Kamis, 04 Februari 2010

Kisah Perjalanan ke Surga Sukhavati (1/2)

Ceramah yang diberikan oleh Biksu Cuan Cing
Aula Nan Hai Pu Tuo San, Singapore pada April 1987

Para Bhiksu, para Pemuka masyarakat dan para hadirin sekalian:
Hari ini kita dapat bertemu dan berkumpul di sini, berkat rahmat Buddha dan karena kita semua mempunyai hubungan erat dengan Buddha, dan pertalian ini telah kita pupuk sejak kelahiran kita yang lalu bahkan beberapa kelahiran yang lalu, maka hari ini kita memperoleh kesempatan bersua, bertatap muka.

Dengan kesempatan ini saya akan menceritakan pengalaman diriku di Ci Le Se Cie (Surga Sukhavati), dan semua yang saya lihat dan dengar di Surga Sukhavati akan saya sampaikan kepada para hadirin semuanya.

Yang akan saya bicarakan hari ini dapat disimpulkan dalam 5 point sebagai berikut:

1.Bagaimana saya dapat pergi dan sampai di Surga mengapa saya memperoleh kesempatan ke Surga Sukhavati? Lamanya saya berkunjung di Surga Sukhavati, dari awal sampai pulang, menurut perasaanku kurang lebih 20 jam. Tetapi sesungguhnya mulai dari saya meninggalkan dunia sampai dengan saya kembali di dunia ini adalah selama lebih dari 6 tahun 5 bulan. (NOTE.1)

2.Dalam perjalanan menuju ke Surga Sukhavati, terlebih dahulu saya singgah di Gua Arahat, Khayangan Trayastrimaas, Khayangan Tusita, terakhir sampai di Surga Sukhavati. Surga Sukhavati terbagi 3 tingkat yaitu: Teratai Atas, Teratai Tengah, Teratai Bawah, lalu masing-masing tingkat terbagi lagi menjadi sub bagian, secara terinci terbagi 9 tingkat alam. (9 tingkat alam yaitu: 9 negeri teratai, 9 padma ksetra terinci sebagai berikut: Varga Atas Atas, Varga Atas Tengah, Varga Atas Bawah, Varga Tengah Atas, Varga Tengah Tengah. Varga Tengah Bawah, Varga Bawah Atas, Varga Bawah Tengah, Varga Bawah Bawah).

3.Manusia yang bagaimanakah yang akan lahir di tingkat mana di Surga Sukhavati? Dengan kata lain, manusia di dunia ini dengan kriteria apa, sesuai dengan jasa dan perbuatannya/karmanya, kelak akan menempati di Varga mana di Surga Sukhavati? Serta akan saya uraikan keadaan di setiap Varga. Umpanya bentuk tubuh dan ciri khas dari penghuni di masing-masing Varga, tentang sandang pangan, tata hidup, luas dan tingginya di masing-masing Varga.

4.Penghuni di Surga Sukhavati dari Varga rendah ingin naik ke tingkat Varga yang lebih tinggi, usaha atau kebaktian apa yang harus mereka lakukan? Setingkat demi setingkat, dari bawah ke atas, sehingga mencapai Kebuddhaan, penghuni disana tetap harus berusaha maju sampai ke Varga tertinggi.

5.Ada kenalanku yang menjadi penghuni di sana berpesan dan mengirim salam serta nasehat kepada familinya di dunia fana, ketika saya pamit pulang ke dunia.
::::
KEMUKJIJATAN DI PERJALANAN
(KWAN ING PHU SA MEMBAWA SAYA KE ALAM SUCI)

PERJALANAN AWAL
Peristiwa ini terjadi tahun 1967 bulan 10 tanggal 25 penanggalan Imlek. Hari itu saya sedang bermeditasi di Vihara Mai Sie Yen (Biksu Chuan Cing saat itu menjabat kepala biara di Vihara tersebut), tiba-tiba terdengar ada orang memanggil dan mendorong saya berjalan maju terus ke depan. Saya seolah-olah sedang mabuk dan tanpa sadar terus keluar dari Vihara. Samar-samar saya diberitahu akan berangkat ke Tek Hue (jarak antara Vihara Mai Sie Yen dan Ciu Sien San di Tek Hue kurang lebih 100 km) saya berjalan dan terus berjalan. Saya tidak merasa lelah dan lapar. Jika haus saya menadah air sumber dengan kedua tanganku, dan meminumnya sampai hilang dahagaku. Entah berapa lama berlalu, pendek kata, sepanjang perjalanan itu saya tidak pernah beristirahat dan tidur. Menurut ingatanku, hari tidak pernah gelap.

Saat itu revolusi kebudayaan sedang berkecamuk di seluruh Tiongkok. Ketika saya berjalan mendekati Ciu Sien San, seolah-olah mendengar kata orang di perjalanan, “hari ini bulan 10 tanggal 25”, pada masa revolusi kebudayaan keadaan dimana-mana kacau balau. Sebaiknya kita pilih waktu malam hari untuk bepergian, saya pun tidak terkecuali....”

Saya ingat esok harinya jam 03.00 pagi. Saya bersua dengan seorang Bhiksu Tua (belakangan saya tahu beliau adalah penjelmaan Kuan Ing Phu Sa). Mula-mula kita tidak saling mengenal, karena beliau mengenakan jubah bhiksu, dengan sendirinya saya menyambutnya dengan merangkapkan kedua tangan (anjali). Beliaupun menjawab sambutan saya dengan sikap serupa.

Setelah saya memperkenalkan nama saya, Bhuksu tua lalu memperkenalkan diri, “Saya bernama Yen Kwan, hari ini saya berjodoh dapat ketemu dengan anda. Marilah kita sama-sama melancong ke Ciu Sien San, Sudikah Anda?”

Karena kami sama tujuannya, maka saya mengangguk kepadanya, mengatakan setuju.

Kemudian kami berjalan sambil bercakap-cakap. Beliau seolah-olah mengetahui riwayatku sedetail-detailnya. Beliau bercerita banyak tentang hukum karma. Cerita-ceritanya sangat menarik seperti legenda. Beliau mengungkapkan kelahiran-kelahiranku pada masa lampau. Misalnya Beliau menunjuk pada saya bahwa pada kelahiranku yang keberapa tepat pada jaman apa, berada di kota apa, dan peristiwa apa yang terjadi pada diriku pada saat itu. Setiap katanya sangat mengesankan, saya ingat semua petunjuk-petunjuknya (7 tahun kemudian Bhiksu Chuan Chin menelurusuri setiap pelosok Tiongkok sesuai dengan petunjuk Bhiksu Tua itu. Setiap kelahiran saya yang lampau betul-betul terbukti pernah ada orangnya, waktu dan tempat semua tepat sesuai dengan petunjuk Beliau. Hampir seluruh kelahrian- kelahiranku yang lampau hidup sebagai Bhiksu. Kecuali sekali sebagai Upasakha yang saleh, lahir pada Dinasti Ching jaman Kaisar Gong Hi (Gong Si), tahun 1662-1722,bertempat tinggal di daerah Sang Yung, desa Kueke, waktu itu bernama The Wan Shi (Cen Yen Shi), berputra 6 laki-laki dan 2 perempuan, diantara putra-putranya ada seorang yang memperoleh gelar Sarjana ‘Cin Shi’. Beliau telah menyelidiki alamat, kuburan-kuburan mereka serta waktu semuanya cocok dan sampai sekarang ada 121 keluarga, berjumlah lebih dari 450 orang)

Kami bercakap-cakap sepanjang jalan, tanpa terasa sudah sampai di Ciu Sien San (Gunung Sembilan Dewa ini adalah gunung tertinggi di Propinsi Hok Kien). Di atas gunung tersebut banyak terdapat gua-gua, yang terbesar bernama Gua Maitereya, gua inilah tempat tujuan kami. Di dalam gua terdapat sebuah altar dengan sebuah rupang Buddha Maitreya untuk dipuja. Oleh karenanya dinamakan Gua Maitreya.

Akan tetapi ketika kami naik sampai dipertengahan Gunung Ciu Cien, suatu pemandangan luar biasa, ajaib tampak di depan mata kami.

Jalan pegunungan yang sempit di depan kami, tiba-tiba berubah menjadi sebuah jalan yang lebar terbuat dari batu-batu rata dan halus disusun dengan sangat rapi dan bagus. Karena halusnya jalan itu sehingga dapat memantulkan sinar remang-remang. Kami berjalan terus sampai ke ujung gunung, di depan kami bukan lagi Gua Maitreya yang lama, melainkan suatu alam dunia dari pada yang lain terpampang di muka kami. (NOTE.2)

Pandangan di depan kami menjadi dataran luas, sebuah vihara yang besar yang sangat megah dan mewah, jauh lebih megah dari istana kuno di Beijing. Dua pagoda tinggi berada di kanan kiri Vihara. Tidak lama lagi kami tiba di gapura depan Vihara.

Gapura terbuat dari batu putih, gaya rancangannya halus dan megah. Di atas gapura terpampang papan nama terukir beberapa aksara berwarna emas yang tidak saya kenal (bukan aksara Cina), berkilau-kilau sinar keemasan. Di muka gapura telah berdiri empat Bhiksu berjubah merah, pinggang mereka dengan ikatan sabuk emas, tampaknya agung dan mulia. Mereka segera menyambut kami dengan berlutut dan sembah sujud di depan kami, dan kami pun segera membalas sambutannya dengan membungkukan badan. Saya heran dan aneh, belum pernah saya jumpai pakaian seragam yang dikenakan oleh Bhiksu penyambut itu, sedikit mirip jubah para Lhama di Tibet.

Mereka sambut kami dengan senyum dan berkata “Selamat Datang! Selamat Datang!” lalu mempersilahkan kami masuk.

Memasuki gapura melalui beberapa bangunan-bangunan megah dan berkilau-kilau bagaikan istana. Kami berjalan ke dalam lagi, sebuah lorong menjulur panjang ke dalam. Di kedua sisinya di hiasi tanaman bunga yang segar dan warna-warni serta pepohonan hijau. Melalui jendela kami lihat banyak pagoda dan balai pertemuan serta aneka macam bangunan.

Tidak lama lagi rombongan kami sampai di sebuah aula istana yang besar, terpampang 4 aksara emas, yang berkilau-kilau keemasan, di depan aula, bukan bahasa Cina, juga bukan bahasa Inggris, saya tidak mengerti apa artinya, lalu saya bertanya kepada Bhiksu Yen Kwan,menurut beliau artinya “Arahat Lokha di Langit Tengah”. Dugaan saya ini adalah tempat kebaktian para arahat, salah satu sarana bagi mereka untuk memperdalam Dharma. Sampai sini saya sadar bahwa disini bukan lagi dunia fana yang kita huni. Sekarang saya hanya masih ingat salah satu dari 4 aksara itu, tiga aksara lainnya sudah lupa.

