, di atas pohon yang tujuh baris berjajar-jajar, mereka mendengarkan Buddha Amitaba berkotbah, tanpa ada satu yang meninggalkan tempat mereka.

Saya bertanya kepada Kuan She Ing Phu Sa, “Mereka yang lahir di Sukhavati Loka pasti banyak berasal dari dunia fana (Saha Loka), mengapa saya tidak melihat mereka bersama dengan sanak keluarganya?”

Beliau menjelaskan , “Dalam sekeluarga jarang terdapat dua orang atau lebih yang bersamaan lahir di Sukhavati Loka, karena tingkat kesadaran mereka berbeda masing-masing. Orang dunia fana kebanyakan terselubung oleh delusi karma atau polusi yang tebal sekali, sehingga mereka sangat sulit melihat keadaan yang hakiki/sejati. Jika mereka memusatkan pikirannya, rajin menyebut, mengingat, nama Sang Buddha dengan ikhlas, maka delusi/polusi mereka akan kurang atau bersih, dan hati mereka akan bersih tanpa noda bagaikan angkasa terang hampa, dengan demikian mereka yang di dunia fana juga dapat melihat Sukhavati loka dengan jelas.”

Dengan kesempatan ini, saya mohon petunjuk Beliau, “Cara bagaimanakah yang paling baik dan tepat guna untuk memanjatkan mantra dan doa?”

“Bertapa (pembersihan karma buruk/ delusi) dan Samadhi harus dilakukan berdampingan. Yaitu disamping menyebut/mengingat Buddha, kita harus selalu mengintrospeksi diri, inilah yang disebut “Dhyana Tanah Suci.”

“Tolong jelaskan bagaimana cara melakukan Dhyana Tanah Suci tersebut.” mohonku.

Demikian petunjuk Beliau, “Siswa-siswa yang melakukan kebaktian bersama boleh dibagi menjadi dua kelompok (menurut tata cara sekte Liturgi/Tanah Suci). Kelompok A dan kelompok B bergilir memanjatkan mantra dan doa. Misalkan sesudah Kelompok A memanjatkan kalimat 'Namo Amitahaya' dua kali, kemudian kelompok B meneruskan dua kali. Dan kelompok A yang sedang menunggu giliran mendengar dengan seksama, melafalkan, dan menghayati dalam hati. Sebaliknya bila Kelompok B sedang menunggu giliran juga melakukan hal yang sama, Dengan demikian memperoleh dua manfaat, kesatu dapat mengurangi kelelahan, kedua suara mantra berkumandang terus tanpa terputus-putus. Lagi pula pendengaran telinga kita akan dilatih menjadi lebih peka, telinga kita mendengar, sama dengan hati kita ikut membaca, menghayati. Melakukan pembersihan karma ucapan, sekaligus pembersihan karma pikiran, lambat laun jati diri/sifat ke-Buddha-an kita akan timbul. Hening akan melahirkan ketenangan, dan ketenangan akan melahirkan kebijaksanaan.”

“Waktu tidak banyak lagi, mari kita ke Pagoda Amitabha/Pagoda Teratai.” desak Kuan She Ing Phu Sa.

Kita terbang melewati beberapa bangunan bertingkat, dan beberapa pucuk lancip pagoda. Tak lama kemudian, kita telah tiba di kaki sebuah pagoda raksasa yang luar bisasa besarnya, berdiri dengan perkasa di depan kita, bagaikan gunung Kun Lun di Tiongkok yang tinggi dan besar. Pagoda ini entah ada beberapa ribu tingkat (diperkirakan paling sedikit ada beberapa puluh ribu tingkat), dan berbentuk poligon yang entah ada berapa sudut/ sisinya, seluruh pagoda tembus cahaya bagaikan kristal berwarna kuning emas yang memancarkan berjuta sinar cahaya emas. Dari dalam pagoda tersiar suara redup nyanyian 'Namo Amitabha'. Dua bait dari awal seolah-olah memohon pertolongannya, dan bait yang kedua dengan suara lantang dan semangat, namun intim dan penuh kasih sayang.

Pagoda Teratai tersebut adalah tempat tamasya (bermain) khusus bagi beribu juta penghuni Varga Atas Tengah. Pagodanya sangat besar, besarnya tidak dapat dibayangkan oleh orang bumi, katanya ada beberapa ribu kali besar dari bumi, maka tingginya juga tidak dapat dibayangkan. Di dalam pagoda terdapat macam-macam istana, masing-masing mempunyai warna tersendiri dan memancarkan sinar sesuai dengan warna masing-masing, semuanya tembus cahaya. Penghuni Varga Atas Tengah yang bertamasya ke sini dapat menerobos dinding dengan bebas keluar masuk istana, tanpa sedikit hampatan pun. Naik turun lantai tingkatan pun mereka menereobos lantai dengan sebebas-bebasnya. Mereka dapat bergerak sesuka hatinya, hati ingin naik segera naik, hati ingin turun ke bawah, segera turun ke bawah. Niat hati mereka yang memegang kendali segala gerak-geriknya. Asal ada selintas angan-angan di hati mereka, mereka segera mencapai pada tujuan walaupun tempatnya jauh tak terbayangkan. Di dalam pagoda teratai boleh dikata serba ada, serba lengkap. Di sana kita dapat memantau seluruh Dharma Dhatu, termasuk Padma Ksetra (Negeri-negeri Buddha), serta keadaan, tata hidup makhluk-makhluk yang menghuni di alam masing-masing. Pemandangan setiap Padma Ksetra yang unik dan super mengagumkan, sungguh tidak dapat dilukiskan dengan kata dan tulisan bahkan hanya sepersepuluh ribu bagian saja. Penghuni di Varga Atas Tengah bila ingin berkunjung ke salah satu Padma Ksetra dari berjuta miliar banyaknya, yang jaraknya sampai jutaan cahaya tahun, hanya dalam sekejab mata saja sudah sampai pada tujuan yang diinginkan.

Memasuki Pagoda Teratai, kita seolah-olah naik lift dapat naik ke atas dengan sendirinya setingkat demi setingkat, kita menerobosi setiap lantai kristal tanpa halangan apapun. Terlihat setiap lantai ada banyak orang sedang rajin menyebut nama Buddha, semuanya laki-laki berumur sekitar 30 tahun. Para penghuni di setiap tingkat mengenakan seragam lain daripada yang lain, kami kira-kira menjumpai lebih dari 20 macam warna seragam yang berbeda-beda. Namun tidak menjumpai seorang perempuan pun. (NOTE.8) Semua laki-laki duduk tegak di atas alas teratai memanjatkan doa.

Kuan She Ing Phu Sa berkata, “Jadwal hidup sehari-hari di sini dibagi 6 waktu, 2 waktu untuk membaca sutra dan memanjatkan sutra dan mantra, 2 waktu untuk meditasi, 2 waktu lagi untuk istirahat, saat ini adalah waktu belajar, menjalankan kebaktian.”

Kami memasuki satu ruangan yang berada di salah satu tingkat di pertengahan pagoda Teratai. Terlihat mereka duduk berjajar terbagi dua kelompok, masing-masing kelompok mengambil tempat salah satu sisi dari dua sisi ruangan tersebut. Kelompok A dan Kelompok B duduk berhadapan. Mereka membaca Sutra diiringi dengan suara genta genderang, ketukan, dan lain-lain, namun tidak terlihat alat musik sepotongpun. Mereka duduk diatas alas yang sangat indah sekali, dipimpin oleh seorang Bodhisattva yang duduk di tengah-tengah mereka. Mereka yang membaca dengan baik, di sekitar bagian kepalanya memancarkan Candra Prabu (sinar bulan) yang terang benderang, dan setiap utas sinar menjelma menjadi seorang Buddha, sehingga di sekelilingnya dikitari bayangan Buddha-Buddha yang tak terhitung banyaknya. Seperti sinar emas Candra Prabu Sang Buddha Amithaba beterbangan mengitari aula dan pucuk lancip pagoda, berkicauan, menyanyi mengiringi suara mantra dan doa dengan merdu dan serasi sekali. Di aula dan pagoda dihiasi lampu mutiara, lampu kristal beraneka ragam, dan warna semuanya memancarkan sinar indah yang menyenangkan. Diantaranya ada sejenis lentera bulat dapat berubah-rubah bentuk dan warnanya. Pendek kata tak habis-habis diceritakan dan tak ada kata yang cocok untuk melukiskan. Acara puja bhakti diselenggarakan di sini, karena di sini kita dapat melihat dengan jelas seluruh alam semesta, baik makhluk-makhluk di tiga alam derita, dunia fana, dewa-dewi yang riang gembira di alam Dewa, maupun Para Buddha di Buddha ksetra yang berjuta-juta banyaknya. Pemandangan yang menakjubkan satu demi satu tampil di depan kita.

PETUNJUK DARI BUDDHA AMITABHA

Sesudah melewati 3 Varga (9 tingkat) Sukhavati Loka, kami menghadap Sang Buddha Amithaba. Saya segera bernamaskara kepada Sang Amithaba 3 kali, selanjutnya saya mohon petunjuknya dengan ikhlas.

Beliau bersabda, sekata demi sekata, dengan seksama dan serius, “Sesungguhnya, sifat ke-Buddhaan terkandung pada setiap makhluk, tanpa perkecualian baik yang tinggi maupun rendah derajatnya. Oleh karena Avidya (kegelapan) maka pandangan mereka terbalik, dan kesadaran tersesat, yang palsu dianggap benar, yang khayal dianggap nyata. Maka tertaburlah bibit yang buruk, bibit menghasilkan buah, buah mengandung bibit baru, lahir mati, mati lahir membentuk siklus delusi (samsara) berputar tiada henti-hentinya. Sedih-pedih, derita dan sengsara menyiksa mereka silih berganti. Dengan 48 Purva Pranidhana, saya telah berikrar akan menolong mereka di alam sengsara tanpa terkecuali. Kepada mereka yang betul-betul dapat menunaikan tiga persyaratan, yaitu: Sin (Sradha/keyakinan), Yuen (Pranidhana/tekad), Sing (Smskara/ jalani). Dengan melatih diri untuk bertindak, mengucap dan berpikir dengan konsekuen dari saat ke saat, sampai akhir hayat mereka, mereka cukup mengucapkan sepuluh panjatan 'Namo Amitabhaya' dengan konsentrasi dan penuh ikhlas, mereka pasti akan terlahir di Sukhavati Loka.”

Saya bernamaskara kepada Beliau, memohon melanjutkan petunjuk Beliau. Beliau melanjutkan:
“Pertama, anda mempunyai hubungan erat dengan dunia fana, maka anda berkewajiban menyeberangkan Ayah Bunda, saudara-saudara, famili, dan teman sahabat anda yang sekarang dan beberapa puluh tumimbal lahir yang lampau. Anda ditugaskan mengajari mereka tentang 'Dhyana Tanah Suci (Sukhavati Loka)', dan mengajari mereka betul-betul untuk mentaati sila Vinaya.”

“Kedua, anda diharapkan menjaga kerukunan antar agama, apalagi antar mazhab-mazhab/ sekte-sekte seagama. Mempererat kerjasama antar agama dan antar sekte. Antar umat berlainan agama atau sekte jangan saling membenci, merongrong, dan memfitnah, jangan selalu menganggap dirinya murni, dan orang lain tidak, memandang diri besar, orang lain kecil, dirinya tinggi orang lain rendah. Jangan suka mengorek-ngorek kesalahan/kelemahan orang. Hal-hal demikian tidak dibenarkan. Buddha Dharma maha luas tiada batasnya, mempunyai 84.000 pintu Dharma, dan setiap pintu Dharma mempunyai aspek kebenarannya, dan aspek positifnya. Mereka yang menekuni dan mentaati ajaran dari salah satu pintu dharma pasti akan membimbing dari arah yang sesat ke arah yang benar/tepat, yang negatif dapat dirubah menjadi positif, Sang Mara jika sudah sadar akan menjadi Buddha. Yang cita-citanya kecil/kerdil dapat berubah menjadi cita-cita agung luhur. Antar agama atau sekte harus saling bertoleransi, saling membantu, saling mencintai, meluruskan apa yang bengkok, menegakkan apa yang miring, pada hakekatnya, hal tersebut adalah misi luhur dari umat Buddha dan kebijaksanaan umat Buddha.”

Setelah berhenti sejenak Beliau bersabda lagi, “Baiklah, sekarang anda boleh pulang.”
Berulang-ulang saya bernamaskara kepada Amitabha Buddha menyampaikan rasa terima kasihku sedalam-dalamnya.

Sepanjang perjalanan pulang, dua kuntum bunga teratai di atas kedua kakiku membawa saya terbang dengan cepat, sebentar saja 'Pintu alam dewa selatan' telah kutinggalkan, dan tiba di Istana Arahat Langit Tengah. Saya berhenti memanjatkan mantra, dan dengan sekejab teratai di bawah kaki lenyap. Seorang bocah menyuguhi kami secangkir air putih, saya segera habiskan air tersebut. Lalu seorang biarawan menunjukkan kepada saya sebuah kamar agar saya istirahat, entah mulai kapan saya tertidur pulas.

Kembali ke dunia fana, di Goa Maitreya di Gunung 9 Dewa

Saat saya terbangun semua pagoda, kuil, teras, istana, para suci, para Bodhisattva, dan Buddha, semuanya hilang tanpa bekas. Menurut ingatanku perjalananku pergi dan kembali dari Sukhavati Loka hanya sekitar 20 jam. Pemandangan dan peristiwa yang memukau masih seperti baru dan sangat jelas di depan mata. Saat ini bukanlah saya di dalam istana megah yang memancarkan sinar emas, melainkan saya di kelilingi gelap gulita. Walaupun saya telah mengangkat tanganku di depan mata, saya tidak dapat melihat lima jariku. Saya merasa duduk sendirian di sebuah batu. Tak lama kemudian fajar menyingsing. Sinar surya menembus awan di tepi langit, keadaan badan saya telah pulih seperti sedia kala.

Saya bernamaskara selama dua hari dua malam, berteriak, melompat-lompat, menangis, namun tanpa sedikitpun jawaban dari luar.

Selangkah demi selangkah saya turun dari gunung, kira-kira telah berjalan 10 kilometer, sampai pada jalan Je Sue (air Merah), terlihat banyak pejalan kaki lalu lalang. Saya bertanya kepada salah seorang yang lewat, dan terperanjat oleh jawabannya. “Hari ini tanggal 8 Mei 1973.” Dihitung mulai tahun 1967, saya meninggalkan dunia fana sampai dengan pulang kembali ditempuh lebih dari 6 tahun 5 bulan lamanya.