Saat saya berjumpa Bhiksu Yen Kwan kira-kira jam 3 pagi. Dan saat ini telah mendekat fajar, banyak orang keluar masuk istana, segala ras bangsa berkumpul di sini, ada yang berkulit kuning, putih, coklat, hitam, hampir semua ras di dunia fana berkumpul disini, namun yang mayoritas adalah kulit kuning. Laki-laki, perempuan, tua, muda semuanya ada. Kostum dan pakaian mereka beraneka ragam, semuanya bersinar-sinar. Mereka membentuk kelompok-kelompok, setiap kelompok terdiri dari beberapa orang, ada yang melatih silat , ada yang bersenang-senang dengan menari, ada yang asik bermain catur, ada yang duduk bersamadi, dll. Mereka semua bersuka ria, mreka tersenyum ramah serta mengangguk-anggukkan kepalanya ketika bertatap muka dengan kami, tetapi kami tidak diajak berbicara atau diwawancara.

Masuk ke dalam Aula, saya lihat 4 aksara besar lagi, Bhiksu Yen Kwan mengatakan kepada saya bahwa artinya adalah “Aula Pahlawan Besar”. Segera ada dua Bhiksu tua mendekati dan menyambut kami, salah satu Bhiksu berjenggot putih panjang, dan satunya tidak. Mereka lihat kedatangan Bhiksu Yen Kwan, segera tiarap di depan Beliau, menunjukkan penghormatan yang tertinggi. Saya mulai berpikir “Siapa gerangan sang Bhiksu tua ini? Beliau pasti bukan bhiksu sembarangan, sehingga para arahat di Langit Tengah memberikan penghormatan yang tinggi kepada Beliau?”

Saat masuk ke dalam Aula, saya mengamati isi dan keadaan di dalam ruangan besar ini, hanya tampak asap putih dupa melingkar di atas, dan mengharumkan seluruh ruangan Aula. Lantainya mengkilat terbuat dari batu putih, yang mengherankan saya yaitu di dalam Aula tidak ada altar dan tidak ada sama sekali Rupang Buddha, tidak seperti lazimnya sebuah Vihara. Namun di atas meja besar penuh dengan persembahan, terutama bunga-bunga sebesar bola basket, bundar bulat, dan masih segar-segar. Serta macam-macam lentera berwarna-warni, indah sekali.

Kami duduk di ruangan tamu, segera bocah itu keluar mengantarkan dua gelas air, rambut si bocah itu di belah dua, diikat dan dirias menjadi dua konde kecil yang rapi bagaikan dua tanduk di kepalanya. Ia mengenakan baju hijau, pinggannya diikat dengan pita emas, tampaknya bagus sekali. Bhiksu Tua yang berjenggot mempersilahkan kami minum air putih yang dibawa bocah tadi. Saya sekali teguk segera habis setengah gelas, rasanya manis, sejuk, segar. Bhiksu Yen Kwan ikut minum juga. Sehabis minum badanku merasa menjadi semangat, rasanya tenagaku berlipat ganda, sekujur badanku merasa segar bugar, dan hilanglah semua lelah.

Setelah Bhiksu Yen Kwan membisiki sesuatu kepada Bhiksu berjenggot, segera bocah itu disuruh mengantar saya ke kamar mandi, di sana terletak sebuah ember putih terbuat dari kuningan, isi penuh dengan air bersih, selesai cuci muka dan mandi, lalu saya mengenakan jubah abu-abu yang telah disiapkan. Batin saya merasa luar biasa enak dan senang. Saat ini saya sadar bahwa saya sedang berada di alam suci, kegembiraanku sungguh sulit dilukiskan.

Kembali ke ruang tamu, saya segera berlutut di depan Bhiksu berjenggot, dan bernaskara 3 kali, lalu saya mohon Beliau memberikan petunjuk tentang hari depan perkembangan agama Buddha. Beliau tanpa menjawab sepatah katapun, mengangkat Mao-Pit (kuas pena Cina) dan menulis 8 aksara Cina di secarik kertas sebagai berikut:

Fo - Ce - Sin - Cuo
Ciau - Yu - Mo - Cu

Lalu kertas itu diberikan kepada saya. Ketika saya amati arti 8 aksara Cina ini, Bhiksu yang lain menjelaskan, “Anda boleh membaca 8 aksara ini mulai dari manapun, dari kiri ke kanan, atau kanan ke kiri, dari atas ke bawah, ataupun dari bawah ke atas, sekarang saya memberikan 36 kalimat sebagai contoh, dengan 36 kalimat ini, anda dapat mengetahui perkembangan agama Buddha dalam abad ini, jika anda meningkatkan secara permutasian (pertukaran) 8 aksara ini dapat membentuk kalimat sebanyak 840 buah yang tidak sama, dari isyarat 840 buah kalimat itu, anda akan mengetahui perkembangan Agama Buddha di seluruh dunia sepanjang masa, sampai lenyapnya Agama Buddha.”

Sementara ini saya beritahukan 18 kalimat yang pertama, yang meramalkan peristiwa-peristiwa yang sudah lalu/ terjadi, 18 kalimat berikutnya masih menunggu situasi dan kondisi apabila mengijinkan. (Penjelasan 18 kalimat pertama lihat di lampiran). Selesai pembahasan, Bhiksu mempersilahkan saya istirahat. Bocah kecil membawa saya ke sebuah kamar, di dalam kamar tidak ada ranjang hanya sebuah bangku besar. Tempat duduk bagian atas dibungkus kain sutra halus. Duduklah saya di atas bangku itu, nyamannya luar biasa, seolah-olah mengambang di udara, seperti duduk tanpa alas.

Tidak lama saya dengar suara Bhiksu Yen Kwan memanggil saya, saya segera keluar kamar. “Mari kita ke Khayangan Tusita (langit ke-4 di Karma Dhatu), bersembah sujud kepada Maitreya Bodhisattva, serta guru Anda Bhiksu Si Yin (Xu Yun). “Saya berterima kasih kepada Bhiksu Yen Kwan dan menunjukkan kegembiraan saya. Ketika saya ingin berpamitan dengan kedua Bhiksu Tua, “Tidak usah, waktu tidak banyak!” kata Bhiksu Yen Kwan, maka kami meninggalkan Arahat Loka tanpa pamitan, segera menuju ke kayangan Tusita.



BERJUMPA BHIKSU SI YIN DI SURGA TUSITA
Sepanjang perjalanan kami terlihat banyak bangunan gapura, istana, dan pagoda yang semuanya berkilau keemasan, saking banyaknya bangunan yang indah-indah mata kami tidak sempat menikmati satu persatu. Lagipula Bhiksu Yen Kwan berkali-kali mendesak supaya mempercepat perjalanan kami. Beliau selalu berkata, “Waktu sangat sedikit !” (Belakangan saya baru sadar bahwa waktu di Kahyangan berbeda dengan waktu di dunia kita. Kita tidak boleh mampir di suatu alam terlalu lama. Andaikata kita tidak cepat-cepat, saat pulang ke bumi boleh jadi sudah beberapa ratus atau ribu tahun berlalu.)

Kami melalui jalanan yang terbuat dari batu putih yang mengkilat, beraneka jenis bunga dan rerumputan di lereng bukit, harum semerbak terbawa oleh angin sepoi-sepoi, badan kami menjadi segar dan bersemangat. Entah melewati berapa tikungan dan berjalan beberapa kilometer, tiba-tiba di depan kami terpampang sebuah jembatan besar, aneh bin ajaib, hanya bagian tengah dari jembatan yang terlihat, tanpa dua ujung kaki, seolah-olah jembatan itu terapung di udara. Saya sedang kebingungan entah harus naik dari mana. Melihat ke bawah jembatan, wah sangat mengerikan, jurang lebar dalam tak terlihat dasarnya.

Ketika saya sedang maju mundur dan terus bertanya dalam hati, bagaimana mungkin saya dapat menyeberang, Bhiksu Yen Kwan menegur saya, “Sehari-hari Sutra apa saja yang anda baca?”, “Biasanya saya membaca Surangama Dharani”. Beliau menyuruh saya segera memanjatkan mantra. Saya mulai komat-kamit mengucapkan mantra. Seluruh mantra Suranggama Dharani terdapat 3000 kata. Saya baru mengucapkan 20 s/d 30 kata, pemandangan di depan kami dengan segera berubah. Tiba-tiba jembatan itu memanjang dan kedua ujung kaki menyambung ke darat. Warna jembatan menjadi kuning emas, dan memancarkan sinar keemasan. Jembatan emas itu dihiasi pula tujuh macam intan permata yang berharga, bagaikan pelangi berwarna tujuh melengkung di angkasa, megah indah tiada taranya. Pagar pada dua sisi jembatan dihiasi lampu-lampu dari mutiara yang terang benderang, memancarkan sinar warna-warni. Di atas pintu gerbang jembatan terpampang 5 aksara besar mirip dengan aksara yang terpampang di istana yang baru kami singgah tadi. Tebakanku artinya adalah, “Jembatan Arahat Loka di Langit Tengah”. Sesudah menyeberangi jembatan, kami istirahat sejenak di pavillion persinggahan. Saya tanya kepada Bhiksu Yen Kwan tentang peristiwa tadi, “mengapa sesudah dibacakan mantra, kedua ujung kaki jembatan baru tampak?”. Beliau menjelaskan, “Karena sebelum mantra dipanjatkan, jati dirimu yang murni masih terselubung, sehingga menghalangi padanganmu dan Anda tidak dapat melihat alam yang suci, alam yang hakiki . Berkat kekuatan mantra menyapu bersih kabut-kabut gelap karma burukmu, maka jati dirimu yang murni bersih tanpa halangan dan dapat melihat alam yang hakiki. Seperti orang bangun dari mabuk/sesat. Sebuah pepata kuno berbunyi demikian, “10 ribu mil angkasa pun kulihat, itulah sebabnya.”

Kami melanjutkan perjalanan kami, sambil berjalan saya memanjatkan mantra, tiba-tiba sebuah bunga teratai mengalasi kakiku, setiap kelopaknya bagaikan lazuardi memancarkan sinar hijau kebiru-biruan, daun-daunnya juga berkilau-kilau kehijauan. Saya berdiri di atas bunga teratai bagaikan lepas landas naik ke angkasa melaju cepat seperti angin kencang. Telingaku mendengar angin menderu, namun badan saya tidak merasa di terpa angin. Kecepatannya melebihi pesawat, terlihat benda-benda, bangunan, pepohonan dan pemandangan lain di depan dengan cepat merebah ke belakang.

Tak lama lagi, badan merasa semakin hangat, kami tiba di sebuah bangunan yang mirip Tian An Men, tetapi lebih luas dan lebih megah dari Tian An Men, pilar-pilar berukir naga dan phoenik, semuanya gemerlapan, berbentuk wuwungan genteng ala istana lama di Beijing, tetapi seluruhnya berwarna putih perak, seperti sebuah benteng raksasa terbuat dari perak putih, agung, dan megah.