Mereka yang insaf akan kebenaran adalah Bodhisattva.
Mereka yang sesat di keduniawian adalah manusia biasa,
Yang beruntung mendengar Ajaran Kebenaran Sang Buddha,
Bertalian erat dengan sebab masa-masa yang lampau.
Hanya yang berjodoh dengan Sang Buddha dapat diseberangkan.

Mewariskan cita-cita luhur Master Si Yin yang karuna,
Kami berikrar menyebarkan Buddha Dharma
Ke setiap pelosok di Dunia Saha.
Kami bertekad menyeberangkan mereka yang membutuhkan bantuan
Dari alam sengsara ke pantai bahagia
Semoga semua jasa pahala kami,
Dilimpahkan kepada setiap makhluk yang menderita,
Agar mereka bersama-sama kami,
Semuanya mencapai ke-Buddha-an.


-- The End --
__________________
Negeri-Buddha yang satu terbuat dari tujuh permata, negeri-Buddha yang lain seluruhnya penuh dengan bunga teratai; negeri-Buddha yang satu seperti istana dewa Mahesvara, negeri-Buddha yang lain menyerupai cermin kristal, di mana berbagai negeri-buddha di sepuluh penjuru terpantulkan di sana.
(Amitayur Dyana Sutra)

Sumber artikel: http://www.wihara.com/forum/showthread.php?t=1125

NOTES:
0. Sebagai pelengkap bacaan silahkan membaca “Amitabha Sutra” di http://groups.yahoo.com/group/parasohib/message/666
“Berdasarkan apa yang disebut Sang Buddha dalam Amitabha Sutra, “... Tujuh susun jala, tujuh baris jajaran pohon mustika...” adalah pemandangan alam ini.” (NOTE.0)
Telingaku mendengar banyak suara percakapan, tetapi saya tidak mengerti semuanya. “Amitabha Buddha mengerti semuanya..” kata Bhiksu Yen Kwan. Di perjalanan saya jumpai banyak pagoda-pagoda tinggi yang terbuat dari 7 jenis mustika, bersinar samar-samar. Kami berjalan maju terus, akhirnya tiba di depan sebuah gunung emas yang luar biasa besarnya, entah berapa ribu kali lebih besar dari Gunung Oh Mei di Tiongkok.

Kutipan dari buku Zhuan Falun:
dalam agama Buddha ada sebuah buku kecil yang berjudul “Kisah Perjalanan ke Barat menuju Dunia Sukhavati”, dikisahkan ada seorang biksu bermeditasi berlatih Gong, ketika Yuanshen (jiwa prima)-nya sampai di Dunia Sukhavati telah dapat melihat pemandangan di tempat itu, setelah berputar-putar satu hari, sekembalinya ke dunia manusia enam tahun telah berlalu. Apakah dia sudah melihat? Sudah melihat, namun yang terlihat bukan wujud yang sejati. Mengapa demikian? Karena tingkatnya kurang, jadi manifestasi Fa Buddha hanya boleh diperlihatkan padanya sesuai dengan keberadaan tingkatnya, karena dunia semacam itu adalah manifestasi dari struktur Fa, jadi dia belum dapat melihat wajah yang asli. Menurut saya, tidak ada Dharma yang definitif adalah bermakna semacam ini.



1. Beda waktu
, menurut perasaanku kurang lebih 20 jam. Tetapi sesungguhnya mulai dari saya meninggalkan dunia sampai dengan saya kembali di dunia ini adalah selama lebih dari 6 tahun 5 bulan. (NOTE.1)
kutipan kisah: “Menyelinap ke Berbagai Dimensi, buku Petugas Survey Dunia Roh, kisah ke-22
<< Sewaktu saya membaca buku buku klasik, saya juga pernah menemukan kisah kisah "penyelinapan ke dimensi lain". Salah satunya adalah sebagai berikut:
Ada seorang pria bernama Si An yang pergi mendaki gunung untuk pesiar. Saat itu ada kabut tebal di atas gunung yang membuat segala sesuatu terlihat kabur. Setelah mendaki lebih tinggi lagi, Si An tiba tiba mendapatkan bahwa pemandangan telah berubah total. Apa yang dilihatnya sungguh bukan dunia manusia. Ada banyak bunga unik dan tanaman aneh yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Kemudian, ia melihat sebuah pohon besar yang tingginya beberapa meter, dengan bunga bunga merah di seluruh cabang dan ranting pohon. Putik putik bunga bunga itu semuanya putih mengkilap seperti mutiara. la memetik salah satunya. Kagetnya, ternyata itu benar benar mutiara. Kemudian, ia melihat jauh di bawah lembah yang ditutupi awan tipis yang mengambang -- ada semacam sinar yang berkelap kelip. la berjalan kesana dan mendapatkan ada 2 kakek sedang main catur. Si kakek melihat Si An datang namun tidak menyapa sama sekali. Kedua kakek itu terus berkonsentrasi pada permainan catur. Si An berdiri disamping mereka, menonton. Sewaktu permainan catur selesai, si kakek bertanya kepada Si An, "Kamu berasal dari mana?", Si An menjawab, "Saya tersesat sampai kesini."
Si kakek berkata, "Ini bukan dunia manusia. Kau lebih baik tidak tinggal disini lebih lama lagi. Saya akan kirim kau kembali ke dunia mu."
Kedua kakek itu membawa Si An ke sebuah tempat. Si An merasakan awan awan berkumpul di kaki nya yang mengangkatnya ke atas dan mendaratkannya di sebuah tanah datar yang ternyata merupakan jalan keluar dari gunung itu. (… berlanjut di bawah…}


2. Memasuki alam yang berbeda
kutipan kisah: “Menyelinap ke Berbagai Dimensi, buku Petugas Survey Dunia Roh, kisah ke-22
{..lanjutan..} Sewaktu Si An tiba di rumah nya, istri nya kaget. Si An juga sama kagetnya. Sewaktu Si An meninggalkan rumah, istri nya masih berusia 20an, tapi sekarang istrinya sudah berusia 70an, sudah menjadi nenek tua. Sebaliknya, Si An masih terlihat muda seperti biasa di usia 30an. Keduanya menangis.
Si istri berkata, "Kau pergi mendaki gunung, tapi tidak kembali selama 50 tahun. Semua orang bilang kau sudah mati."
Si An mengeluarkan mutiara dari kantong baju nya. Mutiara itu sungguh besar, bersinar terang sekali. Sungguh tak dapat ditemukan di dunia ini.
Akhirnya, Si-An sadar bahwa ia telah terselip ke dunia para dewa. Ke 2 kakek itu sesungguhnya adalah dewa dewa. Semenjak saat itu, Si-An mencoba mendaki gunung itu berulang kali, namun betapapun ia berusaha keras, ia tidak dapat menemukan tempat yang pernah ia kunjungi itu.>>

3. Kehidupan alam Dewa
“Orang di Alam Dewa hidup mewah dan santai. Mereka tidak suka kerja keras, jarang melakukan kebaktian, tidak suka mempelajari Dharma, seperti orang kaya di Bumi, lupa sembahyang, lupa melakukan kebaikan, apalagi bertapa menjadi biarawan. Mereka hanya tahu bersuka ria menikmati kesenangan pada saat makmur sekarang. [NOTE.3] Mereka lupa mereka masih belum lepas dari Triloka.
*Kutipan dari buku Zhuan Falun: {{jiwa manusia selayaknya untuk balik kembali, sebaliknya tidak layak tetap berada di tengah manusia biasa. Seandainya umat manusia tidak punya penyakit apa pun, dapat hidup dengan menyenangkan, lalu sekiranya diminta menjadi dewa, anda pun tidak akan mau. Bila tidak ada penyakit, tidak ada penderitaan juga, ingin apa pun selalu ada, alangkah indahnya, benar-benar sebuah surga dewata.}}

*Kutipan dari buku Zhuan Falun: {{Pada aliran Buddha, yang dimaksud dalam perkataan menyelamatkan segala makhluk hidup secara universal adalah mengangkat anda dari kondisi manusia biasa yang paling menderita, dibawa naik ke tingkat tinggi, sehingga selamanya tidak akan menderita lagi, dan telah lepas bebas, inilah maksud ajaran-Nya itu. Bukankah Sakyamuni juga menyebut Nirvana di seberang sana? Ini sebenarnya yang Dia maksud dengan menyelamatkan segala makhluk hidup secara universal. Misalnya anda sudah menikmati kebahagiaan di tengah manusia biasa, memiliki berlimpah uang, tempat tidur anda di rumah pun beralaskan uang, tidak punya kesusahan apa pun, maka seandainya diminta untuk menjadi dewa anda pun tidak akan mau. Selaku seorang praktisi Xiulian, jalan hidup anda dapat diubah, juga hanya dengan Xiulian barulah dapat diubah.}}


4. x
Tidak ragu lagi, kami telah tiba di pusat Sukhavati Loka. Tiba-tiba Bhiksu Yen Kwan menunjuk ke depan dan berkata, “Kita sudah tiba, di depanmu adalah Amitabha Buddha, Lihatlah Anda!” Saya bertanya dengan heran, “Di mana? Saya hanya melihat sesosok tembok besar di hadapan saya.”

Sekarang engkau sedang berdiri di pucuk ujung jari kaki Buddha Amitabha!” Jawaban Bhiksu Yen Kwan yang tak terduga, sangat mengejutkan saya. (NOTE.4)Saya memohon, “Badan sang Buddha begitu besar dan tinggi, apa mungkin saya dapat melihat Beliau?”
Sesungguhnya, keadaanku sekarang seperti seekor semut kecil, berdiri di bawah pencakar langit Gedung Empire Amerika. Biar bagaimanapun saya mendongak kepalaku tak mungkin bisa melihat seluruh gedung pencakar langit itu.
Bhiksu Yen Kwan menganjurkan saya cepat berlutut dan memohon berkah dari Sang Buddha Amitabha. Dengan tulus dan ikhlas saya mohon berkali-kali, tiba-tiba badan saya terus berkembang menjadi besar, sehingga sampai setinggi pusar Beliau.
Dengan ketinggian badan saat itu, barulah saya dapat melihat sang Buddha Amitabha sesungguhnya, betul-betul Beliau berada di depan mata saya Beliau berdiri di sebuah singgasana teratai, entah berapa jumlah kelopaknya, bersusun bertingkat-tingkat. Setiap kelopak mempunyai sebuah alam tersendiri, ada istana, pagoda, dan lain-lainnya memancarkan sinar beribu-ribu warna. Dan setiap utas cahaya menjelma seorang Buddha duduk di tengah lingkaran cahaya emas.

5. Daqoiq-ul Akbar ; rambut malaikat Mikail yang dapat menyerap semua air sesamudera
Pada saat ini, Bhiksu Yen Kwan telah kembali ke bentuk semula-Nya, Kwan Se Ing Phu Sa. Seluruh badan beliau tembus pandang, berwarna keemasan, jubahnya memancarkan beribu-ribu jenis cahaya, tidak jelas Beliau laki-laki atau perempuan. Tinggi badan Beliau saat ini lebih tinggi dari saya, kira-kira setinggi pundak Sang Buddha Amitabha.

Saya berdiri ternganga melihat peristiwa yang unik dan luar biasa ini, tercengang dan berbisu seribu kata. Jika saya diharuskan melukiskan atau menceritakan keadaan saat itu dengan terinci, mungkin membutuhkan waktu 7 hari 7 malam lamanya. Khusus melukiskkan tanda fisik Sang Buddha Amitabha yang sangat istimewa dan ajaib saja waktu setengah hari tidak akan cukup. Misalnya, mata Beliau yang seluas tujuh samudra di bumi kita. (NOTE.5)


6. Pada alam yang berbeda Sutta yang sama namun berbeda kalimat2nya
Setelah saya mendengar kata-kata yang Beliau kutip dari Sutra Sad Dharma Pundarika berbeda dengan Sutra Sad Dharma Pundarika Sutra yang saya baca di dunia fana, [NOTE.6] saya lalu bertanya kepada Kuan She Ing Phu Sa mengenai keraguanku. Beliau menjelaskan, “Sutra Sad Dharma Pundarika sutra di bumi mienggunakan kata-kata dan contoh-contoh yang mudah dimengerti oleh orang di bumi, sedangkan sutra Sad Dharma Pundarika di sini lebih mendalam, namun bagi penghuni Sukhavati Loka yang pengetahuannya lebih luas malahan lebih mudah dipahami. Biarpun penggunaan kata-kata berbeda-beda, namun arti yang terkandung sama. Hal ini sama dengan Alam Dewa yang tidak mengerti Alam Arahat, Arahat tidak mengerti Alam Bodhisattva, dan Bodhisattva tidak memahami alam Buddha.

7. Di alam suci, apa yang dikehendaki semua tersedia; semuanya adalah ilusi belaka
Makanan disini sama dengan apa yang ada di Varga Bawah dan Varga Tengah. Apa yang anda sedang inginkan akan segera tersajikan (secara otomatis) !” kata Kuan She Ing Phu Sa. [NOTE.7] “Bagus sekali, saya minta nasi putih dan sup sayur putih saja, lain tidak!” perkataanku belum selesai, hidangan nasi putih dan sup sayur putih telah terletak di atas meja
Saya menawarkan kepada Beliau, “Mari kita makan bersama-sama!” Beliau menjawab, “Kami disini (penghuni Varga Atas), pada umumnya, tidak makan, silahkan anda makan sendirian.”

Kebanyakan penghuni Varga Atas Atas, mereka telah mencapai ke-Bodhisattva-an, dan telah berkurang sekali gairah makannya, atau sama sekali tidak ada nafsu makan. Karena mereka sudah tanpa delusi, sudah bersih dari kebiasaan duniawi. Membandingkan diri dengan mereka, saya merasa malu, namun saya tetap makan sampai kenyang. Selesai makan saya letakkan mangkok dan sumpit di atas meja, dengan sekejap mata mangkok, piring, sendok, dan sumpit semuanya hilang tanpa bekas. Saya ternganga melihat kejadian tersebut “Mengapa Demikiran?” tanyaku.

Kuan She Ing Phu Sa menjelaskan, “Hal ini disebabkan delusi hidup sehari-harimu di dunia fana membuat anda merasa lapar dan ingin makan. Dan seperti anda sedang bermimpi merasa peristiwa itu serba nyata dan ada sungguh-sungguh, kemudian anda bangun dari mimpi dengan segera semuanya lenyap tanpa bekas. Waktu anda berangan-angan makan, maka makanan segera datang. Sesudah kenyang, angan-anganmu terhadap makanan hilang, maka semua makanan serta alat-alatnya ikut hilang juga!”

Saya mengangguk-anggukkan kepalaku menyatakan telah mengerti. Beliau menegaskan pula, “Jika jati dirimu bersih, tentu tidak ingin makan, tidak ingin sesatu yang duniawi. Seperti ruang hampa tanpa sesuatu. Jika angan-angan timbul bagaikan angkasa kosong bersih mulai berkabut dan bermega. Renungkanlah perumpamaan ini, lambat laun anda akan mengerti dan akan bermanfaat bagi anda mencapai penerangan.”

8. Semua penghuninya laki-laki
Para penghuni di setiap tingkat mengenakan seragam lain daripada yang lain, kami kira-kira menjumpai lebih dari 20 macam warna seragam yang berbeda-beda. Namun tidak menjumpai seorang perempuan pun. (NOTE.8) Semua laki-laki duduk tegak di atas alas teratai memanjatkan doa.


referensi:

Sent: Tuesday, January 06, 2009 11:51 AM
Subject: [parasohib] Kisah Perjalanan Ke Surga Sukhavati - [2/2]
http://groups.yahoo.com/group/parasohib/message/663


Didownload pada Selasa Wage, 6 Jan 2009

Kisah Perjalanan ke Surga Sukhavati (1/2)

Ceramah yang diberikan oleh Biksu Cuan Cing
Aula Nan Hai Pu Tuo San, Singapore pada April 1987

Para Bhiksu, para Pemuka masyarakat dan para hadirin sekalian:
Hari ini kita dapat bertemu dan berkumpul di sini, berkat rahmat Buddha dan karena kita semua mempunyai hubungan erat dengan Buddha, dan pertalian ini telah kita pupuk sejak kelahiran kita yang lalu bahkan beberapa kelahiran yang lalu, maka hari ini kita memperoleh kesempatan bersua, bertatap muka.

Dengan kesempatan ini saya akan menceritakan pengalaman diriku di Ci Le Se Cie (Surga Sukhavati), dan semua yang saya lihat dan dengar di Surga Sukhavati akan saya sampaikan kepada para hadirin semuanya.

Yang akan saya bicarakan hari ini dapat disimpulkan dalam 5 point sebagai berikut:

1.Bagaimana saya dapat pergi dan sampai di Surga mengapa saya memperoleh kesempatan ke Surga Sukhavati? Lamanya saya berkunjung di Surga Sukhavati, dari awal sampai pulang, menurut perasaanku kurang lebih 20 jam. Tetapi sesungguhnya mulai dari saya meninggalkan dunia sampai dengan saya kembali di dunia ini adalah selama lebih dari 6 tahun 5 bulan. (NOTE.1)

2.Dalam perjalanan menuju ke Surga Sukhavati, terlebih dahulu saya singgah di Gua Arahat, Khayangan Trayastrimaas, Khayangan Tusita, terakhir sampai di Surga Sukhavati. Surga Sukhavati terbagi 3 tingkat yaitu: Teratai Atas, Teratai Tengah, Teratai Bawah, lalu masing-masing tingkat terbagi lagi menjadi sub bagian, secara terinci terbagi 9 tingkat alam. (9 tingkat alam yaitu: 9 negeri teratai, 9 padma ksetra terinci sebagai berikut: Varga Atas Atas, Varga Atas Tengah, Varga Atas Bawah, Varga Tengah Atas, Varga Tengah Tengah. Varga Tengah Bawah, Varga Bawah Atas, Varga Bawah Tengah, Varga Bawah Bawah).

3.Manusia yang bagaimanakah yang akan lahir di tingkat mana di Surga Sukhavati? Dengan kata lain, manusia di dunia ini dengan kriteria apa, sesuai dengan jasa dan perbuatannya/karmanya, kelak akan menempati di Varga mana di Surga Sukhavati? Serta akan saya uraikan keadaan di setiap Varga. Umpanya bentuk tubuh dan ciri khas dari penghuni di masing-masing Varga, tentang sandang pangan, tata hidup, luas dan tingginya di masing-masing Varga.

4.Penghuni di Surga Sukhavati dari Varga rendah ingin naik ke tingkat Varga yang lebih tinggi, usaha atau kebaktian apa yang harus mereka lakukan? Setingkat demi setingkat, dari bawah ke atas, sehingga mencapai Kebuddhaan, penghuni disana tetap harus berusaha maju sampai ke Varga tertinggi.

5.Ada kenalanku yang menjadi penghuni di sana berpesan dan mengirim salam serta nasehat kepada familinya di dunia fana, ketika saya pamit pulang ke dunia.
::::
KEMUKJIJATAN DI PERJALANAN
(KWAN ING PHU SA MEMBAWA SAYA KE ALAM SUCI)

PERJALANAN AWAL
Peristiwa ini terjadi tahun 1967 bulan 10 tanggal 25 penanggalan Imlek. Hari itu saya sedang bermeditasi di Vihara Mai Sie Yen (Biksu Chuan Cing saat itu menjabat kepala biara di Vihara tersebut), tiba-tiba terdengar ada orang memanggil dan mendorong saya berjalan maju terus ke depan. Saya seolah-olah sedang mabuk dan tanpa sadar terus keluar dari Vihara. Samar-samar saya diberitahu akan berangkat ke Tek Hue (jarak antara Vihara Mai Sie Yen dan Ciu Sien San di Tek Hue kurang lebih 100 km) saya berjalan dan terus berjalan. Saya tidak merasa lelah dan lapar. Jika haus saya menadah air sumber dengan kedua tanganku, dan meminumnya sampai hilang dahagaku. Entah berapa lama berlalu, pendek kata, sepanjang perjalanan itu saya tidak pernah beristirahat dan tidur. Menurut ingatanku, hari tidak pernah gelap.

Saat itu revolusi kebudayaan sedang berkecamuk di seluruh Tiongkok. Ketika saya berjalan mendekati Ciu Sien San, seolah-olah mendengar kata orang di perjalanan, “hari ini bulan 10 tanggal 25”, pada masa revolusi kebudayaan keadaan dimana-mana kacau balau. Sebaiknya kita pilih waktu malam hari untuk bepergian, saya pun tidak terkecuali....”

Saya ingat esok harinya jam 03.00 pagi. Saya bersua dengan seorang Bhiksu Tua (belakangan saya tahu beliau adalah penjelmaan Kuan Ing Phu Sa). Mula-mula kita tidak saling mengenal, karena beliau mengenakan jubah bhiksu, dengan sendirinya saya menyambutnya dengan merangkapkan kedua tangan (anjali). Beliaupun menjawab sambutan saya dengan sikap serupa.

Setelah saya memperkenalkan nama saya, Bhuksu tua lalu memperkenalkan diri, “Saya bernama Yen Kwan, hari ini saya berjodoh dapat ketemu dengan anda. Marilah kita sama-sama melancong ke Ciu Sien San, Sudikah Anda?”

Karena kami sama tujuannya, maka saya mengangguk kepadanya, mengatakan setuju.

Kemudian kami berjalan sambil bercakap-cakap. Beliau seolah-olah mengetahui riwayatku sedetail-detailnya. Beliau bercerita banyak tentang hukum karma. Cerita-ceritanya sangat menarik seperti legenda. Beliau mengungkapkan kelahiran-kelahiranku pada masa lampau. Misalnya Beliau menunjuk pada saya bahwa pada kelahiranku yang keberapa tepat pada jaman apa, berada di kota apa, dan peristiwa apa yang terjadi pada diriku pada saat itu. Setiap katanya sangat mengesankan, saya ingat semua petunjuk-petunjuknya (7 tahun kemudian Bhiksu Chuan Chin menelurusuri setiap pelosok Tiongkok sesuai dengan petunjuk Bhiksu Tua itu. Setiap kelahiran saya yang lampau betul-betul terbukti pernah ada orangnya, waktu dan tempat semua tepat sesuai dengan petunjuk Beliau. Hampir seluruh kelahrian- kelahiranku yang lampau hidup sebagai Bhiksu. Kecuali sekali sebagai Upasakha yang saleh, lahir pada Dinasti Ching jaman Kaisar Gong Hi (Gong Si), tahun 1662-1722,bertempat tinggal di daerah Sang Yung, desa Kueke, waktu itu bernama The Wan Shi (Cen Yen Shi), berputra 6 laki-laki dan 2 perempuan, diantara putra-putranya ada seorang yang memperoleh gelar Sarjana ‘Cin Shi’. Beliau telah menyelidiki alamat, kuburan-kuburan mereka serta waktu semuanya cocok dan sampai sekarang ada 121 keluarga, berjumlah lebih dari 450 orang)

Kami bercakap-cakap sepanjang jalan, tanpa terasa sudah sampai di Ciu Sien San (Gunung Sembilan Dewa ini adalah gunung tertinggi di Propinsi Hok Kien). Di atas gunung tersebut banyak terdapat gua-gua, yang terbesar bernama Gua Maitereya, gua inilah tempat tujuan kami. Di dalam gua terdapat sebuah altar dengan sebuah rupang Buddha Maitreya untuk dipuja. Oleh karenanya dinamakan Gua Maitreya.

Akan tetapi ketika kami naik sampai dipertengahan Gunung Ciu Cien, suatu pemandangan luar biasa, ajaib tampak di depan mata kami.

Jalan pegunungan yang sempit di depan kami, tiba-tiba berubah menjadi sebuah jalan yang lebar terbuat dari batu-batu rata dan halus disusun dengan sangat rapi dan bagus. Karena halusnya jalan itu sehingga dapat memantulkan sinar remang-remang. Kami berjalan terus sampai ke ujung gunung, di depan kami bukan lagi Gua Maitreya yang lama, melainkan suatu alam dunia dari pada yang lain terpampang di muka kami. (NOTE.2)

Pandangan di depan kami menjadi dataran luas, sebuah vihara yang besar yang sangat megah dan mewah, jauh lebih megah dari istana kuno di Beijing. Dua pagoda tinggi berada di kanan kiri Vihara. Tidak lama lagi kami tiba di gapura depan Vihara.

Gapura terbuat dari batu putih, gaya rancangannya halus dan megah. Di atas gapura terpampang papan nama terukir beberapa aksara berwarna emas yang tidak saya kenal (bukan aksara Cina), berkilau-kilau sinar keemasan. Di muka gapura telah berdiri empat Bhiksu berjubah merah, pinggang mereka dengan ikatan sabuk emas, tampaknya agung dan mulia. Mereka segera menyambut kami dengan berlutut dan sembah sujud di depan kami, dan kami pun segera membalas sambutannya dengan membungkukan badan. Saya heran dan aneh, belum pernah saya jumpai pakaian seragam yang dikenakan oleh Bhiksu penyambut itu, sedikit mirip jubah para Lhama di Tibet.

Mereka sambut kami dengan senyum dan berkata “Selamat Datang! Selamat Datang!” lalu mempersilahkan kami masuk.

Memasuki gapura melalui beberapa bangunan-bangunan megah dan berkilau-kilau bagaikan istana. Kami berjalan ke dalam lagi, sebuah lorong menjulur panjang ke dalam. Di kedua sisinya di hiasi tanaman bunga yang segar dan warna-warni serta pepohonan hijau. Melalui jendela kami lihat banyak pagoda dan balai pertemuan serta aneka macam bangunan.

Tidak lama lagi rombongan kami sampai di sebuah aula istana yang besar, terpampang 4 aksara emas, yang berkilau-kilau keemasan, di depan aula, bukan bahasa Cina, juga bukan bahasa Inggris, saya tidak mengerti apa artinya, lalu saya bertanya kepada Bhiksu Yen Kwan,menurut beliau artinya “Arahat Lokha di Langit Tengah”. Dugaan saya ini adalah tempat kebaktian para arahat, salah satu sarana bagi mereka untuk memperdalam Dharma. Sampai sini saya sadar bahwa disini bukan lagi dunia fana yang kita huni. Sekarang saya hanya masih ingat salah satu dari 4 aksara itu, tiga aksara lainnya sudah lupa.

Saat saya berjumpa Bhiksu Yen Kwan kira-kira jam 3 pagi. Dan saat ini telah mendekat fajar, banyak orang keluar masuk istana, segala ras bangsa berkumpul di sini, ada yang berkulit kuning, putih, coklat, hitam, hampir semua ras di dunia fana berkumpul disini, namun yang mayoritas adalah kulit kuning. Laki-laki, perempuan, tua, muda semuanya ada. Kostum dan pakaian mereka beraneka ragam, semuanya bersinar-sinar. Mereka membentuk kelompok-kelompok, setiap kelompok terdiri dari beberapa orang, ada yang melatih silat , ada yang bersenang-senang dengan menari, ada yang asik bermain catur, ada yang duduk bersamadi, dll. Mereka semua bersuka ria, mreka tersenyum ramah serta mengangguk-anggukkan kepalanya ketika bertatap muka dengan kami, tetapi kami tidak diajak berbicara atau diwawancara.

Masuk ke dalam Aula, saya lihat 4 aksara besar lagi, Bhiksu Yen Kwan mengatakan kepada saya bahwa artinya adalah “Aula Pahlawan Besar”. Segera ada dua Bhiksu tua mendekati dan menyambut kami, salah satu Bhiksu berjenggot putih panjang, dan satunya tidak. Mereka lihat kedatangan Bhiksu Yen Kwan, segera tiarap di depan Beliau, menunjukkan penghormatan yang tertinggi. Saya mulai berpikir “Siapa gerangan sang Bhiksu tua ini? Beliau pasti bukan bhiksu sembarangan, sehingga para arahat di Langit Tengah memberikan penghormatan yang tinggi kepada Beliau?”

Saat masuk ke dalam Aula, saya mengamati isi dan keadaan di dalam ruangan besar ini, hanya tampak asap putih dupa melingkar di atas, dan mengharumkan seluruh ruangan Aula. Lantainya mengkilat terbuat dari batu putih, yang mengherankan saya yaitu di dalam Aula tidak ada altar dan tidak ada sama sekali Rupang Buddha, tidak seperti lazimnya sebuah Vihara. Namun di atas meja besar penuh dengan persembahan, terutama bunga-bunga sebesar bola basket, bundar bulat, dan masih segar-segar. Serta macam-macam lentera berwarna-warni, indah sekali.

Kami duduk di ruangan tamu, segera bocah itu keluar mengantarkan dua gelas air, rambut si bocah itu di belah dua, diikat dan dirias menjadi dua konde kecil yang rapi bagaikan dua tanduk di kepalanya. Ia mengenakan baju hijau, pinggannya diikat dengan pita emas, tampaknya bagus sekali. Bhiksu Tua yang berjenggot mempersilahkan kami minum air putih yang dibawa bocah tadi. Saya sekali teguk segera habis setengah gelas, rasanya manis, sejuk, segar. Bhiksu Yen Kwan ikut minum juga. Sehabis minum badanku merasa menjadi semangat, rasanya tenagaku berlipat ganda, sekujur badanku merasa segar bugar, dan hilanglah semua lelah.