Pintu gerbang istana perak putih yang tinggi besar, di atasnya terukir aksara-aksara dalam 5 bahasa, baris yang paling atas tertulis 3 huruf Cina “Nan Tien Men” (Pintu Langit Selatan, di bagian selatan Caturmaharajakayika yang dibawah pimpinan Maharaja Virudhaka). Di dua sisi dalam pintu gerbang berdiri banyak dewa-dewa penyambut, yang berkostum pejabat sipil, mirip kostum pejabat Dinasti Ching (Manchuria), penuh hiasan intan mustika berkilau-kilau, indah megah berdiri di satu sisi, di sisi lainnya berdiri yang berkostum militer, kostumnya seperti baju baja kuno, bersinar kemilau, berdiri tegap gagah berwibawa. Mereka semuanya beranjali menyambut kedatangan kami, tetapi tidak mengucapkan sepatah katapun dengan kami.

Sepuluh langkah dari pintu masuk, terpampang sebuah cermin besar, guna mencermin atma/sukma kita untuk membedakan yang bersih dan yang kotor. Tiada suatu atma yang kotor dapat mengelabui sorotan dari cermin ini.

Saya lihat banyak pula pandangan-pandangan yang serba aneh, benda seperti pelangi, seperti bola, seperti bunga, seperti kilat, berpapasan melewati sisi badanku. Dibalik mega dan kabut, remang-remang terlihat puncak-puncak bangunan, wuwungan genting istana, pucuk lancip pagoda, tinggi rendah, jauh dekat, seperti rimba dan pegunungan Bhiksu Yen Kwan berkata “itulah kahyangan alam dewa Triyamsa (tingkatan alam dewa kedua dari Karmadhatu), setingkat lebih tinggi dari Catur maharajakayika. Dibawah pimpinan Giok Hong Tai Te, beliau menguasai 4 penjuru, meliputi 32 alam dewa.”

Tanpa mampir, kami dengan terburu-buru langsung melewati beberapa tingkatan alam dewa, tiba-tiba terdengar Bhiksu Yen Kwan berkata, “sekarang kita telah tiba di alam Tusita”. Sekejab mata kami sudah berada di depan pintu gerbang istana, kurang lebih 20 orang berdiri disana menyambut kedatangan kami, diantaranya seorang yang tidak dapat saya lupakan, yaitu mahaguru Bhiksu Si Yin (salah satu Bhiksu yang paling terkenal di tiongkok pada abad ke 20). Tak terduga Bhiksu Miau Lien dan Master Fu Yung juga berada di antranya, mereka semuanya mengenakan jubah sutra yang merah, indah, dan mewah sekali.

Saya segera berlutut menyembah sujud kepada guru Si Yin, saya hampir menangis tak dapat menahan keharuan karena dapat bertemu kembali dengan guru yang kucintai. Sang guru segera menenangkan saya, “ tenanglah, tenang! Tiada sesuatu yang perlu digembirakan dan disedihkan!, tahukah anda, siapa beliau yang membawa anda kesini?. “Beliau Bhiksu Yen Kwan”, jawabku spontan, saya terkejut setelah guru mengungkapkan jatidiri Bhiksu Yen Kwan, Beliau adalah yang disebut-sebut anda dari hari ke hari yaitu “NAMO TA CHE TA PEI CIU KHU CIU NAN KWAN SHE ING PHU SAT (Namo Maha Maitri Maha Karuna Sang Penolong AVALOKITESVARA BODHISATTVA”). “

Bukan kepalang kagetnya saya ! Segera saya bernamaskara di depan Bhiksu Yen Kwan yang merupakan manifestasi (jelmaan) KWAN SHE ING PHU SAT. Dalam batinku, saya mohon ampun beribu ampun, namun karena merasa luar biasa sehingga saya tidak dapat mengutarakan setengah patah katapun, benar-benar seperti dikatakan makhluk kecil tidak dapat mengenal benda sebesar gunung Thai.

Makhluk yang terlahir di alam dewa Tusita, tidak sama dengan manusia di bumi. Tinggi badan yang terlahir di alam Tusita mempunyai tinggi badan 3 Cang (sama dengan 10 meter) namun berkat bantuan dari Bhiksu Yen Kwan (Namo Kwan She Ing Phu Sat) badan saya ikut menjadi besar sesuai dengan keadaan disana, tinggi badanku menjadi 10 meter setinggi makhluk-makhluk di sana.

Pesan sang guru kepada saya, bahwa sepulang ke alam dunia (manusia), saya harus rajin berbakti dan melatih kesabaran, ketabahan (menjalankan Virya Paramita dan Ksanti Paramita), dengan melalui banyak cobaan, karma buruk kita baru akan tercuci bersih sedikit demi sedikit, juga pesan untuk merenovasi Vihara-Vihara tempat ibadah yang rusak.

Di alam Dewa Tusita juga terdapat laki-laki dan perempuan, tua dan muda mereka mengenakan baju mirip mode baju dinasti Ming.
:::
PETUNJUK MAITREYA BODHISATTVA
Kemudian, kami bersamaan masuk ke halaman dalam di Alam Dewa Tusita untuk memberi sujud dan hormat kepada Maitreya Bodhisattva, di dalam aula Istana Maitreya yang besar dan megah tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, dimana-mana berkemilauan warna keemasan, di atas pintu gerbang istana tertulis 3 huruf cina besar “To Suai Tien” (Alam Dewa Tusita), dengan warna emas cerah dan berikutnya 4 baris aksara bahasa lain saya tak mengenalnya. Di aula itulah saya bertemu dan melihat dengan mata kepala sendiri Maitreya Bodhisattva.
Di luar dugaan bahwa rupa Maitreya Bodhisattva jauh berbeda dengan rupang Maitreya yang kita puja di dunia, yang berbadan gemuk, perut buncit, selalu tertawa dengan mulut yang lebar. Maitreya Bodhisattva yang saya temui sesungguhnya sedikit keren, berwibawa dengan Dvatrimsa-maha-purusa-laksana-nya (32 tanda fisik agung) serta Asityanuvjinjani-nya (80 bentuk keindahan buddha) benar-benar sangat langka dan mengagumkan sekali.

Di dua sisi Aula dipenuhi dengan para Bodhisattva, ada yang duduk dan ada yang berdiri, mereka mengenakan jubah dan kostum yang beraneka ragam, namun mereka kebanyakan mengenakan Kasaya merah yang gemerlapan. Mereka masing-masing mempunyai singgasana teratai sebagai tempat duduk atau alas kaki. Saya maju ke depan berlutut dan bernamaskara di hadapan Maitreya Bodhisattva, lalu mohon petunjuk Beliau. Beliau bersabda, “ Pada masa yang akan datang Aku akan menjelma di dunia fana (60.000.000.000.000 - enam puluh triliun tahun), setelah “Lung Hwa San Hwe” (Persamuan Puspa Naga ke-3). Saat itu tiada pegunungan yang tinggi di planet Bumi. Daratan merata bagaikan telapak tangan, Dunia Fana akan menjelma menjadi tanah suci dan damai. Aku anjurkan antar agama di bumi jagalah kerukunan, saling hormat-menghormati, saling dorong mencari kemajuan, jangan saling memfitnah dan merusak. Lebih-lebih antar sekte seAgama Buddha tidak boleh saling menjelekkan, harus saling membenarkan kesalahan masing-masing..” (Beberapa petunjuk dari Beliau saya tidak ingat lagi.) kemudian saya mohon diri, dan mengucapkan banyak terima kasih atas petunjuk-petunjuk Beliau.

Selanjutnya Guru Si Yin, membawa saya ke sebuah gedung bertingkat, didepan gedung seorang perwira berseragam perwira tinggi jaman Dinasti Ming mirip dengan Maharaja Virudhaka sedang bertugas. Perwira tersebut memimpin kami masuk ke dalam sebuah ruangan, dan menyuguhkan kami kue-kue. Saya mencicipi sepotong kue, rasanya harum, manis, gurih dan renyahnya luar biasa. Saya lahap sampai kenyang seraya tenaga dan semangat badan saya bertambah berlipat ganda.

Master Fu Yung menjelaskan, “Di alam Dewa [sini], madu dan polen bunga adalah makanan pokok kami. Kue-kue dan makanan ini adalah persembahan dari dewa-dewi di halaman depan, mereka membuatnya dari perpaduan beraneka macam madu bunga, maka rasanya lezat sekali. [Jika] Manusia Bumi makan selai madu bunga ini, akan hilang penyakitnya dan panjang umur, yang tua akan menjadi muda, anda makanlah sebanyak mungkin akan bermanfaat bagi anda. Kemudian hari, badanku betul-betul merasa lebih muda dan bertenaga sampai hari ini saya belum pernah minum obat sekalipun.”

Master Fu Yung melanjutkan, “Orang di Alam Dewa hidup mewah dan santai. Mereka tidak suka kerja keras, jarang melakukan kebaktian, tidak suka mempelajari Dharma, seperti orang kaya di Bumi, lupa sembahyang, lupa melakukan kebaikan, apalagi bertapa menjadi biarawan. Mereka hanya tahu bersuka ria menikmati kesenangan pada saat makmur sekarang. [NOTE.3] Mereka lupa mereka masih belum lepas dari Triloka (Karma Dhatu, Rupa Dhatu, dan Arupa Dhatu). Beliau keluar dari 6 alam samsara, belum terbebas dari siklus hidup dan mati. Kami di sini mengikuti ajaran Maitreya Bodhisttva, dan pada masa yang akan datang kami akan ikut Beliau menitis (menjelma) di Bumi, membantu membebaskan lautan samsara, dengan menempuh jalan Kebodhisattvaan ini, barulah kami dapat mencapai penerangan sempurna.

Guru Si Yin berpesan pula, “Pada akhir jaman ini, kita harus lebih tabah dan gigih, untuk mempertahankan misi suci kita, pada situasi dan kondisi paling tabah dan gigih, untuk memepertahankan misi suci kita pada situasi dan kondisi paling buruk pun, untuk menolong makhluk-makhluk derita. Jangan serakah dan mabuk dalam kenikmatan pada saat yang senang, dan usaha menghindari kewajiban pada saat yang buruk. Kita wajib menyadarkan orang yang jahat, supaya mereka dapat berpaling pada kebajikan. Dengan demikian orang baik baru dapat hidup dengan tenang, melakukan kebaktian, pertapaan tanpa halangan. Pada masa yang paling buruk, orang yang tetap tekun melakukan, mengamalkan Dharma Buddha, Prajna Paramita, adalah orang yang sungguh-sungguh menjalankan Kebodhisatvaan. Sesudah anda pulang ke bumi, tolong sampaikan pesanku kepada sudara-saudara se-dharma, dan saudara sesekte pada khususnya, bahwa Sila Vinaya adalah guru sejati, mempertahankan disiplin-disiplin yang lama, jangan sok modern, merobah-robah sistem Sangha seenaknya. Orang jaman moderen, ada yang mengatakan bahwa “Suranggama Dharani” itu palsu. Ada yang merubah bentuk dan potongan kasaya (jubah biarawan), ada yang tidak percaya pada hukum karma, ada pula yang mengatakan bahwa telor adalah sayur (bukan daging). Mereka enggan bertapa meneladani orang awam, malahan menghasut, menyelewengkan Buddha Dharma, dengan kata-kata muluk untuk mencari keuntungan pribadi. Orang-orang demikian adalah jelmaan Mara khusus untuk mencabut akar Prajna Tathagata (Akar Kebijaksanaan Buddha) di Bumi, mereka merajalela merusak mental manusia. Anda sekembali ke bumi, Anda akan berkotbah keliling dunia. Walaupun keadaan di Cin Tan (Cina) masih buruk, harap anda memugar kembali Vihara-vihara yang saya dirikan, ketika saya masih berada di bumi, pada saat Anda masih menjadi muridku, kuberikan nama “Fu Sin” (yang artinya bangun kembali), anda pasti mengerti maksudku, sadar akan harapanku terhadapmu.”

Berhenti sejenak, Guru Si Yin dengan suara lantang melafalkan syair sekata demi sekata sebagai berikut:

Cing sung siang ye i cien tou , -- Bekat salju dingin membeku, Pinus makin keras, hijau
Hai tien i se pien san cien, -- Laut, angkasa menyatu padu, biru meliputi trisahasra lokha dhatu.

Kemudian Bhiksu Yen Kwan membawa saya keluar menuju halaman muka istana. Saya terpukau pada pemandangan Alam Dewa yang gemerlapan penuh dengan aneka warna cahaya. Satwa yang aneh dan fauna alam Dewa yang beterbangan bernyanyi dengan sukaria, kicauan burung, bunyi lembut binatang serta desiran angin, dari jauh ke dekat, terpadu suatu sonata musik alam yang merdu. Bocah Alam Dewa, Laki-laki dan perempuan, mengenakan baju sorgawi yang halus tipis berwarna-warni. Mereka membentuk barisan-barisan yang rapi. Baris demi baris meluncur dengan asyik membentuk figur-figur yang indah. Disana-sini bunga-bunga berkembang subur, berwarna-warni seakan- akan berlimpah keindahan sangat terpesona. Pavillion, teras, istana, dan pagoda, jauh dan dekat, semuanya memancarkan sinar yang mengagumkan, indahnya pemandangan di bumi tidak dapat menandingi seperseribunya.

Saya sedang mengagumi pemandangan seraya memuji-mujinya, Bhiksu Yen Kwan menunjuk sebuah pagoda raksasa yang lebih besar dari gunung Gun Lun, yang memancarkan seratus warna cahaya dan berkata, “ Disitulah Thai Siong No Kun (Thay Sang Lau San = Lau Tza) bersemayam dan disitu beliau mengolah obat.” “Saya segera memandang ke sana, terlihat pagoda pengolah obat yang megah dan tinggi, ditutupi mega awan, remang-remang, hanya terlihat salah satu bagian dari pagoda, namun bagian yang terlihat sudah tak terhitung tingkatannya. Bagaikan raksasa terhadang di depan kami. Kami hanya lihat-lihat dari jauh, tak sempat berkunjung ke dalamnya. Bhiksu Yen Kwan menjelaskan, “Pagoda ini adalah tempat tinggal para Dewa tingkat atas, disekitarnya terdapat banyak “Lin Yuen Su” (Pohon Sukma) dan banyak bunga-bunga, buah-buahan empat musim. “Menurut cerita orang bahwa seorang pertapa ilmu Dewata, jika mereka berhasil, maka pohon sukmanya di Alam Dewa akan tumbuh dengan baik, sebaliknya, jika mereka lakukan tidak sesuai dengan ajaran, maka pohon Sukmanya akan layu dan kering.”

Saat ini Bhiksu Yen Kwan mendesak saya dan berkata, “Waktu sangat terbatas, sudah saatnya saya membawa Anda ke Sukhavati Loka, pemandangan disana jauh lebih indah dari disini, lebih-lebih bumi tidak dapat menandingi sepersepuluh ribunya.”

MENGUNJUNGI SUKHAVATI LOKA BERNAMASKARA KEPADA AMITABHA BUDDHA
Meninggalkan Alam Dewa Tusita, saya memanjatkan Stathagatosnisam Sitata Patram Aparajitam Pratyyungiram Dharani (Surangama Dharani), dan di bawah kaki kami segera muncul singgasana teratai, dengan secepat kilat terbang ke angkasa, sepanjang perjalanan hanya mendengar suara angin menghembus ke telinga, namun kami tidak merasakan terpaan angin. Tingginya kecepatan sungguh tidak dapat dilukiskan, hanya terlihat pemandangan indah di depan dengan cepat sekali terlempar ke belakang. Kira-kira 15 menit, kami melihat daratan di bawah kaki dan teratai diliputi pasir dari emas. Dan barisan pohon raksasa yang tingginya lebih kurang 100 meter berjajar dengan rapi. Pohon-pohon tersebut, berdahan dan berranting emas, namun daun-daunnya terbuat dari jade (giok), bentuk daun ada yang segitiga, ada yang segilima, dan ada yang segitujuh, semuanya berkilau-kilau dan berbunga. Terlihat pula banyak burung-burung bermacam-macam jenis berterbangan, bulu-bulunya bersinar berwarna indah. Ada burung berkepala dua, tiga, dan beberapa buah. Ada yang mempunyai dua pasang sampai beberapa sayap. Mereka beterbangan dengan bebas, sambil bernyani memuji kebesaran Buddha Amitabha. Sekelilingnya dipagari dengan pagar tujuh warna. Bhiksu Yen Kwan bertutur, “Berdasarkan apa yang disebut Sang Buddha dalam Amitabha Sutra, “... Tujuh susun jala, tujuh baris jajaran pohon mustika...” adalah pemandangan alam ini.” (NOTE.0)

Telingaku mendengar banyak suara percakapan, tetapi saya tidak mengerti semuanya. “Amitabha Buddha mengerti semuanya..” kata Bhiksu Yen Kwan. Di perjalanan saya jumpai banyak pagoda-pagoda tinggi yang terbuat dari 7 jenis mustika, bersinar samar-samar. Kami berjalan maju terus, akhirnya tiba di depan sebuah gunung emas yang luar biasa besarnya, entah berapa ribu kali lebih besar dari Gunung Oh Mei di Tiongkok.

Tidak ragu lagi, kami telah tiba di pusat Sukhavati Loka. Tiba-tiba Bhiksu Yen Kwan menunjuk ke depan dan berkata, “Kita sudah tiba, di depanmu adalah Amitabha Buddha, Lihatlah Anda!” Saya bertanya dengan heran, “Di mana? Saya hanya melihat sesosok tembok besar di hadapan saya.”

Sekarang engkau sedang berdiri di pucuk ujung jari kaki Buddha Amitabha!” Jawaban Bhiksu Yen Kwan yang tak terduga, sangat mengejutkan saya. (NOTE.4)

Saya memohon, “Badan sang Buddha begitu besar dan tinggi, apa mungkin saya dapat melihat Beliau?”

Sesungguhnya, keadaanku sekarang seperti seekor semut kecil, berdiri di bawah pencakar langit Gedung Empire Amerika. Biar bagaimanapun saya mendongak kepalaku tak mungkin bisa melihat seluruh gedung pencakar langit itu.

Bhiksu Yen Kwan menganjurkan saya cepat berlutut dan memohon berkah dari Sang Buddha Amitabha. Dengan tulus dan ikhlas saya mohon berkali-kali, tiba-tiba badan saya terus berkembang menjadi besar, sehingga sampai setinggi pusar Beliau.

Dengan ketinggian badan saat itu, barulah saya dapat melihat sang Buddha Amitabha sesungguhnya, betul-betul Beliau berada di depan mata saya Beliau berdiri di sebuah singgasana teratai, entah berapa jumlah kelopaknya, bersusun bertingkat-tingkat. Setiap kelopak mempunyai sebuah alam tersendiri, ada istana, pagoda, dan lain-lainnya memancarkan sinar beribu-ribu warna. Dan setiap utas cahaya menjelma seorang Buddha duduk di tengah lingkaran cahaya emas. Saya melontarkan pandangan mataku sejauh mungkin, saya melihat sebuah istana luar biasa besarnya yang bersinar cemerlang keemasan, dan lebih jauh lagi saya melihat seluruh bentuk luar Sukhabvati Loka.

Pada saat ini, Bhiksu Yen Kwan telah kembali ke bentuk semula-Nya, Kwan Se Ing Phu Sa. Seluruh badan beliau tembus pandang, berwarna keemasan, jubahnya memancarkan beribu-ribu jenis cahaya, tidak jelas Beliau laki-laki atau perempuan. Tinggi badan Beliau saat ini lebih tinggi dari saya, kira-kira setinggi pundak Sang Buddha Amitabha.

Saya berdiri ternganga melihat peristiwa yang unik dan luar biasa ini, tercengang dan berbisu seribu kata. Jika saya diharuskan melukiskan atau menceritakan keadaan saat itu dengan terinci, mungkin membutuhkan waktu 7 hari 7 malam lamanya. Khusus melukiskkan tanda fisik Sang Buddha Amitabha yang sangat istimewa dan ajaib saja waktu setengah hari tidak akan cukup. Misalnya, mata Beliau yang seluas tujuh samudra di bumi kita. (NOTE.5)

Menurut cerita Buddha Sakyamini di dalam Sutra, bahwa jarak antra bumi kita dengan Sukhabati Loka kami harus melalui ratusan ribu koti (10 juta) Buddha Ksetra. Jauhnya betul-betul di luar jangkauan daya pikir manusia. Jika kita naik pesawat secepat cahaya, untuk mencapai Sukhavati Loka harus kita tempuh dalam waktu 15 miliar tahun. Maka dengan umur manusia yang begitu singkat, tidak mungkin terjadi seorang manusia hidup sampai di Sukhavati Loka dengan badan kasarnya. Namun jika anda betul-betul tulus dan ikhlas berpranidhana (bertekad/prasetya), hanya dalam sekejab mata anda sudah sampai di Sukhavati Loka. Andaikata Anda mempunyai umur sepanjang umur bumi, dari hari jadinya bumi sampai kiamat, juga belum cukup waktu untuk mencapai Sukhavati Loka. Satu-satunya jalan mencapai Sukhavati Loka yaitu keimanan, kekuatan pranidhana dirimu, ditambah karunia kekuatan Adhistana Buddha Amitabha. Betul-betul dengan sekejab mata, secepat pikiran kita, kita akan sampai di Sukhavati Loka.

Saya bernamaskara berkali-kali kepada Buddha Amitabha mohon kekuatan, kecerdasan, supaya saya dapat bebas dari siklus lahir dan mati. Beliau bersabda, “Kwan Ing Phu Sha menjemput anda kemari, berkunjung kemana-mana, pergilah mengikuti Beliau, jangan menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini. Tetapi anda tetap harus kembali ke dunia fana.”

Saat itu, makin saya mengagumi kebersihan, kedamaian, dan kebahagiaan di Sukhabvati Loka, makin saya muak akan kejorokan, kekacauan, dan penderitaan di dunia fana. Saya tidak ingin pulang ke bumi, saya mohon berkali-kali dengan sedikit merengek, “Di Sukhavati Loka terlalu indah dan menyenangkan, saya betul-betul tidak ingin pulang, mohon kasihanilah saya, ijinkanlah saya tinggal di sini, terimalah saya tetap di sini.”