Setelah Bhiksu Yen Kwan membisiki sesuatu kepada Bhiksu berjenggot, segera bocah itu disuruh mengantar saya ke kamar mandi, di sana terletak sebuah ember putih terbuat dari kuningan, isi penuh dengan air bersih, selesai cuci muka dan mandi, lalu saya mengenakan jubah abu-abu yang telah disiapkan. Batin saya merasa luar biasa enak dan senang. Saat ini saya sadar bahwa saya sedang berada di alam suci, kegembiraanku sungguh sulit dilukiskan.

Kembali ke ruang tamu, saya segera berlutut di depan Bhiksu berjenggot, dan bernaskara 3 kali, lalu saya mohon Beliau memberikan petunjuk tentang hari depan perkembangan agama Buddha. Beliau tanpa menjawab sepatah katapun, mengangkat Mao-Pit (kuas pena Cina) dan menulis 8 aksara Cina di secarik kertas sebagai berikut:

Fo - Ce - Sin - Cuo
Ciau - Yu - Mo - Cu

Lalu kertas itu diberikan kepada saya. Ketika saya amati arti 8 aksara Cina ini, Bhiksu yang lain menjelaskan, “Anda boleh membaca 8 aksara ini mulai dari manapun, dari kiri ke kanan, atau kanan ke kiri, dari atas ke bawah, ataupun dari bawah ke atas, sekarang saya memberikan 36 kalimat sebagai contoh, dengan 36 kalimat ini, anda dapat mengetahui perkembangan agama Buddha dalam abad ini, jika anda meningkatkan secara permutasian (pertukaran) 8 aksara ini dapat membentuk kalimat sebanyak 840 buah yang tidak sama, dari isyarat 840 buah kalimat itu, anda akan mengetahui perkembangan Agama Buddha di seluruh dunia sepanjang masa, sampai lenyapnya Agama Buddha.”

Sementara ini saya beritahukan 18 kalimat yang pertama, yang meramalkan peristiwa-peristiwa yang sudah lalu/ terjadi, 18 kalimat berikutnya masih menunggu situasi dan kondisi apabila mengijinkan. (Penjelasan 18 kalimat pertama lihat di lampiran). Selesai pembahasan, Bhiksu mempersilahkan saya istirahat. Bocah kecil membawa saya ke sebuah kamar, di dalam kamar tidak ada ranjang hanya sebuah bangku besar. Tempat duduk bagian atas dibungkus kain sutra halus. Duduklah saya di atas bangku itu, nyamannya luar biasa, seolah-olah mengambang di udara, seperti duduk tanpa alas.

Tidak lama saya dengar suara Bhiksu Yen Kwan memanggil saya, saya segera keluar kamar. “Mari kita ke Khayangan Tusita (langit ke-4 di Karma Dhatu), bersembah sujud kepada Maitreya Bodhisattva, serta guru Anda Bhiksu Si Yin (Xu Yun). “Saya berterima kasih kepada Bhiksu Yen Kwan dan menunjukkan kegembiraan saya. Ketika saya ingin berpamitan dengan kedua Bhiksu Tua, “Tidak usah, waktu tidak banyak!” kata Bhiksu Yen Kwan, maka kami meninggalkan Arahat Loka tanpa pamitan, segera menuju ke kayangan Tusita.



BERJUMPA BHIKSU SI YIN DI SURGA TUSITA
Sepanjang perjalanan kami terlihat banyak bangunan gapura, istana, dan pagoda yang semuanya berkilau keemasan, saking banyaknya bangunan yang indah-indah mata kami tidak sempat menikmati satu persatu. Lagipula Bhiksu Yen Kwan berkali-kali mendesak supaya mempercepat perjalanan kami. Beliau selalu berkata, “Waktu sangat sedikit !” (Belakangan saya baru sadar bahwa waktu di Kahyangan berbeda dengan waktu di dunia kita. Kita tidak boleh mampir di suatu alam terlalu lama. Andaikata kita tidak cepat-cepat, saat pulang ke bumi boleh jadi sudah beberapa ratus atau ribu tahun berlalu.)

Kami melalui jalanan yang terbuat dari batu putih yang mengkilat, beraneka jenis bunga dan rerumputan di lereng bukit, harum semerbak terbawa oleh angin sepoi-sepoi, badan kami menjadi segar dan bersemangat. Entah melewati berapa tikungan dan berjalan beberapa kilometer, tiba-tiba di depan kami terpampang sebuah jembatan besar, aneh bin ajaib, hanya bagian tengah dari jembatan yang terlihat, tanpa dua ujung kaki, seolah-olah jembatan itu terapung di udara. Saya sedang kebingungan entah harus naik dari mana. Melihat ke bawah jembatan, wah sangat mengerikan, jurang lebar dalam tak terlihat dasarnya.

Ketika saya sedang maju mundur dan terus bertanya dalam hati, bagaimana mungkin saya dapat menyeberang, Bhiksu Yen Kwan menegur saya, “Sehari-hari Sutra apa saja yang anda baca?”, “Biasanya saya membaca Surangama Dharani”. Beliau menyuruh saya segera memanjatkan mantra. Saya mulai komat-kamit mengucapkan mantra. Seluruh mantra Suranggama Dharani terdapat 3000 kata. Saya baru mengucapkan 20 s/d 30 kata, pemandangan di depan kami dengan segera berubah. Tiba-tiba jembatan itu memanjang dan kedua ujung kaki menyambung ke darat. Warna jembatan menjadi kuning emas, dan memancarkan sinar keemasan. Jembatan emas itu dihiasi pula tujuh macam intan permata yang berharga, bagaikan pelangi berwarna tujuh melengkung di angkasa, megah indah tiada taranya. Pagar pada dua sisi jembatan dihiasi lampu-lampu dari mutiara yang terang benderang, memancarkan sinar warna-warni. Di atas pintu gerbang jembatan terpampang 5 aksara besar mirip dengan aksara yang terpampang di istana yang baru kami singgah tadi. Tebakanku artinya adalah, “Jembatan Arahat Loka di Langit Tengah”. Sesudah menyeberangi jembatan, kami istirahat sejenak di pavillion persinggahan. Saya tanya kepada Bhiksu Yen Kwan tentang peristiwa tadi, “mengapa sesudah dibacakan mantra, kedua ujung kaki jembatan baru tampak?”. Beliau menjelaskan, “Karena sebelum mantra dipanjatkan, jati dirimu yang murni masih terselubung, sehingga menghalangi padanganmu dan Anda tidak dapat melihat alam yang suci, alam yang hakiki . Berkat kekuatan mantra menyapu bersih kabut-kabut gelap karma burukmu, maka jati dirimu yang murni bersih tanpa halangan dan dapat melihat alam yang hakiki. Seperti orang bangun dari mabuk/sesat. Sebuah pepata kuno berbunyi demikian, “10 ribu mil angkasa pun kulihat, itulah sebabnya.”

Kami melanjutkan perjalanan kami, sambil berjalan saya memanjatkan mantra, tiba-tiba sebuah bunga teratai mengalasi kakiku, setiap kelopaknya bagaikan lazuardi memancarkan sinar hijau kebiru-biruan, daun-daunnya juga berkilau-kilau kehijauan. Saya berdiri di atas bunga teratai bagaikan lepas landas naik ke angkasa melaju cepat seperti angin kencang. Telingaku mendengar angin menderu, namun badan saya tidak merasa di terpa angin. Kecepatannya melebihi pesawat, terlihat benda-benda, bangunan, pepohonan dan pemandangan lain di depan dengan cepat merebah ke belakang.

Tak lama lagi, badan merasa semakin hangat, kami tiba di sebuah bangunan yang mirip Tian An Men, tetapi lebih luas dan lebih megah dari Tian An Men, pilar-pilar berukir naga dan phoenik, semuanya gemerlapan, berbentuk wuwungan genteng ala istana lama di Beijing, tetapi seluruhnya berwarna putih perak, seperti sebuah benteng raksasa terbuat dari perak putih, agung, dan megah.

Pintu gerbang istana perak putih yang tinggi besar, di atasnya terukir aksara-aksara dalam 5 bahasa, baris yang paling atas tertulis 3 huruf Cina “Nan Tien Men” (Pintu Langit Selatan, di bagian selatan Caturmaharajakayika yang dibawah pimpinan Maharaja Virudhaka). Di dua sisi dalam pintu gerbang berdiri banyak dewa-dewa penyambut, yang berkostum pejabat sipil, mirip kostum pejabat Dinasti Ching (Manchuria), penuh hiasan intan mustika berkilau-kilau, indah megah berdiri di satu sisi, di sisi lainnya berdiri yang berkostum militer, kostumnya seperti baju baja kuno, bersinar kemilau, berdiri tegap gagah berwibawa. Mereka semuanya beranjali menyambut kedatangan kami, tetapi tidak mengucapkan sepatah katapun dengan kami.

Sepuluh langkah dari pintu masuk, terpampang sebuah cermin besar, guna mencermin atma/sukma kita untuk membedakan yang bersih dan yang kotor. Tiada suatu atma yang kotor dapat mengelabui sorotan dari cermin ini.

Saya lihat banyak pula pandangan-pandangan yang serba aneh, benda seperti pelangi, seperti bola, seperti bunga, seperti kilat, berpapasan melewati sisi badanku. Dibalik mega dan kabut, remang-remang terlihat puncak-puncak bangunan, wuwungan genting istana, pucuk lancip pagoda, tinggi rendah, jauh dekat, seperti rimba dan pegunungan Bhiksu Yen Kwan berkata “itulah kahyangan alam dewa Triyamsa (tingkatan alam dewa kedua dari Karmadhatu), setingkat lebih tinggi dari Catur maharajakayika. Dibawah pimpinan Giok Hong Tai Te, beliau menguasai 4 penjuru, meliputi 32 alam dewa.”

Tanpa mampir, kami dengan terburu-buru langsung melewati beberapa tingkatan alam dewa, tiba-tiba terdengar Bhiksu Yen Kwan berkata, “sekarang kita telah tiba di alam Tusita”. Sekejab mata kami sudah berada di depan pintu gerbang istana, kurang lebih 20 orang berdiri disana menyambut kedatangan kami, diantaranya seorang yang tidak dapat saya lupakan, yaitu mahaguru Bhiksu Si Yin (salah satu Bhiksu yang paling terkenal di tiongkok pada abad ke 20). Tak terduga Bhiksu Miau Lien dan Master Fu Yung juga berada di antranya, mereka semuanya mengenakan jubah sutra yang merah, indah, dan mewah sekali.

Saya segera berlutut menyembah sujud kepada guru Si Yin, saya hampir menangis tak dapat menahan keharuan karena dapat bertemu kembali dengan guru yang kucintai. Sang guru segera menenangkan saya, “ tenanglah, tenang! Tiada sesuatu yang perlu digembirakan dan disedihkan!, tahukah anda, siapa beliau yang membawa anda kesini?. “Beliau Bhiksu Yen Kwan”, jawabku spontan, saya terkejut setelah guru mengungkapkan jatidiri Bhiksu Yen Kwan, Beliau adalah yang disebut-sebut anda dari hari ke hari yaitu “NAMO TA CHE TA PEI CIU KHU CIU NAN KWAN SHE ING PHU SAT (Namo Maha Maitri Maha Karuna Sang Penolong AVALOKITESVARA BODHISATTVA”). “

Bukan kepalang kagetnya saya ! Segera saya bernamaskara di depan Bhiksu Yen Kwan yang merupakan manifestasi (jelmaan) KWAN SHE ING PHU SAT. Dalam batinku, saya mohon ampun beribu ampun, namun karena merasa luar biasa sehingga saya tidak dapat mengutarakan setengah patah katapun, benar-benar seperti dikatakan makhluk kecil tidak dapat mengenal benda sebesar gunung Thai.

Makhluk yang terlahir di alam dewa Tusita, tidak sama dengan manusia di bumi. Tinggi badan yang terlahir di alam Tusita mempunyai tinggi badan 3 Cang (sama dengan 10 meter) namun berkat bantuan dari Bhiksu Yen Kwan (Namo Kwan She Ing Phu Sat) badan saya ikut menjadi besar sesuai dengan keadaan disana, tinggi badanku menjadi 10 meter setinggi makhluk-makhluk di sana.

Pesan sang guru kepada saya, bahwa sepulang ke alam dunia (manusia), saya harus rajin berbakti dan melatih kesabaran, ketabahan (menjalankan Virya Paramita dan Ksanti Paramita), dengan melalui banyak cobaan, karma buruk kita baru akan tercuci bersih sedikit demi sedikit, juga pesan untuk merenovasi Vihara-Vihara tempat ibadah yang rusak.

Di alam Dewa Tusita juga terdapat laki-laki dan perempuan, tua dan muda mereka mengenakan baju mirip mode baju dinasti Ming.
:::
PETUNJUK MAITREYA BODHISATTVA
Kemudian, kami bersamaan masuk ke halaman dalam di Alam Dewa Tusita untuk memberi sujud dan hormat kepada Maitreya Bodhisattva, di dalam aula Istana Maitreya yang besar dan megah tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, dimana-mana berkemilauan warna keemasan, di atas pintu gerbang istana tertulis 3 huruf cina besar “To Suai Tien” (Alam Dewa Tusita), dengan warna emas cerah dan berikutnya 4 baris aksara bahasa lain saya tak mengenalnya. Di aula itulah saya bertemu dan melihat dengan mata kepala sendiri Maitreya Bodhisattva.
Di luar dugaan bahwa rupa Maitreya Bodhisattva jauh berbeda dengan rupang Maitreya yang kita puja di dunia, yang berbadan gemuk, perut buncit, selalu tertawa dengan mulut yang lebar. Maitreya Bodhisattva yang saya temui sesungguhnya sedikit keren, berwibawa dengan Dvatrimsa-maha-purusa-laksana-nya (32 tanda fisik agung) serta Asityanuvjinjani-nya (80 bentuk keindahan buddha) benar-benar sangat langka dan mengagumkan sekali.

Di dua sisi Aula dipenuhi dengan para Bodhisattva, ada yang duduk dan ada yang berdiri, mereka mengenakan jubah dan kostum yang beraneka ragam, namun mereka kebanyakan mengenakan Kasaya merah yang gemerlapan. Mereka masing-masing mempunyai singgasana teratai sebagai tempat duduk atau alas kaki. Saya maju ke depan berlutut dan bernamaskara di hadapan Maitreya Bodhisattva, lalu mohon petunjuk Beliau. Beliau bersabda, “ Pada masa yang akan datang Aku akan menjelma di dunia fana (60.000.000.000.000 - enam puluh triliun tahun), setelah “Lung Hwa San Hwe” (Persamuan Puspa Naga ke-3). Saat itu tiada pegunungan yang tinggi di planet Bumi. Daratan merata bagaikan telapak tangan, Dunia Fana akan menjelma menjadi tanah suci dan damai. Aku anjurkan antar agama di bumi jagalah kerukunan, saling hormat-menghormati, saling dorong mencari kemajuan, jangan saling memfitnah dan merusak. Lebih-lebih antar sekte seAgama Buddha tidak boleh saling menjelekkan, harus saling membenarkan kesalahan masing-masing..” (Beberapa petunjuk dari Beliau saya tidak ingat lagi.) kemudian saya mohon diri, dan mengucapkan banyak terima kasih atas petunjuk-petunjuk Beliau.

Selanjutnya Guru Si Yin, membawa saya ke sebuah gedung bertingkat, didepan gedung seorang perwira berseragam perwira tinggi jaman Dinasti Ming mirip dengan Maharaja Virudhaka sedang bertugas. Perwira tersebut memimpin kami masuk ke dalam sebuah ruangan, dan menyuguhkan kami kue-kue. Saya mencicipi sepotong kue, rasanya harum, manis, gurih dan renyahnya luar biasa. Saya lahap sampai kenyang seraya tenaga dan semangat badan saya bertambah berlipat ganda.

Master Fu Yung menjelaskan, “Di alam Dewa [sini], madu dan polen bunga adalah makanan pokok kami. Kue-kue dan makanan ini adalah persembahan dari dewa-dewi di halaman depan, mereka membuatnya dari perpaduan beraneka macam madu bunga, maka rasanya lezat sekali. [Jika] Manusia Bumi makan selai madu bunga ini, akan hilang penyakitnya dan panjang umur, yang tua akan menjadi muda, anda makanlah sebanyak mungkin akan bermanfaat bagi anda. Kemudian hari, badanku betul-betul merasa lebih muda dan bertenaga sampai hari ini saya belum pernah minum obat sekalipun.”

Master Fu Yung melanjutkan, “Orang di Alam Dewa hidup mewah dan santai. Mereka tidak suka kerja keras, jarang melakukan kebaktian, tidak suka mempelajari Dharma, seperti orang kaya di Bumi, lupa sembahyang, lupa melakukan kebaikan, apalagi bertapa menjadi biarawan. Mereka hanya tahu bersuka ria menikmati kesenangan pada saat makmur sekarang. [NOTE.3] Mereka lupa mereka masih belum lepas dari Triloka (Karma Dhatu, Rupa Dhatu, dan Arupa Dhatu). Beliau keluar dari 6 alam samsara, belum terbebas dari siklus hidup dan mati. Kami di sini mengikuti ajaran Maitreya Bodhisttva, dan pada masa yang akan datang kami akan ikut Beliau menitis (menjelma) di Bumi, membantu membebaskan lautan samsara, dengan menempuh jalan Kebodhisattvaan ini, barulah kami dapat mencapai penerangan sempurna.

Guru Si Yin berpesan pula, “Pada akhir jaman ini, kita harus lebih tabah dan gigih, untuk mempertahankan misi suci kita, pada situasi dan kondisi paling tabah dan gigih, untuk memepertahankan misi suci kita pada situasi dan kondisi paling buruk pun, untuk menolong makhluk-makhluk derita. Jangan serakah dan mabuk dalam kenikmatan pada saat yang senang, dan usaha menghindari kewajiban pada saat yang buruk. Kita wajib menyadarkan orang yang jahat, supaya mereka dapat berpaling pada kebajikan. Dengan demikian orang baik baru dapat hidup dengan tenang, melakukan kebaktian, pertapaan tanpa halangan. Pada masa yang paling buruk, orang yang tetap tekun melakukan, mengamalkan Dharma Buddha, Prajna Paramita, adalah orang yang sungguh-sungguh menjalankan Kebodhisatvaan. Sesudah anda pulang ke bumi, tolong sampaikan pesanku kepada sudara-saudara se-dharma, dan saudara sesekte pada khususnya, bahwa Sila Vinaya adalah guru sejati, mempertahankan disiplin-disiplin yang lama, jangan sok modern, merobah-robah sistem Sangha seenaknya. Orang jaman moderen, ada yang mengatakan bahwa “Suranggama Dharani” itu palsu. Ada yang merubah bentuk dan potongan kasaya (jubah biarawan), ada yang tidak percaya pada hukum karma, ada pula yang mengatakan bahwa telor adalah sayur (bukan daging). Mereka enggan bertapa meneladani orang awam, malahan menghasut, menyelewengkan Buddha Dharma, dengan kata-kata muluk untuk mencari keuntungan pribadi. Orang-orang demikian adalah jelmaan Mara khusus untuk mencabut akar Prajna Tathagata (Akar Kebijaksanaan Buddha) di Bumi, mereka merajalela merusak mental manusia. Anda sekembali ke bumi, Anda akan berkotbah keliling dunia. Walaupun keadaan di Cin Tan (Cina) masih buruk, harap anda memugar kembali Vihara-vihara yang saya dirikan, ketika saya masih berada di bumi, pada saat Anda masih menjadi muridku, kuberikan nama “Fu Sin” (yang artinya bangun kembali), anda pasti mengerti maksudku, sadar akan harapanku terhadapmu.”

Berhenti sejenak, Guru Si Yin dengan suara lantang melafalkan syair sekata demi sekata sebagai berikut:

Cing sung siang ye i cien tou , -- Bekat salju dingin membeku, Pinus makin keras, hijau
Hai tien i se pien san cien, -- Laut, angkasa menyatu padu, biru meliputi trisahasra lokha dhatu.

Kemudian Bhiksu Yen Kwan membawa saya keluar menuju halaman muka istana. Saya terpukau pada pemandangan Alam Dewa yang gemerlapan penuh dengan aneka warna cahaya. Satwa yang aneh dan fauna alam Dewa yang beterbangan bernyanyi dengan sukaria, kicauan burung, bunyi lembut binatang serta desiran angin, dari jauh ke dekat, terpadu suatu sonata musik alam yang merdu. Bocah Alam Dewa, Laki-laki dan perempuan, mengenakan baju sorgawi yang halus tipis berwarna-warni. Mereka membentuk barisan-barisan yang rapi. Baris demi baris meluncur dengan asyik membentuk figur-figur yang indah. Disana-sini bunga-bunga berkembang subur, berwarna-warni seakan- akan berlimpah keindahan sangat terpesona. Pavillion, teras, istana, dan pagoda, jauh dan dekat, semuanya memancarkan sinar yang mengagumkan, indahnya pemandangan di bumi tidak dapat menandingi seperseribunya.

Saya sedang mengagumi pemandangan seraya memuji-mujinya, Bhiksu Yen Kwan menunjuk sebuah pagoda raksasa yang lebih besar dari gunung Gun Lun, yang memancarkan seratus warna cahaya dan berkata, “ Disitulah Thai Siong No Kun (Thay Sang Lau San = Lau Tza) bersemayam dan disitu beliau mengolah obat.” “Saya segera memandang ke sana, terlihat pagoda pengolah obat yang megah dan tinggi, ditutupi mega awan, remang-remang, hanya terlihat salah satu bagian dari pagoda, namun bagian yang terlihat sudah tak terhitung tingkatannya. Bagaikan raksasa terhadang di depan kami. Kami hanya lihat-lihat dari jauh, tak sempat berkunjung ke dalamnya. Bhiksu Yen Kwan menjelaskan, “Pagoda ini adalah tempat tinggal para Dewa tingkat atas, disekitarnya terdapat banyak “Lin Yuen Su” (Pohon Sukma) dan banyak bunga-bunga, buah-buahan empat musim. “Menurut cerita orang bahwa seorang pertapa ilmu Dewata, jika mereka berhasil, maka pohon sukmanya di Alam Dewa akan tumbuh dengan baik, sebaliknya, jika mereka lakukan tidak sesuai dengan ajaran, maka pohon Sukmanya akan layu dan kering.”

Saat ini Bhiksu Yen Kwan mendesak saya dan berkata, “Waktu sangat terbatas, sudah saatnya saya membawa Anda ke Sukhavati Loka, pemandangan disana jauh lebih indah dari disini, lebih-lebih bumi tidak dapat menandingi sepersepuluh ribunya.”

MENGUNJUNGI SUKHAVATI LOKA BERNAMASKARA KEPADA AMITABHA BUDDHA
Meninggalkan Alam Dewa Tusita, saya memanjatkan Stathagatosnisam Sitata Patram Aparajitam Pratyyungiram Dharani (Surangama Dharani), dan di bawah kaki kami segera muncul singgasana teratai, dengan secepat kilat terbang ke angkasa, sepanjang perjalanan hanya mendengar suara angin menghembus ke telinga, namun kami tidak merasakan terpaan angin. Tingginya kecepatan sungguh tidak dapat dilukiskan, hanya terlihat pemandangan indah di depan dengan cepat sekali terlempar ke belakang. Kira-kira 15 menit, kami melihat daratan di bawah kaki dan teratai diliputi pasir dari emas. Dan barisan pohon raksasa yang tingginya lebih kurang 100 meter berjajar dengan rapi. Pohon-pohon tersebut, berdahan dan berranting emas, namun daun-daunnya terbuat dari jade (giok), bentuk daun ada yang segitiga, ada yang segilima, dan ada yang segitujuh, semuanya berkilau-kilau dan berbunga. Terlihat pula banyak burung-burung bermacam-macam jenis berterbangan, bulu-bulunya bersinar berwarna indah. Ada burung berkepala dua, tiga, dan beberapa buah. Ada yang mempunyai dua pasang sampai beberapa sayap. Mereka beterbangan dengan bebas, sambil bernyani memuji kebesaran Buddha Amitabha. Sekelilingnya dipagari dengan pagar tujuh warna. Bhiksu Yen Kwan bertutur, “Berdasarkan apa yang disebut Sang Buddha dalam Amitabha Sutra, “... Tujuh susun jala, tujuh baris jajaran pohon mustika...” adalah pemandangan alam ini.” (NOTE.0)

Telingaku mendengar banyak suara percakapan, tetapi saya tidak mengerti semuanya. “Amitabha Buddha mengerti semuanya..” kata Bhiksu Yen Kwan. Di perjalanan saya jumpai banyak pagoda-pagoda tinggi yang terbuat dari 7 jenis mustika, bersinar samar-samar. Kami berjalan maju terus, akhirnya tiba di depan sebuah gunung emas yang luar biasa besarnya, entah berapa ribu kali lebih besar dari Gunung Oh Mei di Tiongkok.

Tidak ragu lagi, kami telah tiba di pusat Sukhavati Loka. Tiba-tiba Bhiksu Yen Kwan menunjuk ke depan dan berkata, “Kita sudah tiba, di depanmu adalah Amitabha Buddha, Lihatlah Anda!” Saya bertanya dengan heran, “Di mana? Saya hanya melihat sesosok tembok besar di hadapan saya.”

Sekarang engkau sedang berdiri di pucuk ujung jari kaki Buddha Amitabha!” Jawaban Bhiksu Yen Kwan yang tak terduga, sangat mengejutkan saya. (NOTE.4)

Saya memohon, “Badan sang Buddha begitu besar dan tinggi, apa mungkin saya dapat melihat Beliau?”

Sesungguhnya, keadaanku sekarang seperti seekor semut kecil, berdiri di bawah pencakar langit Gedung Empire Amerika. Biar bagaimanapun saya mendongak kepalaku tak mungkin bisa melihat seluruh gedung pencakar langit itu.

Bhiksu Yen Kwan menganjurkan saya cepat berlutut dan memohon berkah dari Sang Buddha Amitabha. Dengan tulus dan ikhlas saya mohon berkali-kali, tiba-tiba badan saya terus berkembang menjadi besar, sehingga sampai setinggi pusar Beliau.

Dengan ketinggian badan saat itu, barulah saya dapat melihat sang Buddha Amitabha sesungguhnya, betul-betul Beliau berada di depan mata saya Beliau berdiri di sebuah singgasana teratai, entah berapa jumlah kelopaknya, bersusun bertingkat-tingkat. Setiap kelopak mempunyai sebuah alam tersendiri, ada istana, pagoda, dan lain-lainnya memancarkan sinar beribu-ribu warna. Dan setiap utas cahaya menjelma seorang Buddha duduk di tengah lingkaran cahaya emas. Saya melontarkan pandangan mataku sejauh mungkin, saya melihat sebuah istana luar biasa besarnya yang bersinar cemerlang keemasan, dan lebih jauh lagi saya melihat seluruh bentuk luar Sukhabvati Loka.

Pada saat ini, Bhiksu Yen Kwan telah kembali ke bentuk semula-Nya, Kwan Se Ing Phu Sa. Seluruh badan beliau tembus pandang, berwarna keemasan, jubahnya memancarkan beribu-ribu jenis cahaya, tidak jelas Beliau laki-laki atau perempuan. Tinggi badan Beliau saat ini lebih tinggi dari saya, kira-kira setinggi pundak Sang Buddha Amitabha.

Saya berdiri ternganga melihat peristiwa yang unik dan luar biasa ini, tercengang dan berbisu seribu kata. Jika saya diharuskan melukiskan atau menceritakan keadaan saat itu dengan terinci, mungkin membutuhkan waktu 7 hari 7 malam lamanya. Khusus melukiskkan tanda fisik Sang Buddha Amitabha yang sangat istimewa dan ajaib saja waktu setengah hari tidak akan cukup. Misalnya, mata Beliau yang seluas tujuh samudra di bumi kita. (NOTE.5)

Menurut cerita Buddha Sakyamini di dalam Sutra, bahwa jarak antra bumi kita dengan Sukhabati Loka kami harus melalui ratusan ribu koti (10 juta) Buddha Ksetra. Jauhnya betul-betul di luar jangkauan daya pikir manusia. Jika kita naik pesawat secepat cahaya, untuk mencapai Sukhavati Loka harus kita tempuh dalam waktu 15 miliar tahun. Maka dengan umur manusia yang begitu singkat, tidak mungkin terjadi seorang manusia hidup sampai di Sukhavati Loka dengan badan kasarnya. Namun jika anda betul-betul tulus dan ikhlas berpranidhana (bertekad/prasetya), hanya dalam sekejab mata anda sudah sampai di Sukhavati Loka. Andaikata Anda mempunyai umur sepanjang umur bumi, dari hari jadinya bumi sampai kiamat, juga belum cukup waktu untuk mencapai Sukhavati Loka. Satu-satunya jalan mencapai Sukhavati Loka yaitu keimanan, kekuatan pranidhana dirimu, ditambah karunia kekuatan Adhistana Buddha Amitabha. Betul-betul dengan sekejab mata, secepat pikiran kita, kita akan sampai di Sukhavati Loka.

Saya bernamaskara berkali-kali kepada Buddha Amitabha mohon kekuatan, kecerdasan, supaya saya dapat bebas dari siklus lahir dan mati. Beliau bersabda, “Kwan Ing Phu Sha menjemput anda kemari, berkunjung kemana-mana, pergilah mengikuti Beliau, jangan menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini. Tetapi anda tetap harus kembali ke dunia fana.”