Beliau berkata, “Tidak, bukan saya tidak mau menerimamu disini ,dan memaksa kamu pulang. Sebenarnya pada dua kalpa yang lalu, engkau sudah tinggal di sini. Dan pada saat itu engkau telah berjanji, berpranidhana (berprasetya) dengan tekad kembali ke dunia fana, untuk menolong mereka yang sedang menderita disana. Untuk menunaikan nadarmu, mau tidak mau engkau harus pulang ke dunia fana. Dengan kunjunganmu kali ini di Sukhavati Loka, dan meyakinkan mereka bahwa Sukhavati Loka betul-betul ada.”
:::
Kemudian Beliau mengucapkan Gatha (syair) sebagai berikut:
NI I WANG SEN EL CIE CIEN, -- Jauh pada dua kalpa yang lalu, Kau telah lahir di Sukhavati Loka
CE ING FA YEN TU CUNG SEN, -- Berhubung tekad pranidhanamu, untuk menolong makhluk-makhluk fana.
LEI SHE FU MU CHI CIN SHU. -- Mereka beryuga-yuga yang lampau, bagaikan ayah bunda sanak saudara.
SHE CIU TUNG KUI CIU PING LIEN, -- Nazarmu yang luhur, untuk menyeberangkan mereka ke Sukhavati Loka.

Setelah mendengar gatha Sang Buddha Amitabha , seluruh badanku gemetar teringat hal ihwal peristiwa dua kalpa yang lalu, seperti gambar hidup yang tampil di depan mataku dengan jelas dan terang.

Kemudian beliau berpesan kepada Kwan She Ing Phu Sat, “Silahkan anda membawa dia berkunjung ke mana saja”. Saya bernamaskara kepada beliau tiga kali, lalu Kwan She Ing Phu Sat membawa saya keluar dari panggung mimbar.

Pada saat itu, saya mengamati semua pintu, lorong, tepi kolam, pagar, gunung dan lahan terayam, semua bertatah dengan tujuh jenis intan mustika dan semuanya bersinar-sinar bagaikan dop lampu dan neon. Aneh bin ajaib, benda-benda seperti terbuat dari bahan materi yang berbentuk, namun semuanya tembus pandang, dapat dilewati tanpa halangan. Di atas pintu gerbang tertulis 4 aksara emas yang besar dan di kedua sisi pintu terdapat dua kalimat syair yang saya tidak kenal dan mengerti. Sekarang saya masih ingat satu aksara berbentuk “ “, dan lainnya saya lupa. Kwan She Ing Phu Sat menjelaskan, 4 aksara tersebut artinya “Istana Pahlawan Maha Perkasa”, juga boleh diartikan “AMITAYUS” ( umur tak terbatas).

Aula itu memancarkan sinar keemasan dengan gilang gemilang, besar megah bisa menambung beratus-ratus ribu hadirin. Di dalam aula terlihat banyak Bodhisattva hadir di sana, ada yang duduk, ada yang berdiri, ada juga yang di luar aula, mereka semuanya berbadan kristal warna keemasan. Tinggi badan Bodhisattva lebih pendek dari Buddha, diantara mereka terlihat juga Mahasthama Prapta Bodhisattva dan Nitya Virya Bodhisattva.

“Marilah, kita mengunjungi ke sana, ke setiap tingkat alam di Surga Sukhavati dari tingkat terendah sampai ke tingkat tertinggi”, ajak Kwan She Ing Phu Sat.

Dalam perjalanan tak terasa badan kami menjadi makin kecil, ketika mengetahui peristiwa aneh ini saya bertanya kepada Kwan She Ing Phu Sat. Beliau menjelaskan “Alam Surga Sukhavati terbagi sembilan tingkat, setiap tingkat berbeda-beda keadaan alamnya. Untuk menyesuaikan dengan keadaan alam di masing-masing tingkat, maka kondisi fisik penghuni harus berbeda. Tadi kami berangkat dari tingkat alam yang tertinggi menuju ke tingkat alam yang terendah. Antara 9 tingkat alam negeri teratai ini, tingkat yang teratas penghuninya lebih besar dan tinggi dari penghuni di tingkat alam tengah, dan penghuni di tingkat alam tengah lebih besar dan tinggi dari penghuni di tingkat alam rendah. Dan kita sekarang sedang turun ke bawah. Umpamanya penghuni di bumi tinggi badannya lebih dari dua meter setengah, sedangkan penghuni alam tertinggi badannya lebih dari 10 meter”.

NEGERI TERATAI TINGKAT TERBAWAH DIHUNI OLEH PEMBAWA KARMA
Sekarang kita sudah tiba di negeri teratai tingkat Bawah. Daratan di sana merata bagaikan telapak tangan, tanah berwarna kuning emas yang berkilau-kilau, namun tembus cahaya bagaikan kaca kristal. Sebentar lagi sebuah lapangan luas besar terlihat di depan mata kami, terlihat di sana banyak anak gadis berumur 13-14 tahun, diatas kepala mereka semua berias sepasang konde kecil, dihiasi bunga ungu, paras dan potongan badan mereka cantik-cantik semua. Mereka tidak hanya berpakaian seragam, tinggi badan dan raut muka mereka hampir sama dan serupa.

Dalam batinku bertanya, “Mengapa di negeri ini banyak terdapat penghuni yang perempuan?” lalu saya bertanya kepada Kwan She Ing Phu Sat, “Menurut Sutra bahwa penghuni Surga Sukhavati tiada jenis kelamin, mengapa disini banyak perempuannya?”

“Sutra tidak salah, lihatlah tampang dirimu sekarang!” jawabnya. Sungguh mengejutkan sampai saya tidak percaya dengan penglihatan sendiri, saya sudah menjelma menjadi anak perempuan yang mirip dengan mereka, baik pakaian seragam, maupun berdandan rias seperti mereka “mengapa jadi demikian?” saya menjadi bengong.

Kwan She Ing Phu Sat menjelaskan,”di negeri ini dipimpin oleh seorang Bodhisattva, beliau sebagai penguasa di sini, jika beliau ingin warganya perempuan, maka warganya semua menjadi perempuan. Sebaliknya jika beliau ingin laki-laki maka semua warganya menjadi laki-laki. Sesungguhnya badan penghuni disini bukan dibentuk dari daging darah yang bersifat materia, lihat semua benda-benda, makhluk-makhluk disini semuanya bening tembus cahaya bagaikan kristal. Bentuk tubuh mudah berubah, dapat berbentuk perempuan atau laki-laki, namun sifat intinya tidak berbeda”.

Saya amati tubuhku, seperti apa yang diterangkan oleh Kwan She Ing Phu Sat, tidak terlihat kulit, daging, kuku, tulang, dan darah, hanya sesosok tubuh kristal yang putih kuning.

Manusia yang lahir di Sukhavati Lokha Varga Bawah-bawah, semuanya bersih batinnya, [namun] mereka membawa serta karma, sifat kebiasaan mereka masing-masing. Mereka baik laki-laki atau perempuan, tua, atau muda, “Penjelmaan Teratai” di negeri teratai Varga Bawah-Bawah ini, semuanya menjadi bocah yang berumur 13-14 tahun, menjadi muda belia, sangat ramah tamah, dan cantik indah. Bentuk luarnya bisa saja laki-laki atau perempuan, namun hakekatnya tidak berbeda.

“Mengapa manusia di bumi yang lahir disini berbentuk sama dan usia juga sama?” saya bertanya kepada Kwan She Ing Phu Sa.

“Sifat Buddha yang ada pada setiap makhluk adalah sama, tiada perbedaan. Berkat kekuatan pranidhana (prasetya) Sang Buddha Amitabha, mereka dapat lahir di sini, dan mereka di beri hak dan kewajiban yang sama. Tidak memandang ketika di bumi sudah kakek-kakek, nenek-nenek, setengah tua atau masih muda belia, setelah penjelmaan teratai, semuanya sama rata berumur 13-14 tahun, dan bentuk luarnya hampir sama. Hal ini sama dengan bayi baru lahir di bumi, bentuk badan dan raut mukanya juga hampir sama.”, Penjelasan beliau.

Penghuni di Varga Bawah-bawah setelah penjelmaan teratai, di dalam teratai, setiap hari di beri 2 jam pelajaran Dharma, yang memberi ceramah adalah seorang Bodhisattva Mahasattva. Ketika genta berbunyi, jam pelajaran Dharma dimulai, penghuni di kolam teratai, di gedung, di pavillion, semuanya keluar dari tempat kediamannya berkumpul di Aula. Mereka berseragam dan berbentuk serupa, oleh karena mereka telah dikendalikan oleh kekuatan Bodhisattva Mahasattva. [Jika] Sang Bodhisattva ingin mereka berpakaian merah, semuanya merah, ingin berpakaian kuning, semuanya kuning; ingin hijau semuanya hijau.

Penghuni di sini pada siang hari, mereka keluar dari bunga teratainya bermain-main, menyanyi, menari, melakukan kebaktian, membaca sutra, atau kegiatan lainnya. Jika jam istirahat mereka kembali ke bunga teratai masing-masing. Pendek kata, bunga teratai terbuka pada siang hari, menutup pada malam hari. Waktu istirahat kegiatan mereka di dalam bunga teratai juga bermacam-macam, ada yang menyebut-nyebut nama Sang Buddha, ada yang bermimpi indah. (Mereka lahir di sini, berkat karunia Sang Buddha, ada yang terbawa kekotoran batin, sehingga mereka ketika tanpa sadar sering mengenang perbuatan atau peristiwa mereka pada masa lampau di bumi.)

Kwan She Ing Phu Sa berkata, “Mari kita melihat-lihat di lapangan sana.”

Kami tiba di lapangan, mula-mula terlihat kurang lebih 20 orang anak gadis, kemudian jumlahnya terus bertambah dari puluhan, ratusan, ribuan, sehingga ratusan ribu anak gadis yang hampir serupa memenuhi semua gedung, aula, dan lapangan. Penampilan mereka seolah-olah untuk tontonan kami. Dalam sekejab mata mengumpulkan orang sebanyak ratusan ribu orang di sana sangat mudah. Andai kata di bumi kita ingin mengundang atau mengerahkan masa sebanyak puluhan ribu saja harus persiapan sampai beberapa hari.

Kemudian kami berada di kolam teratai, terlihat air kolam berbeda dengan air kolam di bumi, air sana tidak berbentuk cairan, melainkan merupakan gas.

“Mandilah engkau di kolam sana!” anjur Kuan She Ing Phu Sa. “Bagaimana kalau baju saya basah kuyup nanti?” Saya ragu-ragu dan takut karena saya tidak bisa berenang. “Jangan khawatir, air di sini berbeda dengan air di dunia sana.” Tutur Beliau.