Saat itu, makin saya mengagumi kebersihan, kedamaian, dan kebahagiaan di Sukhabvati Loka, makin saya muak akan kejorokan, kekacauan, dan penderitaan di dunia fana. Saya tidak ingin pulang ke bumi, saya mohon berkali-kali dengan sedikit merengek, “Di Sukhavati Loka terlalu indah dan menyenangkan, saya betul-betul tidak ingin pulang, mohon kasihanilah saya, ijinkanlah saya tinggal di sini, terimalah saya tetap di sini.”

Beliau berkata, “Tidak, bukan saya tidak mau menerimamu disini ,dan memaksa kamu pulang. Sebenarnya pada dua kalpa yang lalu, engkau sudah tinggal di sini. Dan pada saat itu engkau telah berjanji, berpranidhana (berprasetya) dengan tekad kembali ke dunia fana, untuk menolong mereka yang sedang menderita disana. Untuk menunaikan nadarmu, mau tidak mau engkau harus pulang ke dunia fana. Dengan kunjunganmu kali ini di Sukhavati Loka, dan meyakinkan mereka bahwa Sukhavati Loka betul-betul ada.”
:::
Kemudian Beliau mengucapkan Gatha (syair) sebagai berikut:
NI I WANG SEN EL CIE CIEN, -- Jauh pada dua kalpa yang lalu, Kau telah lahir di Sukhavati Loka
CE ING FA YEN TU CUNG SEN, -- Berhubung tekad pranidhanamu, untuk menolong makhluk-makhluk fana.
LEI SHE FU MU CHI CIN SHU. -- Mereka beryuga-yuga yang lampau, bagaikan ayah bunda sanak saudara.
SHE CIU TUNG KUI CIU PING LIEN, -- Nazarmu yang luhur, untuk menyeberangkan mereka ke Sukhavati Loka.

Setelah mendengar gatha Sang Buddha Amitabha , seluruh badanku gemetar teringat hal ihwal peristiwa dua kalpa yang lalu, seperti gambar hidup yang tampil di depan mataku dengan jelas dan terang.

Kemudian beliau berpesan kepada Kwan She Ing Phu Sat, “Silahkan anda membawa dia berkunjung ke mana saja”. Saya bernamaskara kepada beliau tiga kali, lalu Kwan She Ing Phu Sat membawa saya keluar dari panggung mimbar.

Pada saat itu, saya mengamati semua pintu, lorong, tepi kolam, pagar, gunung dan lahan terayam, semua bertatah dengan tujuh jenis intan mustika dan semuanya bersinar-sinar bagaikan dop lampu dan neon. Aneh bin ajaib, benda-benda seperti terbuat dari bahan materi yang berbentuk, namun semuanya tembus pandang, dapat dilewati tanpa halangan. Di atas pintu gerbang tertulis 4 aksara emas yang besar dan di kedua sisi pintu terdapat dua kalimat syair yang saya tidak kenal dan mengerti. Sekarang saya masih ingat satu aksara berbentuk “ “, dan lainnya saya lupa. Kwan She Ing Phu Sat menjelaskan, 4 aksara tersebut artinya “Istana Pahlawan Maha Perkasa”, juga boleh diartikan “AMITAYUS” ( umur tak terbatas).

Aula itu memancarkan sinar keemasan dengan gilang gemilang, besar megah bisa menambung beratus-ratus ribu hadirin. Di dalam aula terlihat banyak Bodhisattva hadir di sana, ada yang duduk, ada yang berdiri, ada juga yang di luar aula, mereka semuanya berbadan kristal warna keemasan. Tinggi badan Bodhisattva lebih pendek dari Buddha, diantara mereka terlihat juga Mahasthama Prapta Bodhisattva dan Nitya Virya Bodhisattva.

“Marilah, kita mengunjungi ke sana, ke setiap tingkat alam di Surga Sukhavati dari tingkat terendah sampai ke tingkat tertinggi”, ajak Kwan She Ing Phu Sat.

Dalam perjalanan tak terasa badan kami menjadi makin kecil, ketika mengetahui peristiwa aneh ini saya bertanya kepada Kwan She Ing Phu Sat. Beliau menjelaskan “Alam Surga Sukhavati terbagi sembilan tingkat, setiap tingkat berbeda-beda keadaan alamnya. Untuk menyesuaikan dengan keadaan alam di masing-masing tingkat, maka kondisi fisik penghuni harus berbeda. Tadi kami berangkat dari tingkat alam yang tertinggi menuju ke tingkat alam yang terendah. Antara 9 tingkat alam negeri teratai ini, tingkat yang teratas penghuninya lebih besar dan tinggi dari penghuni di tingkat alam tengah, dan penghuni di tingkat alam tengah lebih besar dan tinggi dari penghuni di tingkat alam rendah. Dan kita sekarang sedang turun ke bawah. Umpamanya penghuni di bumi tinggi badannya lebih dari dua meter setengah, sedangkan penghuni alam tertinggi badannya lebih dari 10 meter”.

NEGERI TERATAI TINGKAT TERBAWAH DIHUNI OLEH PEMBAWA KARMA
Sekarang kita sudah tiba di negeri teratai tingkat Bawah. Daratan di sana merata bagaikan telapak tangan, tanah berwarna kuning emas yang berkilau-kilau, namun tembus cahaya bagaikan kaca kristal. Sebentar lagi sebuah lapangan luas besar terlihat di depan mata kami, terlihat di sana banyak anak gadis berumur 13-14 tahun, diatas kepala mereka semua berias sepasang konde kecil, dihiasi bunga ungu, paras dan potongan badan mereka cantik-cantik semua. Mereka tidak hanya berpakaian seragam, tinggi badan dan raut muka mereka hampir sama dan serupa.

Dalam batinku bertanya, “Mengapa di negeri ini banyak terdapat penghuni yang perempuan?” lalu saya bertanya kepada Kwan She Ing Phu Sat, “Menurut Sutra bahwa penghuni Surga Sukhavati tiada jenis kelamin, mengapa disini banyak perempuannya?”

“Sutra tidak salah, lihatlah tampang dirimu sekarang!” jawabnya. Sungguh mengejutkan sampai saya tidak percaya dengan penglihatan sendiri, saya sudah menjelma menjadi anak perempuan yang mirip dengan mereka, baik pakaian seragam, maupun berdandan rias seperti mereka “mengapa jadi demikian?” saya menjadi bengong.

Kwan She Ing Phu Sat menjelaskan,”di negeri ini dipimpin oleh seorang Bodhisattva, beliau sebagai penguasa di sini, jika beliau ingin warganya perempuan, maka warganya semua menjadi perempuan. Sebaliknya jika beliau ingin laki-laki maka semua warganya menjadi laki-laki. Sesungguhnya badan penghuni disini bukan dibentuk dari daging darah yang bersifat materia, lihat semua benda-benda, makhluk-makhluk disini semuanya bening tembus cahaya bagaikan kristal. Bentuk tubuh mudah berubah, dapat berbentuk perempuan atau laki-laki, namun sifat intinya tidak berbeda”.

Saya amati tubuhku, seperti apa yang diterangkan oleh Kwan She Ing Phu Sat, tidak terlihat kulit, daging, kuku, tulang, dan darah, hanya sesosok tubuh kristal yang putih kuning.

Manusia yang lahir di Sukhavati Lokha Varga Bawah-bawah, semuanya bersih batinnya, [namun] mereka membawa serta karma, sifat kebiasaan mereka masing-masing. Mereka baik laki-laki atau perempuan, tua, atau muda, “Penjelmaan Teratai” di negeri teratai Varga Bawah-Bawah ini, semuanya menjadi bocah yang berumur 13-14 tahun, menjadi muda belia, sangat ramah tamah, dan cantik indah. Bentuk luarnya bisa saja laki-laki atau perempuan, namun hakekatnya tidak berbeda.

“Mengapa manusia di bumi yang lahir disini berbentuk sama dan usia juga sama?” saya bertanya kepada Kwan She Ing Phu Sa.

“Sifat Buddha yang ada pada setiap makhluk adalah sama, tiada perbedaan. Berkat kekuatan pranidhana (prasetya) Sang Buddha Amitabha, mereka dapat lahir di sini, dan mereka di beri hak dan kewajiban yang sama. Tidak memandang ketika di bumi sudah kakek-kakek, nenek-nenek, setengah tua atau masih muda belia, setelah penjelmaan teratai, semuanya sama rata berumur 13-14 tahun, dan bentuk luarnya hampir sama. Hal ini sama dengan bayi baru lahir di bumi, bentuk badan dan raut mukanya juga hampir sama.”, Penjelasan beliau.

Penghuni di Varga Bawah-bawah setelah penjelmaan teratai, di dalam teratai, setiap hari di beri 2 jam pelajaran Dharma, yang memberi ceramah adalah seorang Bodhisattva Mahasattva. Ketika genta berbunyi, jam pelajaran Dharma dimulai, penghuni di kolam teratai, di gedung, di pavillion, semuanya keluar dari tempat kediamannya berkumpul di Aula. Mereka berseragam dan berbentuk serupa, oleh karena mereka telah dikendalikan oleh kekuatan Bodhisattva Mahasattva. [Jika] Sang Bodhisattva ingin mereka berpakaian merah, semuanya merah, ingin berpakaian kuning, semuanya kuning; ingin hijau semuanya hijau.

Penghuni di sini pada siang hari, mereka keluar dari bunga teratainya bermain-main, menyanyi, menari, melakukan kebaktian, membaca sutra, atau kegiatan lainnya. Jika jam istirahat mereka kembali ke bunga teratai masing-masing. Pendek kata, bunga teratai terbuka pada siang hari, menutup pada malam hari. Waktu istirahat kegiatan mereka di dalam bunga teratai juga bermacam-macam, ada yang menyebut-nyebut nama Sang Buddha, ada yang bermimpi indah. (Mereka lahir di sini, berkat karunia Sang Buddha, ada yang terbawa kekotoran batin, sehingga mereka ketika tanpa sadar sering mengenang perbuatan atau peristiwa mereka pada masa lampau di bumi.)

Kwan She Ing Phu Sa berkata, “Mari kita melihat-lihat di lapangan sana.”

Kami tiba di lapangan, mula-mula terlihat kurang lebih 20 orang anak gadis, kemudian jumlahnya terus bertambah dari puluhan, ratusan, ribuan, sehingga ratusan ribu anak gadis yang hampir serupa memenuhi semua gedung, aula, dan lapangan. Penampilan mereka seolah-olah untuk tontonan kami. Dalam sekejab mata mengumpulkan orang sebanyak ratusan ribu orang di sana sangat mudah. Andai kata di bumi kita ingin mengundang atau mengerahkan masa sebanyak puluhan ribu saja harus persiapan sampai beberapa hari.

Kemudian kami berada di kolam teratai, terlihat air kolam berbeda dengan air kolam di bumi, air sana tidak berbentuk cairan, melainkan merupakan gas.

“Mandilah engkau di kolam sana!” anjur Kuan She Ing Phu Sa. “Bagaimana kalau baju saya basah kuyup nanti?” Saya ragu-ragu dan takut karena saya tidak bisa berenang. “Jangan khawatir, air di sini berbeda dengan air di dunia sana.” Tutur Beliau.

Saya menuruti anjuran Beliau, dengan sedikit gemetar, perlahan-lahan turun ke kolam. Sungguh benar kata Beliau bajuku tidak basah. Di samping itu pula, ketakutan hilang, yang mula-mula saya khawatir bisa tenggelam di bawah kolam. Eh, tidak disangka saya bisa berenang. Saya bisa timbul, menyelam, belok kanan, dan belok kiri menurut kehendak-ku. Saya berputar-putar di dalam kolam, alangkah nikmat dan gembiranya. Terdorong oleh naluri ingin tahu, saya coba air kolam seteguk, luar biasa segar dan manis, kemudian saya minum sepuas hati. Badan saya terasa makin kuat dan segar, dan semangatku menjadi berlipat ganda. Badanku seolah-olah menjadi ringan bisa terbang. Saya coba lagi memegang-megang bajuku sama sekali tidak basah. Saat ini saya makin berani menjauhi tepi kolam. Ketika saya berenang sampai di tengah kolam, terlihat banyak sekali bunga teratai, semuanya indah-indah berkembang dengan cemerlang. Saya menjumpai beberapa kuntum bunga teratai yang berhuni bocah yang sedang rajin menyebut nama Sang Buddha. Saya menjumpai juga beberapa bunga teratai yang layu, yang patah kelopak atau tangkainya, bahkan ada yang sudah mati kering. Belakangan saya baru diberi tahu bahwa yang disebut dalam Amitabha Sutra tentang Air delapan pahala (Pa Kung Te Sui), yaitu air kolam yang saya selami dan minum air sepuas-puasnya.

DELUSI PENGHUNI DI NEGERI TERATAI VARGA BAWAH TINGKAT BAWAH
Pada umumnya, penghuni di negeri teratai varga bawah-bawah, ketika masa hidupnya di dunia fana, mereka sangat tekun menyebut nama sang Buddha Amitabha, dan berkeyakinan keras mereka akan lahir di Sukhavati Loka sesuai dengan Pranidhana-Nya Yang Maha Karuna. Namun mereka lahir di Sukhavati Loka masih membawa karma-karma buruknya (Tai Ye Wang Sheng).

“Apakah maksudnya sebutan ‘Pembawa serta karma-karma lahir di Surga Sukhavati Loka itu?’”
Penghuni Sukhavati Loka, pada masa hidupnya di dunia fana yang silam, pernah berbuat jahat (karma buruk), misalnya membunuh, mencuri, menipu, memfitnah, mencelakakan orang, mengadu domba, berzina, dan lain-lain. Sebenarnya, pelaku Dasakusala (Sepuluh Kejahatan) tidak diperbolehkan lahir di Tanah Suci, namun mereka pada hari tuanya, memperoleh mitra yang baik, bijaksana, dan memberkenalkan tentang Dharma, mengajar mereka membaca Sutra, sehingga mereka menyesal kesalahan mereka yang lampau, dan betul-betul bertobat, pada sisa masa hidupnya tekun menyebut nama Sang Buddha Amitabha, berkat kekuatan Pranidhana Sang Amitabha, mereka diterima lahir di Sukhavati Loka Varga Bawah-bawah. (Negeri teratai Bagian Bawah di sektor yang Bawah)

Sukhavati Loka dibagi 9 Varga atau 9 tingkat. Penghuni Varga bawah-bawah (Tingkat Bawah) jika ingin meningkat naik ke Varga Atas-atas (Tingkat Teratai Atas), mereka harus bertapa selama 12 kalpa. Satu kalpa sama dengan 16.798.000 tahun, maka mereka yang dari Varga Bawah-Bawah meningkat ke Varga Atas-Atas membutuhkan waktu 201.576.000 tahun. Namun kita yang hidup di dunia fana, harus bersyukur, karena bila selalu menghindari perbuatan jahat, melakukan kebaikan, tekun melakkukan meditasi, mungkin dalam 35 tahun kita dapat mencapai Varga Tengah, atau Varga Atas. Bahkan bila kita pada masa kelahiran yang lampau telah menanam bibit kebajikan, mungkin pada masa kelahiran ini, kita sudah dapat mencapai ke-Buddha-an.

Sesungguhnya “Badan Manusia Sungguh Sulit Diperoleh”., perkataan Sutra ini sangat benar, maka kita harus menghargai masa hidup sebagai manusia ini, jangan menyia-nyiakan masa emas ini. Maka tekunlah bermeditasi pada kesempatan yang baik ini, dengan kemungkinan besar kita akan lahir di Varga Atas-Atas, Ketika “Bunga Teratai Berkembang Akan Menjumpai Buddha” (Hua Kuai Cien Fo). Bhiksu Yin Kwan dan Bhiksu Hong Ti adalah contoh hidup (nyata), mereka lahir di Varga Atas-Atas. (hal ini akan saya terangkan di belakang).

Ketika kembali menceritakan dunia fana yang kita alami. Pada umumnya makhluk atau manusia di dunia fana terdapat 8 (delapan) delapan jenis penderitaan, yaitu lahir, tua, sakit, mati, yang diinginkan tidak tercapai, berpisah dengan yang dicintai, berkumpul dengan yang dibenci, pembaraan api panca skanda. Penderitaan-penderitaan tersebut tidak terdapat di Sukhavati Loka, biarpun di Varga Bawah-Bawah juga tidak menemukan penderitaan, di Sukhavati Loka hanya ada Suka tiada Duka, Maka disebut Dunia Suka Ria. Walaupun penghuni di Varga bawah-bawah untuk mencapai Varga Atas-Atas membutuhkan waktu 12 kalpa lamanya. Namun dijamin pasti akan meningkat setingkat demi setingkat, sampai tercapai Kebudhaan disana tidak ada jalan mundur, dan tidak perlu khawatir terjerumus kembali ke alam samsara. Seluruh proses pertapaan, dari awal sampai akhir, semuanya berlangsung dalam keadaan “Sangat Gembira”.

Bunga Teratai di Varga Bawah-bawah jauh berbeda dengan teratai di Bumi. Besarnya antara setengah sampai satu setengah kilometer persegi. Tingginya setinggi gedung 4 tingkat. Semua teratai memancarkan cahaya terang. Jika penghuni di dalam teratai merenungkan masa lampau, atau menimbulkan macam-macam delusi, maka warna bunga teratai segera pudar dan hilang sinarnya. Kebalikannya jika mereka tidak mengingat kembali karma-karma masa lampaunya, dalam batinnya bersih bening tanpa delusi, maka bunganya akan memancarkan aneka macam cahaya.

Berikutnya saya menceritakan dua contoh yang nyata: Kwan She Ing Phu Sa berkotbah, “Insan berperasaan pada beryuga-yuga (kelahiran-kelahiran) yang lampau, telah berulang-ulang membuat aneka macam karma. Karma yang berulang-ulang menjadi sifat./penyakit kronis, sampai terbawa mati, ikut serta lahir di Sukhavati Loka, kekotoran batin/delusi karma mereka pada waktu istirahat, dengan tidak terasa sering terpantul keluar dan tampil di layar bayangan mereka Hal demikian paling banyak terjadi pada penghuni Varga Bawah-Bawah. Mereka makin meningkat pada Varga Bawah Tengah, lalu Varga Bawah Atas, kotoran batin/delusi karmanya semakin berkurang dan hilang. Karma-karma yang sulit mereka lupakan pada umumnya cinta kasih yang mendalam terhadap orang maupun bernda yang dicintai/disayangi yang mereka tinggalkan di dunia fana. Misalkan cinta kasihnya terhadap ayah bunda, saudara-saudara, kekasih, dan lain-lain, atau kenikmatan terhadap kesohoran, pujian, makanan, minuman, harta benda yang mereka pernah miliki. Hal-hal tersebut sering terpantul kembali bagaikan impian. Mari saya membawa anda menyaksikan sendiri kenyataan tentang pantulan karma/delusi.”

Melalui berberapa belokan, kami menemukan bunga teratai yang pudar warnanya. Kami masuk ke dalam bunga teratai, terlihatlah sebuah gedung bertingkat yang besar dan megah, lebih megah ke dalam dari istana, mempunyai taman bunga yang ditata rapi dan indah sekali, benda-benda antik di ruang tamu halus-halus, dan tak ternilai harganya, semua dekorasi dalam ruang kamar halus mewah berselera tinggi, bagaikan rumah kediaman Perdana Menteri. Di dalam gedung dihuni puluhan sanak saudara (keluarga), orang, tua muda, laku-laku perempuan, semuanya berpakaian mewah-mewah. Banyak pula pelayan-pelayan keluar masuk, hiruk pikuk, seperti sedang mempersiapkan suatu pesta besar.

Saya bertanya kepada Kwan She Ing Phu Sa, “Mengapa di sini masih ada orang hidup berkeluarga seperti di bumi?”

Beliau menjelaskan,” Orang ini waktu mendekati ajalnya ,tekun melakukan kesucian, tulus berbakti kepada Buddha Amitabha, akhirnya berhasil lahir di Sukhavati Loka, namun sifat atau kebiasaan yang telah sangat melekat pada dirinya yang berkalpa-kalpa lamanya sulit dibersihkan dengan seketika.

Orang-orang di dalam rumahnya adalah ayah bundanya, isterinya, kekasihnya, saudara-saudaranya, anak cucunya, serta famili-familinya yang amat ia cintai pada masa lalu di dunia fana. Kasih sayangnya yang mendalam kepada mereka, sungguh sulit baginya untuk melupakan dan melepaskan mereka. Maka setiap waktu istirahat di dalam bunga teratainya, kerinduannya terhadap sanak keluarga dan orang-orang yang dicintai muncul, dengan seketika mereka berkumpul di sekelilingnya.

Sesuai dengan sebutannya, di Sukhavati Loka suka ria tanpa duka derita, maka penghuninya ingat ayah bundanya, ingat isteri datanglah isterinya, ingat gedung mewah, muncullah gedung mewah, ingin makan enak, hidangan enak lezat segera berada di depannya. Macam-macam peristiwa akan tampil bila ia hendaki, bagaikan impian ketika kita sedang tidur. Saat kita bermimpi kita menganggap segala peristiwa di dalam alam impian adalah sungguh dan nyata, namun setelah kita terbangun baru menyadari peristiwa-peristiwa, orang, gedung, harta benda.. dan sebagainya yang terjadi di dalam impian, hanyalah khayalan kosong belaka. Hal demikian disebut pantulan karma atau delusi adalah bayangan kosong, dan sesungguhnya keluarganya di bumi sedikitpun tidak mengetahui hal-hal tersebut.”

Uraian Kuan She Ing Phu Sat sangat bermakna. Coba kita renungkan hidup kita di bumi ini, bukankah suatu impian yang panjang, ketika sukma kita meninggalkan jasad, segala harta benda, orang-orang yang kita miliki dan cintai tidak dapat kita bawa serta,dan bukan lagi milik kita, bagaikan suatu impian panjang dan pada akhirnya menjadi kosong hampa.

Kuan She Ing Phu Sat melanjutkan, “penghuni di Varga Bawah-Bawah mempunyai delusi dan lamunan melebihi keinginannya di bumi. Karena di dunia fana adalah dunia materi yang banyak dan besar hambatannya. (misalnya, terhalang selembar kertas tipis saja, kita tidak dapat melihat benda di belakang kertas. Zat materi selalu berubah seperti metabolisme. Jika persyaratan cukup menjadi hidup, jika persyaratan kurang menjadi mati atau musnah), maka banyak hal dan benda dikehendaki tidak bisa diperoleh, sehingga timbul resah dan penderitaan! Di Sukhavati Loka tidak terjadi hal demikian, karena dunia ini bukan dunia materi. Apa yang kau inginkan (delusi), segera akan kau memperolehnya. Dan akan engkau nikmati tidak terbatas. Sukhavati Loka adalah Sunyata (kosong, hakekat), meliputi seluruh Dharma Dhatu. Alam Dewata (kayangan) tergolong alam Astral (mental, spiritual), walau penghuni disana memiliki kesaktian, namun masih terbatas. Masih ada tidak bisa tercapai. Dunia fana bersifat materi, mempunyai hambatan berlapis-lapis, maka yang diinginkan oleh manusia sulit tercapai.

“Apa bedanya Alam Delusi (impian) di dunia kita dengan alam hakiki yang murni bersih yang dicapai oleh sang Tathagata?”, tanya saya kepada Kuan She Ing Phu Sat?”

Petunjuk Beliau adalah,” Alam hakiki adalah alam kekal yang tidak pernah lahir pun tidak akan musnah. Alam tersebut senantiasa memancarkan beraneka macam cahaya. Dunia delusi adalah dunia yang tidak tetap, selalu berubah, tidak dapat memancarkan cahaya, setelah makhluk itu terbangun, akhirnya mereka baru sadar segala sesuatunya yang terjadi hanya khayalan kosong belaka. Seperti makhluk bumi bermimpi melihat gunung, sungai, manusia, benda, gedung-gedung dan kota, ketika mereka bangun dari impian, semuanya hilang lenyap. Maka peristiwa-peristiwa di dunia fana dikelabui oleh delusi menjadi fanatik terhadap materi, kuasa, dan nama. Mereka demi harta benda, sejengkal tanah, ‘kehormatan’ mengorbankan jiwa raganya, namun sampai akhir hayatnya, tidak sesuatupun terbawa oleh mereka, melainkan kedua tangan hampa saja. Lebih malang lagi sukmanya selalu berputar-putar di alam samsara tidak bisa bebas. Dan sesuai dengan karma mereka masing-masing memperoleh ganjaran yang setimpal. Ingin terbebas dari lautan derita (alam samasara), cepatlah bangun, maka pantai seberang tidak akan jauh lagi.“
:::
Menurut Kuan She Ing Phu Sat bahwa tuan rumah tadi sekampung dengan saya, dia orang dari propinsi Hik Kien, Kabupaten Phu Tien, berbahasa sama dengan saya. Lalu Kwan She Ing Phu Sat mengajak saya masuk ke dalam gedung.

Sesuai dengan penjelasan Kuan She Ing Phu Sat beberapa waktu yang lalu, bahwa timbulnya fenomena (kejadian yang khayal) disebabkan oleh delusi-delusi (pantulan karma yang terbawa dari masa-masa hidupnya di dunia fana), maka delusi musnah, fenomena juga segera hilang.

Di ruangan tamu terlihatlah banyak meja-meja penuh dengan hidangan yang lezat, kira-kira sedang mengadakan pesta besar. Kurang lebih 70 orang menghadiri pesta itu hiruk-pikuk, ramai sekali. Di tengah-tengah ruangan tamu seorang tua berusia 70-an,wajahnya penuh dengan senyum gembira, gayanya ala orang kaya di bumi. Saya tebak dia pasti tuan rumahnya. Melihat saya datang, dia menerima saya dengan ramah- tamah, dan mempersilahkan saya duduk.

Dia bertanya, “Dari manakah anda?”
“Saya baru datang dari Hik Kien, Phu Tien, kita adalah sekampung halaman.” Saya jawab dengan bahasa daerah Pu Tien.

Seketika dia mendengar sekampung halaman dengannya, luar biasa gembiranya ia mengangguk-anggukkan kepalanya tidak berhenti-henti, “Bagus ! Bagus!”

“Eh, ada pesta apa ini?” tanya saya.
Dia tersenyum simpul, balik bertanya, “Bagaimana anda bisa datang kemari?”

Lalu saya menunjuk Bhiksu Yen Kwan (Kwan She Ing Phu Sat) yang berdiri di dekat pintu, dan memperkenalkan sekalian, “Berkat bantuan besar Kuan She Ing Phu Sa, saya bisa datang ke sini, dan mengunjungi rumah anda.”

Setelah mendengar nama Kuan She Ing Phu Sat, si tuan rumah seolah-olah tersentuh aliran listrik, mukanya yang riang gembira segera berubah menjadi malu dan merasa bersalah, karena masih belum bisa meninggalkan kebiasaan yang tidak baik warisan hidup masa lampau.

Dengan seketika gedung mewah, tamu-tamu, keluarga yang kurang lebih 70 orang, suasana hiruk pikuk, hilang tanpa bekas.

Tuan rumah yang berumur 70-an,dengan sekejab berubah menjadi bocah 13-14 tahun, ia duduk tegak di atas bunga teratai, seluruh tubuhnya menjadi putih bening bagaikan kristal, yang amat elok indah.

Sesuai dengan penjelasan Kuan She Ing Phu sa, beberapa saat yang lalu, bahwa timbulnya fenomena (kejadian yang khayal) disebabkan oleh delusi-delusi (pantulan karma yang terbawa dari masa-masa hidupnya di dunia fana), maka delusi musnah, segera fenomena juga hilang.

Orang tersebut di atas pada masa silam masih terbawa sifat-sifatnya yang suka pamer, suka pesta yang sudah mendarah daging, sulit dihilangkan, kebiasaan-kebiasaan tersebut sering kambuh, maka fenomena pantulan karma dahulu selalu terjadi di bawah sadar.

Kemudian dia memperkenalkan diri kepada saya, “ Saya berasal dari Hok Kien, Bhu Dien, desa Han Ciang Tuo Tuo, bernama Lim Tao Yi, lahir di keluarga yang kaya, dan tersohor di desa Tuo Tuo. Masa hari tuaku telah memperoleh bimbingan dari seorang umat yang bijaksana, beliau menganjurkan saya senantiasa memenjatkan doa dan menyebut-nyebut nama Sang Buddha Amitabha, dan pada akhir hayatku saya dapat menyebut nama Sang Buddha Amitaba sebanyak 10 kali dengan tenang, akhirnya diterima lahir di Sukhavati Loka, namun sayang sekali hambatan karmaku bertumpuk, cinta kasihku terhadap keluarga dan keinginan terhadap harta benda, kesenangan duniawi belum bisa ditinggalkan semua, kekotoran batin ini sering mengacaukan jati diriku, lalu timbul delusi-delusi macam-macam. Kuan She Ing Phu Sa pernah dua kali memberi petunjuk kepada saya, cara membersihkan delusi-delusi yang sangat melekat pada diriku itu. Tetapi penyakit kronis ini suka kambuh, sungguh sulit dihilangkan, dan membuatku malu!”