Saya menuruti anjuran Beliau, dengan sedikit gemetar, perlahan-lahan turun ke kolam. Sungguh benar kata Beliau bajuku tidak basah. Di samping itu pula, ketakutan hilang, yang mula-mula saya khawatir bisa tenggelam di bawah kolam. Eh, tidak disangka saya bisa berenang. Saya bisa timbul, menyelam, belok kanan, dan belok kiri menurut kehendak-ku. Saya berputar-putar di dalam kolam, alangkah nikmat dan gembiranya. Terdorong oleh naluri ingin tahu, saya coba air kolam seteguk, luar biasa segar dan manis, kemudian saya minum sepuas hati. Badan saya terasa makin kuat dan segar, dan semangatku menjadi berlipat ganda. Badanku seolah-olah menjadi ringan bisa terbang. Saya coba lagi memegang-megang bajuku sama sekali tidak basah. Saat ini saya makin berani menjauhi tepi kolam. Ketika saya berenang sampai di tengah kolam, terlihat banyak sekali bunga teratai, semuanya indah-indah berkembang dengan cemerlang. Saya menjumpai beberapa kuntum bunga teratai yang berhuni bocah yang sedang rajin menyebut nama Sang Buddha. Saya menjumpai juga beberapa bunga teratai yang layu, yang patah kelopak atau tangkainya, bahkan ada yang sudah mati kering. Belakangan saya baru diberi tahu bahwa yang disebut dalam Amitabha Sutra tentang Air delapan pahala (Pa Kung Te Sui), yaitu air kolam yang saya selami dan minum air sepuas-puasnya.

DELUSI PENGHUNI DI NEGERI TERATAI VARGA BAWAH TINGKAT BAWAH
Pada umumnya, penghuni di negeri teratai varga bawah-bawah, ketika masa hidupnya di dunia fana, mereka sangat tekun menyebut nama sang Buddha Amitabha, dan berkeyakinan keras mereka akan lahir di Sukhavati Loka sesuai dengan Pranidhana-Nya Yang Maha Karuna. Namun mereka lahir di Sukhavati Loka masih membawa karma-karma buruknya (Tai Ye Wang Sheng).

“Apakah maksudnya sebutan ‘Pembawa serta karma-karma lahir di Surga Sukhavati Loka itu?’”
Penghuni Sukhavati Loka, pada masa hidupnya di dunia fana yang silam, pernah berbuat jahat (karma buruk), misalnya membunuh, mencuri, menipu, memfitnah, mencelakakan orang, mengadu domba, berzina, dan lain-lain. Sebenarnya, pelaku Dasakusala (Sepuluh Kejahatan) tidak diperbolehkan lahir di Tanah Suci, namun mereka pada hari tuanya, memperoleh mitra yang baik, bijaksana, dan memberkenalkan tentang Dharma, mengajar mereka membaca Sutra, sehingga mereka menyesal kesalahan mereka yang lampau, dan betul-betul bertobat, pada sisa masa hidupnya tekun menyebut nama Sang Buddha Amitabha, berkat kekuatan Pranidhana Sang Amitabha, mereka diterima lahir di Sukhavati Loka Varga Bawah-bawah. (Negeri teratai Bagian Bawah di sektor yang Bawah)

Sukhavati Loka dibagi 9 Varga atau 9 tingkat. Penghuni Varga bawah-bawah (Tingkat Bawah) jika ingin meningkat naik ke Varga Atas-atas (Tingkat Teratai Atas), mereka harus bertapa selama 12 kalpa. Satu kalpa sama dengan 16.798.000 tahun, maka mereka yang dari Varga Bawah-Bawah meningkat ke Varga Atas-Atas membutuhkan waktu 201.576.000 tahun. Namun kita yang hidup di dunia fana, harus bersyukur, karena bila selalu menghindari perbuatan jahat, melakukan kebaikan, tekun melakkukan meditasi, mungkin dalam 35 tahun kita dapat mencapai Varga Tengah, atau Varga Atas. Bahkan bila kita pada masa kelahiran yang lampau telah menanam bibit kebajikan, mungkin pada masa kelahiran ini, kita sudah dapat mencapai ke-Buddha-an.

Sesungguhnya “Badan Manusia Sungguh Sulit Diperoleh”., perkataan Sutra ini sangat benar, maka kita harus menghargai masa hidup sebagai manusia ini, jangan menyia-nyiakan masa emas ini. Maka tekunlah bermeditasi pada kesempatan yang baik ini, dengan kemungkinan besar kita akan lahir di Varga Atas-Atas, Ketika “Bunga Teratai Berkembang Akan Menjumpai Buddha” (Hua Kuai Cien Fo). Bhiksu Yin Kwan dan Bhiksu Hong Ti adalah contoh hidup (nyata), mereka lahir di Varga Atas-Atas. (hal ini akan saya terangkan di belakang).

Ketika kembali menceritakan dunia fana yang kita alami. Pada umumnya makhluk atau manusia di dunia fana terdapat 8 (delapan) delapan jenis penderitaan, yaitu lahir, tua, sakit, mati, yang diinginkan tidak tercapai, berpisah dengan yang dicintai, berkumpul dengan yang dibenci, pembaraan api panca skanda. Penderitaan-penderitaan tersebut tidak terdapat di Sukhavati Loka, biarpun di Varga Bawah-Bawah juga tidak menemukan penderitaan, di Sukhavati Loka hanya ada Suka tiada Duka, Maka disebut Dunia Suka Ria. Walaupun penghuni di Varga bawah-bawah untuk mencapai Varga Atas-Atas membutuhkan waktu 12 kalpa lamanya. Namun dijamin pasti akan meningkat setingkat demi setingkat, sampai tercapai Kebudhaan disana tidak ada jalan mundur, dan tidak perlu khawatir terjerumus kembali ke alam samsara. Seluruh proses pertapaan, dari awal sampai akhir, semuanya berlangsung dalam keadaan “Sangat Gembira”.

Bunga Teratai di Varga Bawah-bawah jauh berbeda dengan teratai di Bumi. Besarnya antara setengah sampai satu setengah kilometer persegi. Tingginya setinggi gedung 4 tingkat. Semua teratai memancarkan cahaya terang. Jika penghuni di dalam teratai merenungkan masa lampau, atau menimbulkan macam-macam delusi, maka warna bunga teratai segera pudar dan hilang sinarnya. Kebalikannya jika mereka tidak mengingat kembali karma-karma masa lampaunya, dalam batinnya bersih bening tanpa delusi, maka bunganya akan memancarkan aneka macam cahaya.

Berikutnya saya menceritakan dua contoh yang nyata: Kwan She Ing Phu Sa berkotbah, “Insan berperasaan pada beryuga-yuga (kelahiran-kelahiran) yang lampau, telah berulang-ulang membuat aneka macam karma. Karma yang berulang-ulang menjadi sifat./penyakit kronis, sampai terbawa mati, ikut serta lahir di Sukhavati Loka, kekotoran batin/delusi karma mereka pada waktu istirahat, dengan tidak terasa sering terpantul keluar dan tampil di layar bayangan mereka Hal demikian paling banyak terjadi pada penghuni Varga Bawah-Bawah. Mereka makin meningkat pada Varga Bawah Tengah, lalu Varga Bawah Atas, kotoran batin/delusi karmanya semakin berkurang dan hilang. Karma-karma yang sulit mereka lupakan pada umumnya cinta kasih yang mendalam terhadap orang maupun bernda yang dicintai/disayangi yang mereka tinggalkan di dunia fana. Misalkan cinta kasihnya terhadap ayah bunda, saudara-saudara, kekasih, dan lain-lain, atau kenikmatan terhadap kesohoran, pujian, makanan, minuman, harta benda yang mereka pernah miliki. Hal-hal tersebut sering terpantul kembali bagaikan impian. Mari saya membawa anda menyaksikan sendiri kenyataan tentang pantulan karma/delusi.”

Melalui berberapa belokan, kami menemukan bunga teratai yang pudar warnanya. Kami masuk ke dalam bunga teratai, terlihatlah sebuah gedung bertingkat yang besar dan megah, lebih megah ke dalam dari istana, mempunyai taman bunga yang ditata rapi dan indah sekali, benda-benda antik di ruang tamu halus-halus, dan tak ternilai harganya, semua dekorasi dalam ruang kamar halus mewah berselera tinggi, bagaikan rumah kediaman Perdana Menteri. Di dalam gedung dihuni puluhan sanak saudara (keluarga), orang, tua muda, laku-laku perempuan, semuanya berpakaian mewah-mewah. Banyak pula pelayan-pelayan keluar masuk, hiruk pikuk, seperti sedang mempersiapkan suatu pesta besar.

Saya bertanya kepada Kwan She Ing Phu Sa, “Mengapa di sini masih ada orang hidup berkeluarga seperti di bumi?”

Beliau menjelaskan,” Orang ini waktu mendekati ajalnya ,tekun melakukan kesucian, tulus berbakti kepada Buddha Amitabha, akhirnya berhasil lahir di Sukhavati Loka, namun sifat atau kebiasaan yang telah sangat melekat pada dirinya yang berkalpa-kalpa lamanya sulit dibersihkan dengan seketika.

Orang-orang di dalam rumahnya adalah ayah bundanya, isterinya, kekasihnya, saudara-saudaranya, anak cucunya, serta famili-familinya yang amat ia cintai pada masa lalu di dunia fana. Kasih sayangnya yang mendalam kepada mereka, sungguh sulit baginya untuk melupakan dan melepaskan mereka. Maka setiap waktu istirahat di dalam bunga teratainya, kerinduannya terhadap sanak keluarga dan orang-orang yang dicintai muncul, dengan seketika mereka berkumpul di sekelilingnya.

Sesuai dengan sebutannya, di Sukhavati Loka suka ria tanpa duka derita, maka penghuninya ingat ayah bundanya, ingat isteri datanglah isterinya, ingat gedung mewah, muncullah gedung mewah, ingin makan enak, hidangan enak lezat segera berada di depannya. Macam-macam peristiwa akan tampil bila ia hendaki, bagaikan impian ketika kita sedang tidur. Saat kita bermimpi kita menganggap segala peristiwa di dalam alam impian adalah sungguh dan nyata, namun setelah kita terbangun baru menyadari peristiwa-peristiwa, orang, gedung, harta benda.. dan sebagainya yang terjadi di dalam impian, hanyalah khayalan kosong belaka. Hal demikian disebut pantulan karma atau delusi adalah bayangan kosong, dan sesungguhnya keluarganya di bumi sedikitpun tidak mengetahui hal-hal tersebut.”

Uraian Kuan She Ing Phu Sat sangat bermakna. Coba kita renungkan hidup kita di bumi ini, bukankah suatu impian yang panjang, ketika sukma kita meninggalkan jasad, segala harta benda, orang-orang yang kita miliki dan cintai tidak dapat kita bawa serta,dan bukan lagi milik kita, bagaikan suatu impian panjang dan pada akhirnya menjadi kosong hampa.

Kuan She Ing Phu Sat melanjutkan, “penghuni di Varga Bawah-Bawah mempunyai delusi dan lamunan melebihi keinginannya di bumi. Karena di dunia fana adalah dunia materi yang banyak dan besar hambatannya. (misalnya, terhalang selembar kertas tipis saja, kita tidak dapat melihat benda di belakang kertas. Zat materi selalu berubah seperti metabolisme. Jika persyaratan cukup menjadi hidup, jika persyaratan kurang menjadi mati atau musnah), maka banyak hal dan benda dikehendaki tidak bisa diperoleh, sehingga timbul resah dan penderitaan! Di Sukhavati Loka tidak terjadi hal demikian, karena dunia ini bukan dunia materi. Apa yang kau inginkan (delusi), segera akan kau memperolehnya. Dan akan engkau nikmati tidak terbatas. Sukhavati Loka adalah Sunyata (kosong, hakekat), meliputi seluruh Dharma Dhatu. Alam Dewata (kayangan) tergolong alam Astral (mental, spiritual), walau penghuni disana memiliki kesaktian, namun masih terbatas. Masih ada tidak bisa tercapai. Dunia fana bersifat materi, mempunyai hambatan berlapis-lapis, maka yang diinginkan oleh manusia sulit tercapai.

“Apa bedanya Alam Delusi (impian) di dunia kita dengan alam hakiki yang murni bersih yang dicapai oleh sang Tathagata?”, tanya saya kepada Kuan She Ing Phu Sat?”

Petunjuk Beliau adalah,” Alam hakiki adalah alam kekal yang tidak pernah lahir pun tidak akan musnah. Alam tersebut senantiasa memancarkan beraneka macam cahaya. Dunia delusi adalah dunia yang tidak tetap, selalu berubah, tidak dapat memancarkan cahaya, setelah makhluk itu terbangun, akhirnya mereka baru sadar segala sesuatunya yang terjadi hanya khayalan kosong belaka. Seperti makhluk bumi bermimpi melihat gunung, sungai, manusia, benda, gedung-gedung dan kota, ketika mereka bangun dari impian, semuanya hilang lenyap. Maka peristiwa-peristiwa di dunia fana dikelabui oleh delusi menjadi fanatik terhadap materi, kuasa, dan nama. Mereka demi harta benda, sejengkal tanah, ‘kehormatan’ mengorbankan jiwa raganya, namun sampai akhir hayatnya, tidak sesuatupun terbawa oleh mereka, melainkan kedua tangan hampa saja. Lebih malang lagi sukmanya selalu berputar-putar di alam samsara tidak bisa bebas. Dan sesuai dengan karma mereka masing-masing memperoleh ganjaran yang setimpal. Ingin terbebas dari lautan derita (alam samasara), cepatlah bangun, maka pantai seberang tidak akan jauh lagi.“
:::
Menurut Kuan She Ing Phu Sat bahwa tuan rumah tadi sekampung dengan saya, dia orang dari propinsi Hik Kien, Kabupaten Phu Tien, berbahasa sama dengan saya. Lalu Kwan She Ing Phu Sat mengajak saya masuk ke dalam gedung.

Sesuai dengan penjelasan Kuan She Ing Phu Sat beberapa waktu yang lalu, bahwa timbulnya fenomena (kejadian yang khayal) disebabkan oleh delusi-delusi (pantulan karma yang terbawa dari masa-masa hidupnya di dunia fana), maka delusi musnah, fenomena juga segera hilang.

Di ruangan tamu terlihatlah banyak meja-meja penuh dengan hidangan yang lezat, kira-kira sedang mengadakan pesta besar. Kurang lebih 70 orang menghadiri pesta itu hiruk-pikuk, ramai sekali. Di tengah-tengah ruangan tamu seorang tua berusia 70-an,wajahnya penuh dengan senyum gembira, gayanya ala orang kaya di bumi. Saya tebak dia pasti tuan rumahnya. Melihat saya datang, dia menerima saya dengan ramah- tamah, dan mempersilahkan saya duduk.

Dia bertanya, “Dari manakah anda?”
“Saya baru datang dari Hik Kien, Phu Tien, kita adalah sekampung halaman.” Saya jawab dengan bahasa daerah Pu Tien.

Seketika dia mendengar sekampung halaman dengannya, luar biasa gembiranya ia mengangguk-anggukkan kepalanya tidak berhenti-henti, “Bagus ! Bagus!”

“Eh, ada pesta apa ini?” tanya saya.
Dia tersenyum simpul, balik bertanya, “Bagaimana anda bisa datang kemari?”

Lalu saya menunjuk Bhiksu Yen Kwan (Kwan She Ing Phu Sat) yang berdiri di dekat pintu, dan memperkenalkan sekalian, “Berkat bantuan besar Kuan She Ing Phu Sa, saya bisa datang ke sini, dan mengunjungi rumah anda.”

Setelah mendengar nama Kuan She Ing Phu Sat, si tuan rumah seolah-olah tersentuh aliran listrik, mukanya yang riang gembira segera berubah menjadi malu dan merasa bersalah, karena masih belum bisa meninggalkan kebiasaan yang tidak baik warisan hidup masa lampau.

Dengan seketika gedung mewah, tamu-tamu, keluarga yang kurang lebih 70 orang, suasana hiruk pikuk, hilang tanpa bekas.

Tuan rumah yang berumur 70-an,dengan sekejab berubah menjadi bocah 13-14 tahun, ia duduk tegak di atas bunga teratai, seluruh tubuhnya menjadi putih bening bagaikan kristal, yang amat elok indah.

Sesuai dengan penjelasan Kuan She Ing Phu sa, beberapa saat yang lalu, bahwa timbulnya fenomena (kejadian yang khayal) disebabkan oleh delusi-delusi (pantulan karma yang terbawa dari masa-masa hidupnya di dunia fana), maka delusi musnah, segera fenomena juga hilang.

Orang tersebut di atas pada masa silam masih terbawa sifat-sifatnya yang suka pamer, suka pesta yang sudah mendarah daging, sulit dihilangkan, kebiasaan-kebiasaan tersebut sering kambuh, maka fenomena pantulan karma dahulu selalu terjadi di bawah sadar.

Kemudian dia memperkenalkan diri kepada saya, “ Saya berasal dari Hok Kien, Bhu Dien, desa Han Ciang Tuo Tuo, bernama Lim Tao Yi, lahir di keluarga yang kaya, dan tersohor di desa Tuo Tuo. Masa hari tuaku telah memperoleh bimbingan dari seorang umat yang bijaksana, beliau menganjurkan saya senantiasa memenjatkan doa dan menyebut-nyebut nama Sang Buddha Amitabha, dan pada akhir hayatku saya dapat menyebut nama Sang Buddha Amitaba sebanyak 10 kali dengan tenang, akhirnya diterima lahir di Sukhavati Loka, namun sayang sekali hambatan karmaku bertumpuk, cinta kasihku terhadap keluarga dan keinginan terhadap harta benda, kesenangan duniawi belum bisa ditinggalkan semua, kekotoran batin ini sering mengacaukan jati diriku, lalu timbul delusi-delusi macam-macam. Kuan She Ing Phu Sa pernah dua kali memberi petunjuk kepada saya, cara membersihkan delusi-delusi yang sangat melekat pada diriku itu. Tetapi penyakit kronis ini suka kambuh, sungguh sulit dihilangkan, dan membuatku malu!”

Ketika kami pamit untuk berpisah, dia pesan kepadaku agar membawakan kabar untuk anaknya, yang bernama A Wang bertempat tinggal di Singapore, bahwa dia (Ayah A Wang) telah meninggal dunia di Tiongkok, dan lahir di Sukhavati Loka.

Kuan She Ing Phu Sa sering menganjurkan kepada yang lahir di Sukhavati Loka Varga Bawah-bawah, sering mandi dengan Air Delapan Jasa Pahala, supaya delusi, kotoran batin mereka dapat tercuci bersih, dan batinnya lambat laun akan menjadi bersih cerah bercahaya, maka jati dirinya akan tampil dengan ‘muka aslinya’.

Saya mengikuti Kuan She Ing Phu Sa datang ke sebuah tebing yang curam. Saat ini saya menjumpai suatu peristiwa yang aneh, seorang perempuan kurang lebih 20 tahun , mengenakan baju hitam, menangis tersedu-sedu di atas tebing tinggi itu. Hal ini sangat mengejutkan saya. “Mengapa di dunia suka ria yang tanpa duka, bisa ada orang menangis dengan sedih-pedih yang sangat memilukan?”

Kuan She Ing Phu Sa seolah-olah telah membaca isi hatiku. Beliau menganjurkan saya langsung bertanya saja kepada si dia. Saya segera mendekati dia sambil merangkapkan kedua tanganku dan menyapa, “Nona,mengapa anda menangis?” Ia segera mendongak kepalanya dan memandang kepada saya, ia tidak menangis, malahan tersenyum kepada saya dan berkata, “ Saya terkejut melihat tebing tinggi ini, segera mengingatkan saya peristiwa masa lampau yang sulit saya lupakan, sehingga timbul delusi tadi.” Selesai perkataannya segera menjelma menjadi gadis 13-14 tahun duduk tegak di atas sebuah bunga teratai yang berada di tengah-tengah kolam, seluruh tubuh menjadi putih bening bagaikan kristal, seraya tebing tinggi menjadi hilang tanpa bekas.

Kemudian ia menceritakan riwayatnya kepada saya, “Saya berasal dari Hok Kien, Kabupaten Suen Jhang, Bernama X X X, umur 21 tahun, saya adalah upasikha yang telah berlindung kepada Sang Buddha, pada tahun 1960 saya bertekad meninggalkan segala keduniawian menjadi biarawati, namun selalu dihalang-halangi orang, niat saya digagalkan, dengan pikiran sesat saya bunuh diri melompat dari tebing yang curam tadi. Berkat Maha Karuna Kuan She Ing Phu Sa, mengigatkan ketulusan hatiku, saya ditolong oleh-Nya, sehingga saya dapat lahir di Sukhavati Loka. Karena saya baru saja lahir di sini, maka delusi kotoran batin masih melekat padaku, kadang kala saya tidak dapat mengendalikan emosi diri, peristiwa masa yang lalu dengan sendirinya terpantul kembali, bagaikan mimpi buruk di dunia Saha, sehingga dalam batinku sering tampil peristiwa yang menakutkan dan mengejutkan. Walaupun Kuan She Ing Phu Sa sering menguraikan Dharma kepada kami, tetapi susah sekali melupakan peristiwa tadi.”

Saya menyampaikan simpatiku kepadanya sambil mengenalkan Kuan She Ing Phu Sa, “Lihatlah anda, bukankan Kuan She Ing Phu Sa sudah berada di samping kita.”

Ia segera bernamaskara kepada Kuan She Ing Phu Sa, Beliau mengajurkannya, “Cepat pergi ke kolam, mandi dengan Air Delapan Jasa Pahala, banyak mandi dengan air tersebut, karma burukmu pada masa silam akan berangsur-angsur tercuci bersih.”

Di dalam kolam teratai terlihat beberapa bunga teratai yang layu dan kering, saya bertanya kepada Kuan She Ing Phu Sa, “Mengapa bisa sampai demikian?”