Ketika kami pamit untuk berpisah, dia pesan kepadaku agar membawakan kabar untuk anaknya, yang bernama A Wang bertempat tinggal di Singapore, bahwa dia (Ayah A Wang) telah meninggal dunia di Tiongkok, dan lahir di Sukhavati Loka.

Kuan She Ing Phu Sa sering menganjurkan kepada yang lahir di Sukhavati Loka Varga Bawah-bawah, sering mandi dengan Air Delapan Jasa Pahala, supaya delusi, kotoran batin mereka dapat tercuci bersih, dan batinnya lambat laun akan menjadi bersih cerah bercahaya, maka jati dirinya akan tampil dengan ‘muka aslinya’.

Saya mengikuti Kuan She Ing Phu Sa datang ke sebuah tebing yang curam. Saat ini saya menjumpai suatu peristiwa yang aneh, seorang perempuan kurang lebih 20 tahun , mengenakan baju hitam, menangis tersedu-sedu di atas tebing tinggi itu. Hal ini sangat mengejutkan saya. “Mengapa di dunia suka ria yang tanpa duka, bisa ada orang menangis dengan sedih-pedih yang sangat memilukan?”

Kuan She Ing Phu Sa seolah-olah telah membaca isi hatiku. Beliau menganjurkan saya langsung bertanya saja kepada si dia. Saya segera mendekati dia sambil merangkapkan kedua tanganku dan menyapa, “Nona,mengapa anda menangis?” Ia segera mendongak kepalanya dan memandang kepada saya, ia tidak menangis, malahan tersenyum kepada saya dan berkata, “ Saya terkejut melihat tebing tinggi ini, segera mengingatkan saya peristiwa masa lampau yang sulit saya lupakan, sehingga timbul delusi tadi.” Selesai perkataannya segera menjelma menjadi gadis 13-14 tahun duduk tegak di atas sebuah bunga teratai yang berada di tengah-tengah kolam, seluruh tubuh menjadi putih bening bagaikan kristal, seraya tebing tinggi menjadi hilang tanpa bekas.

Kemudian ia menceritakan riwayatnya kepada saya, “Saya berasal dari Hok Kien, Kabupaten Suen Jhang, Bernama X X X, umur 21 tahun, saya adalah upasikha yang telah berlindung kepada Sang Buddha, pada tahun 1960 saya bertekad meninggalkan segala keduniawian menjadi biarawati, namun selalu dihalang-halangi orang, niat saya digagalkan, dengan pikiran sesat saya bunuh diri melompat dari tebing yang curam tadi. Berkat Maha Karuna Kuan She Ing Phu Sa, mengigatkan ketulusan hatiku, saya ditolong oleh-Nya, sehingga saya dapat lahir di Sukhavati Loka. Karena saya baru saja lahir di sini, maka delusi kotoran batin masih melekat padaku, kadang kala saya tidak dapat mengendalikan emosi diri, peristiwa masa yang lalu dengan sendirinya terpantul kembali, bagaikan mimpi buruk di dunia Saha, sehingga dalam batinku sering tampil peristiwa yang menakutkan dan mengejutkan. Walaupun Kuan She Ing Phu Sa sering menguraikan Dharma kepada kami, tetapi susah sekali melupakan peristiwa tadi.”

Saya menyampaikan simpatiku kepadanya sambil mengenalkan Kuan She Ing Phu Sa, “Lihatlah anda, bukankan Kuan She Ing Phu Sa sudah berada di samping kita.”

Ia segera bernamaskara kepada Kuan She Ing Phu Sa, Beliau mengajurkannya, “Cepat pergi ke kolam, mandi dengan Air Delapan Jasa Pahala, banyak mandi dengan air tersebut, karma burukmu pada masa silam akan berangsur-angsur tercuci bersih.”

Di dalam kolam teratai terlihat beberapa bunga teratai yang layu dan kering, saya bertanya kepada Kuan She Ing Phu Sa, “Mengapa bisa sampai demikian?”

Beliau menjelaskan, “Beberapa bunga teratai yang layu bahkan ada yang mati, oleh karena penghuni Sukhavati Loka, pada mula-mulanya sangat tekun mempelajari Dharma, rajin menyebut nama Sang Buddha Amitabha, mereka juga telah menabur bibit ke-Buddhaan (Teratai di Sukhavati Loka), dan bibit tersebut tumbuh dengan baik dan subur. Namun belakangan hari ia telah mundur, malas melakukan kebaktian, imannya terhadap Buddha telah koyak, bahkan membuat 10 kejahatan. Bunga teratai yang layu itu adalah milik si XXX, ia mula-mula berlindung kepada Buddha, belakangan menjadi pejabat, karena sibuk tidak pernah membaca, tidak menyebut nama Sang Buddha, tidak bermeditasi, tidak pantang makan daging (Cia Cay), akhirnya ia melakukan kejahatan, dihukum mati oleh pemerintah, maka tangkai teratainya telah putus.

Teratai yang kering mati lainnya, dimiliki oleh seorang berasal dari kabupaten Yung Tai, ia berlindung kepada Triratna, juga telah diberkahi oleh seorang Bhiksu, tekun belajar Dharma selama 3 tahun, mula-mula bunga teratainya tumbuh dengan subur dan indah, di kemudian hari ia lupa akan ajaran Buddha, dengan segala akal muslihat ia mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, tetapi akhirnya ia jatuh bangkrut, hutangnya bertumpuk, dan dikejar-kejar orang, dan mengakhiri hayatnya dengan membunuh diri, maka bunga teratai menjadi kering dan mati.

Saya bertanya, “Menurut almarhum Bhiksu Jhan Liang, kita menyebut sekali nama Buddha dapat menghapuskan dosa-dosa sebanyak butir pasir di sungai Gangga, dan orang tersebut tadi telah menyebut-nyebut nama Buddha selama 3 tahun, mengapa tidak ada pahalanya?”

Beliau menjelaskan, “Orang awam tidak pernah mendekati Dharma, ia berbuat jahat karena avidya (tidak pengertian), setelah memperoleh petunjuk dari umat yang bijaksana ia sadar akan kesalahan, betul-betul bertobat, dengan tulus ikhlas berdoa, mohon pengampunan atas kesalahannya, dengan tekun menyebut-nyebut nama Buddha. Kekuatan doa yang tulus ikhlas demikian tak terhitung banyaknya. Selanjutnya dengan keteguhan imannya terhadap Sang Buddha, sampai akhir hayatnya, ia lahir di Sukhavati Loka Varga Bawah-Bawah, walau membawa karma-karmanya yang lampau, namun telah bebas dari kekuatan hukum karma, maka ia telah terjamin tidak akan mundur dan maju terus sampai tercapainya ke-Buddha-an.”

Berhenti sejenak, Beliau melanjutkan, “Ada sebagian orang yang menyebut nama Sang Buddha hanya dibibir, namun dibalik hatinya berbisa seperti ular, dengan sembunyi-sembunyi mencelakakan orang, membuat kejahatan-kejahatan lainnya. Orang demikian tidak bisa lahir di Sukhavati Loka. Mereka yang telah menabur bibit bunga teratai di Sukhavati Loka, bila bibit baik mereka masih ada dan belum musnah, asalkan mereka menyadari kembali, mengaku kesalahannya, bunga teratainya akan segar bugar kembali memancarkan cahaya beraneka warna.”

Menurut Kuan She Ing Phu Sa, orang di dunia Saha baik kaya miskin, tinggi rendah pangkatnya, baik buruk tampangnya, pandai atau bodoh, tua atau muda, maupun laki-laki atau perempuan, dari semua lapisan masyarakat dan bangsa, asalkan mereka bertulus ikhlas, rajin membaca sutra, menyebut nama Sang Buddha, berhenti melakukan semua perbuatan jahat, banyak melakukan kebaikan, ucapan sesuai dengan hatinya, melakukan prinsip-prinsip ini sebaik-baiknya, niscaya bunga teratainya di tanah suci pasti tumbuh dengan kokoh dan subur, dan pada akhir hayatnya pasti dijemput Sang Buddha Amitabha, melalui proses penjelmaan Bunga Teratai lahir di Sukhavati Loka. Jika ragu-ragu, tidak konsisten, kadang-kadang rajin, kadang-kadan malas, biarpun bunga teratainya telah tumbuh, namun tidak akan subur dan indah. Apalagi mereka berbuat jahat, dan matinya karena 10 kejahatan, mereka tidak akan bebas dari alam samsara, pasti tidak dapat lahir di Sukhavati loka.

Sesaat kemudian tiba-tiba seorang biarawati mendekati sampai di depan saya, saya segera ingat dan kenal dia. Dia adalah Abbot di Vihara Cu San Yun di Propinsi Ciang Si, umurnya lebih dari 30 tahun. Ketika ia bertemu dengan saya, saking gembiranya ia menyapa saya dengan sedikit berteriak. “Hai! Cuan Cing She Siung (kakak seperguruan/ Saudara sedharma), Selamat Datang! Selamat Datang! Kung Si! Kung Si! (Ucapan Selamat).”

“Kapan anda lahir di sini, mengapa saya tidak memperoleh kabar?” tanya saya.

Ia menceritakan, pada tahun 1971, saya dipaksa keluar dari Vihara, dan saya tidak boleh menjalankan hidup suci (biarawati), saya tolak paksaan itu lalu saya ceburkan diri ke dalam sungai. Saya tahu tindakan bunuh diri termasuk tindakan 10 kejahatan, namun demi membela Dharma dan kesucian diri, saya tetap memilih membunuh diri. Berkat Maha Maitri Karuna Sang Buddha Amitabha, ingat teguhnya imanku, Beliau menerima saya lahir di Sukhavati Loka, saya juga pendatang baru.”

“Semua penghuni Sukhavati Loka Varga Bawah-Bawah telah menjelma menjadi bocah berumur 13 tahun, mengapa anda tetap dengan tampang seperti dahulu di dunia fana?” tanya saya.

“Saya mendengar kabar kedatangan anda, saya segera ingat kita bertemu pada masa lampau di bumi, maka segera kembali ke bentuk masa yang lampau, dan supaya mempermudahkan anda mengenal saya. Bagaimana kabar Saudara Cuan Chong (saudara seperguruan dari Bhiksu Cuan Ching) ?” Jika bertemu dia, tolong sampaikan keadaanku disini, agar mendorong dia lebih tekun berbakti, dan rajin melakukan pertapaan.”


PAGODA VIMALA VIPASSANA DAN AULA DHARANI BAHASA
Tiba-tiba terdengar bunyi genta, Kuan She Ing Phu Sa memberitahu saya, bahwa bunyi genta itu menandakan khotbah akan dimulai. Saat ini terlihat berpuluhan ribu bocah laki-laki berumur 13-14 tahun, mengenakan baju merah, pinggangnya diikat dengan pita kuning emas, kepala berkonde dua, semuanya berseragam, berbaris dengan rapi, badan, kepala, tangan, kaki mereka semuanya putih bening bagaikan kristal. Mereka lari berkumpul di bawah podium teratai. Mereka saling beranjali, saling memberi hormat. Kemudian musik dimulai, riang merdu terpesona, segera burung-burung beraneka warna melayang-layang mengitari di atas band musik, dan berkicau bernyanyi mengikuti irama musik, dalam syairnya seolah-olah menyebut nama Sang Buddha. Tidak lama kemudian dari podium muncul seorang Bodhisattva. Beribu-ribu jenis cahaya terpencar dari tubuhnya, sungguh indah dan mengagumkan.


“Beliau adalah Mahasthamaprapta Bodhisattva yang pada hari ini memperoleh giliran memimpin tata cara serta memberi khotbah.: Bisik Kuan She Ing Phu Sa.

Saat ini beraneka warna bunga turun dari angkasa. Hujan bunga indah ini disertai berbagai macam benda aneh cantik dan amat berharga. Bocah-bocah mengangkat tepi bawah salju untuk menadahi bunga-bunga dan benda-benda yang turun Kemudian ruang langit yang luas itu dipenuhi dengan kilauan ribuan kilat, sinar laser yang beraneka warna, membentuk bunga, figura, macam-macam bagaikan kembang api luar biasa indahnya.

Di Varga Bawah-bawah ada sebuah “Aula Dharani Bahasa”. Maksudnya Dharani Bahasa adalah setiap kata yang diucapkan oleh Sang Bodhisattva di Aula tersebut akan dimengerti oleh setiap hadirin seperti bahasa itu sendiri, walaupun para hadirin terdiri dari berbagai bangsa yang hanya mengerti bahasa bangsanya masing-masing. Dharani Bahasa ini tanpa melalui penterjemah para pendengar dapat langsung mengerti sejelas bahasa sendiri.

Di samping aula Dharani Bahasa ada lagi sebuah pagoda yang sangat tinggi sekali, yang disebut “Pagoda Vimala Vipassana” (Pagoda Visualisasi Kemurnian). Bagi penghuni di dalam pagoda yang ingin naik ke atas atau turun ke bawah tidak menggunakan lift seperti di bumi, melainkan mereka hanya menggunakan kekuatan batin. Batin mereka memerintahkan naik segera mereka naik, turun langsung turun. Seperti yang telah kami sebut tadi, bahwa badan mereka bukan terbentuk dari daging darah melainkan dari gas yang tembus pandang. Maka mereka kapan saja di mana saja, walaupun terhadang oleh tembok tebal, tiang emas yang besar, mereka dapat menembusi seolah-olah bergerak di alam hampa tanpa kesulitan. Walau dalam sebuah ruang sempit yang kira-kira dapat berisi ratusan orang, lalu ditambah sampai ribuan orang, bahkan ratusan ribu orang, namun kita yang di dalam ruang tidak merasa terimpit dan berdesak-desakan.

Dari Pagoda Vimala Vipassana yang amat besar itu, kita dapat memantau planet-planet, bintang-bintang dari sepuluh penjuru di alam semesta. Misalnya kita ingin melihat bumi kita kemudian matahari. Mula-mula terlihat bumi hanya sebesar sebutir pasir kecil, namun kemudian batin kami ingin mengamati keadaan di bumi, andaikata kami ingin melihat keadaan di benua Asia, maka bagian benua Asia akan membesar sehingga jelas dipandang. Atau kami ingin lihat keadaan Tiongkok, tembok besar, propinsi Ho Kien, bahkan sebuah rumah sampai keadaan di dalam rumah, tempat atau benda yang ingin dilihat akan satu persatu tampil di depan mata. Seperti ada alat pengatur kaca pembesar di dalam teleskop yang super otomatis. Pendek kata Pagoda Vimala Vipassana tidak lain adalah sebuah observatorium untuk memantau seluruh alam semesta, tiada satu sudut pun yang tidak dapat dijangkau.

referensi:
Sent: Tuesday, January 06, 2009 11:47 AM
Subject: [parasohib] Kisah Perjalanan Ke Surga Sukhavati - [1/2]
http://groups.yahoo.com/group/parasohib/message/662


(...bersambung...)