Beliau menjelaskan, “Beberapa bunga teratai yang layu bahkan ada yang mati, oleh karena penghuni Sukhavati Loka, pada mula-mulanya sangat tekun mempelajari Dharma, rajin menyebut nama Sang Buddha Amitabha, mereka juga telah menabur bibit ke-Buddhaan (Teratai di Sukhavati Loka), dan bibit tersebut tumbuh dengan baik dan subur. Namun belakangan hari ia telah mundur, malas melakukan kebaktian, imannya terhadap Buddha telah koyak, bahkan membuat 10 kejahatan. Bunga teratai yang layu itu adalah milik si XXX, ia mula-mula berlindung kepada Buddha, belakangan menjadi pejabat, karena sibuk tidak pernah membaca, tidak menyebut nama Sang Buddha, tidak bermeditasi, tidak pantang makan daging (Cia Cay), akhirnya ia melakukan kejahatan, dihukum mati oleh pemerintah, maka tangkai teratainya telah putus.

Teratai yang kering mati lainnya, dimiliki oleh seorang berasal dari kabupaten Yung Tai, ia berlindung kepada Triratna, juga telah diberkahi oleh seorang Bhiksu, tekun belajar Dharma selama 3 tahun, mula-mula bunga teratainya tumbuh dengan subur dan indah, di kemudian hari ia lupa akan ajaran Buddha, dengan segala akal muslihat ia mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, tetapi akhirnya ia jatuh bangkrut, hutangnya bertumpuk, dan dikejar-kejar orang, dan mengakhiri hayatnya dengan membunuh diri, maka bunga teratai menjadi kering dan mati.

Saya bertanya, “Menurut almarhum Bhiksu Jhan Liang, kita menyebut sekali nama Buddha dapat menghapuskan dosa-dosa sebanyak butir pasir di sungai Gangga, dan orang tersebut tadi telah menyebut-nyebut nama Buddha selama 3 tahun, mengapa tidak ada pahalanya?”

Beliau menjelaskan, “Orang awam tidak pernah mendekati Dharma, ia berbuat jahat karena avidya (tidak pengertian), setelah memperoleh petunjuk dari umat yang bijaksana ia sadar akan kesalahan, betul-betul bertobat, dengan tulus ikhlas berdoa, mohon pengampunan atas kesalahannya, dengan tekun menyebut-nyebut nama Buddha. Kekuatan doa yang tulus ikhlas demikian tak terhitung banyaknya. Selanjutnya dengan keteguhan imannya terhadap Sang Buddha, sampai akhir hayatnya, ia lahir di Sukhavati Loka Varga Bawah-Bawah, walau membawa karma-karmanya yang lampau, namun telah bebas dari kekuatan hukum karma, maka ia telah terjamin tidak akan mundur dan maju terus sampai tercapainya ke-Buddha-an.”

Berhenti sejenak, Beliau melanjutkan, “Ada sebagian orang yang menyebut nama Sang Buddha hanya dibibir, namun dibalik hatinya berbisa seperti ular, dengan sembunyi-sembunyi mencelakakan orang, membuat kejahatan-kejahatan lainnya. Orang demikian tidak bisa lahir di Sukhavati Loka. Mereka yang telah menabur bibit bunga teratai di Sukhavati Loka, bila bibit baik mereka masih ada dan belum musnah, asalkan mereka menyadari kembali, mengaku kesalahannya, bunga teratainya akan segar bugar kembali memancarkan cahaya beraneka warna.”

Menurut Kuan She Ing Phu Sa, orang di dunia Saha baik kaya miskin, tinggi rendah pangkatnya, baik buruk tampangnya, pandai atau bodoh, tua atau muda, maupun laki-laki atau perempuan, dari semua lapisan masyarakat dan bangsa, asalkan mereka bertulus ikhlas, rajin membaca sutra, menyebut nama Sang Buddha, berhenti melakukan semua perbuatan jahat, banyak melakukan kebaikan, ucapan sesuai dengan hatinya, melakukan prinsip-prinsip ini sebaik-baiknya, niscaya bunga teratainya di tanah suci pasti tumbuh dengan kokoh dan subur, dan pada akhir hayatnya pasti dijemput Sang Buddha Amitabha, melalui proses penjelmaan Bunga Teratai lahir di Sukhavati Loka. Jika ragu-ragu, tidak konsisten, kadang-kadang rajin, kadang-kadan malas, biarpun bunga teratainya telah tumbuh, namun tidak akan subur dan indah. Apalagi mereka berbuat jahat, dan matinya karena 10 kejahatan, mereka tidak akan bebas dari alam samsara, pasti tidak dapat lahir di Sukhavati loka.

Sesaat kemudian tiba-tiba seorang biarawati mendekati sampai di depan saya, saya segera ingat dan kenal dia. Dia adalah Abbot di Vihara Cu San Yun di Propinsi Ciang Si, umurnya lebih dari 30 tahun. Ketika ia bertemu dengan saya, saking gembiranya ia menyapa saya dengan sedikit berteriak. “Hai! Cuan Cing She Siung (kakak seperguruan/ Saudara sedharma), Selamat Datang! Selamat Datang! Kung Si! Kung Si! (Ucapan Selamat).”

“Kapan anda lahir di sini, mengapa saya tidak memperoleh kabar?” tanya saya.

Ia menceritakan, pada tahun 1971, saya dipaksa keluar dari Vihara, dan saya tidak boleh menjalankan hidup suci (biarawati), saya tolak paksaan itu lalu saya ceburkan diri ke dalam sungai. Saya tahu tindakan bunuh diri termasuk tindakan 10 kejahatan, namun demi membela Dharma dan kesucian diri, saya tetap memilih membunuh diri. Berkat Maha Maitri Karuna Sang Buddha Amitabha, ingat teguhnya imanku, Beliau menerima saya lahir di Sukhavati Loka, saya juga pendatang baru.”

“Semua penghuni Sukhavati Loka Varga Bawah-Bawah telah menjelma menjadi bocah berumur 13 tahun, mengapa anda tetap dengan tampang seperti dahulu di dunia fana?” tanya saya.

“Saya mendengar kabar kedatangan anda, saya segera ingat kita bertemu pada masa lampau di bumi, maka segera kembali ke bentuk masa yang lampau, dan supaya mempermudahkan anda mengenal saya. Bagaimana kabar Saudara Cuan Chong (saudara seperguruan dari Bhiksu Cuan Ching) ?” Jika bertemu dia, tolong sampaikan keadaanku disini, agar mendorong dia lebih tekun berbakti, dan rajin melakukan pertapaan.”


PAGODA VIMALA VIPASSANA DAN AULA DHARANI BAHASA
Tiba-tiba terdengar bunyi genta, Kuan She Ing Phu Sa memberitahu saya, bahwa bunyi genta itu menandakan khotbah akan dimulai. Saat ini terlihat berpuluhan ribu bocah laki-laki berumur 13-14 tahun, mengenakan baju merah, pinggangnya diikat dengan pita kuning emas, kepala berkonde dua, semuanya berseragam, berbaris dengan rapi, badan, kepala, tangan, kaki mereka semuanya putih bening bagaikan kristal. Mereka lari berkumpul di bawah podium teratai. Mereka saling beranjali, saling memberi hormat. Kemudian musik dimulai, riang merdu terpesona, segera burung-burung beraneka warna melayang-layang mengitari di atas band musik, dan berkicau bernyanyi mengikuti irama musik, dalam syairnya seolah-olah menyebut nama Sang Buddha. Tidak lama kemudian dari podium muncul seorang Bodhisattva. Beribu-ribu jenis cahaya terpencar dari tubuhnya, sungguh indah dan mengagumkan.


“Beliau adalah Mahasthamaprapta Bodhisattva yang pada hari ini memperoleh giliran memimpin tata cara serta memberi khotbah.: Bisik Kuan She Ing Phu Sa.

Saat ini beraneka warna bunga turun dari angkasa. Hujan bunga indah ini disertai berbagai macam benda aneh cantik dan amat berharga. Bocah-bocah mengangkat tepi bawah salju untuk menadahi bunga-bunga dan benda-benda yang turun Kemudian ruang langit yang luas itu dipenuhi dengan kilauan ribuan kilat, sinar laser yang beraneka warna, membentuk bunga, figura, macam-macam bagaikan kembang api luar biasa indahnya.

Di Varga Bawah-bawah ada sebuah “Aula Dharani Bahasa”. Maksudnya Dharani Bahasa adalah setiap kata yang diucapkan oleh Sang Bodhisattva di Aula tersebut akan dimengerti oleh setiap hadirin seperti bahasa itu sendiri, walaupun para hadirin terdiri dari berbagai bangsa yang hanya mengerti bahasa bangsanya masing-masing. Dharani Bahasa ini tanpa melalui penterjemah para pendengar dapat langsung mengerti sejelas bahasa sendiri.

Di samping aula Dharani Bahasa ada lagi sebuah pagoda yang sangat tinggi sekali, yang disebut “Pagoda Vimala Vipassana” (Pagoda Visualisasi Kemurnian). Bagi penghuni di dalam pagoda yang ingin naik ke atas atau turun ke bawah tidak menggunakan lift seperti di bumi, melainkan mereka hanya menggunakan kekuatan batin. Batin mereka memerintahkan naik segera mereka naik, turun langsung turun. Seperti yang telah kami sebut tadi, bahwa badan mereka bukan terbentuk dari daging darah melainkan dari gas yang tembus pandang. Maka mereka kapan saja di mana saja, walaupun terhadang oleh tembok tebal, tiang emas yang besar, mereka dapat menembusi seolah-olah bergerak di alam hampa tanpa kesulitan. Walau dalam sebuah ruang sempit yang kira-kira dapat berisi ratusan orang, lalu ditambah sampai ribuan orang, bahkan ratusan ribu orang, namun kita yang di dalam ruang tidak merasa terimpit dan berdesak-desakan.

Dari Pagoda Vimala Vipassana yang amat besar itu, kita dapat memantau planet-planet, bintang-bintang dari sepuluh penjuru di alam semesta. Misalnya kita ingin melihat bumi kita kemudian matahari. Mula-mula terlihat bumi hanya sebesar sebutir pasir kecil, namun kemudian batin kami ingin mengamati keadaan di bumi, andaikata kami ingin melihat keadaan di benua Asia, maka bagian benua Asia akan membesar sehingga jelas dipandang. Atau kami ingin lihat keadaan Tiongkok, tembok besar, propinsi Ho Kien, bahkan sebuah rumah sampai keadaan di dalam rumah, tempat atau benda yang ingin dilihat akan satu persatu tampil di depan mata. Seperti ada alat pengatur kaca pembesar di dalam teleskop yang super otomatis. Pendek kata Pagoda Vimala Vipassana tidak lain adalah sebuah observatorium untuk memantau seluruh alam semesta, tiada satu sudut pun yang tidak dapat dijangkau.

referensi:
Sent: Tuesday, January 06, 2009 11:47 AM
Subject: [parasohib] Kisah Perjalanan Ke Surga Sukhavati - [1/2]
http://groups.yahoo.com/group/parasohib/message/662


(...bersambung...)

1 komentar:

  1. bersambung ke:
    http://sunari--amitabha.blogspot.com/2010/02/kisah-perjalanan-ke-surga-sukhavati-22.html

    BalasHapus