Minggu, 17 Juni 2018

Pilih terlahir di Alam Sukhavati atau Nibbana?


Terlahir di Alam Suci dengan Membawa Serta Karma dan 
Terlahir di Alam Suci dengan Karma yang Terkikis
Teringat dulu sekali.
Ada dua aliran Bhiksu, saling berperang pena, bunyi ledakan di mana-mana, masing-masing saling mengutip ayat Sutra dan menulis pengalaman nyata.
Satu aliran mengatakan:
Sukhavatiloka Barat, asalkan menyebut nama Buddha pada saat jelang wafat, sepenuh hati dan tidak galau, maka bisa langsung terlahir di Buddhaloka.
Satu aliran lagi mengatakan:
Tidak boleh. Rintangan karma belum dikikis habis, sampai di Sukhavatiloka Barat, alam suci ternoda, apakah itu masih alam suci?

Satu aliran mengatakan:
Sukhavatiloka Barat, termasuk jalan yang mudah ditempuh, jika harus mengikis habis rintangan karma baru terlahir di alam suci, apakah masih dianggap jalan yang mudah ditempuh?
Satu aliran lagi mengatakan:
Buddhadharma setara, jika ada yang namanya jalan yang mudah ditempuh, jalan yang sulit ditempuh. Begitu insan melihat ada jalan yang mudah ditempuh, siapa lagi yang mau menekuni jalan yang sulit ditempuh?
Satu aliran mengatakan:
Buddha Amitabha sangat welas asih, sehingga ada Dharma penjapaan nama Buddha.
Satu aliran lagi mengatakan:
Memangnya Buddha yang lain tidak welas asih?

Satu aliran mengatakan:
Sekte Sukhavati, tidak perlu kikis karma, menjapa nama Buddha adalah kikis karma, sepuluh penjapaan dengan hati yang bersih, memutuskan terlahir di alam suci.
Satu aliran lagi mengatakan:
Mesti:
Lebih dulu menekuni Sambhara-Marga.
Kemudian menekuni Prayoga-Marga.
Hingga mencapai Darsana-Marga.
Dilanjutkan dengan Bhavana-Marga.
Terakhir barulah Parayana.
Inilah tingkat melatih diri, tidak ada yang langsung naik ke surga dalam selangkah.

Satu aliran berkata:
Dalam sejarah, banyak guru sesepuh aliran lain, terakhir kembali ke Sekte Sukhavati, karena Sekte Sukhavati bisa terlahir di alam suci dengan membawa serta karma.
Satu aliran lagi berkata:
Terlahir di alam suci Buddhaloka begitu mudah, lantas apa nilai belajar Buddha? Terlahir di alam suci semudah ke pasar, buat apa akademi Buddhis? Cukup menjapa Buddha saja?
Satu aliran berkata:
Sampai di Buddhaloka, rintangan karma pun sirna dengan sendirinya.
Satu aliran lagi berkata:
Jika rintangan karma bisa sirna dengan sendirinya, kalau begitu, buat apa Buddhadharma?

Pokoknya:
Kedua belah pihak tidak mau mengalah satu sama lain, saling berdebat, temanya masih tetap terlahir di alam suci dengan membawa serta karma dan terlahir di alam suci dengan karma yang sudah terkikis.
Seseorang bertanya pada saya, “Sebenarnya mana yang benar? Terlahir di alam suci dengan membawa serta karma atau terlahir di alam suci dengan karma yang sudah terkikis?”
Saya menjawab, “Kedua-duanya benar!”

Orang bertanya, “Membawa serta karma, karma yang sudah terkikis, keduanya berbeda, bagaimana keduanya benar?”
Saya menjawab, “Rintangan karma kembali ke rintangan karma, terlahir di alam suci kembali ke terlahir di alam suci.”
Orang bertanya, “Maksudnya?”
Saya menjawab, “Udara kembali ke udara, tanah kembali ke tanah.”

Orang bertanya, “Bukankah itu rintangan karma yang sudah dikikis?”
Saya menjawab, “Rintangan karma ibarat bayangan manusia, karma mengikuti tubuh, jika tubuh sudah tidak ada, apakah masih ada bayangan?”
Orang bertanya, “Bukankah hanya karma yang mengikuti tubuh?”
Saya menjawab, “Jika tidak ada manusia, di mana karma?”
(Kalimat ini, mohon direnungkan baik-baik, ada rahasia di dalamnya) “Sarat dengan rahasia, penuh dengan rahasia”


sumber: Buku ke254 "Pencerahan Termulia", judul : Terlahir di Alam Suci dengan Membawa Serta Karma dan Terlahir di Alam Suci dengan Karma yang Terkikis
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=265&id=18

Jumat, 15 Juni 2018

SYAIR SANG BUDDHA GOTAMA


.Setelah Buddha Amitabha membabarkan 48 Ikrar Agung, para Bodhisattva dari sepuluh penjuru semesta datang berkunjung ke Alam Sukhavati, membekali diri dengan bunga-bunga surgawi, dupa wangi dan jubah-jubah yang mulia untuk dipersembahkan kepada Buddha Amitabha, Mereka memainkan alat musik surgawi dan menyanyikan hymne pujian, memberi penghormatan dengan mengitari Buddha Amitabha sebanyak 3x dan bertekad agar suatu saat nanti Alam Buddha mereka pun bisa seindah Alam Sukhavati.

Sang Buddha Amitabha tersenyum penuh kewelasasihan, dari mulut Beliau terpancar berkas sinar tak terhitung jumlahnya, menerangi seluruh alam di sepuluh penjuru semesta.

Lalu Avalokitesvara Bodhisattva merapihkan jubahnya dan bersujud kepada Buddha Amitabha, bertanya kepada Beliau tentang maksud dari senyumNya, dengan penuh rasa hormat ia meminta penjelasan kepada Beliau.

Terdengarlah suara Buddha Amitabha, mengema bagaikan suara gemuruh di langit, dengan kualitas suara yang sangat sempurna Ia pun berkata ;
' Aku berkeinginan memberikan arahan kepada para Bodhisattva, biarlah Aku uraikan dengan jelas, dengarkanlah baik-baik !
Aku sangat menguasai sumpah yang diambil oleh para bodhisattva yang berdatangan dari sepuluh penjuru semesta itu, mereka melatih diri demi kesempurnaan Alam Buddha mereka sendiri nantinya, arahan yang kuberikan akan menuntun mereka untuk menjadi Buddha kelak. Dengan menyadari bahwa segala sesuatu adalah bagaikan mimpi, hanya ilusi, hanya sebuah gema, maka ia dapat memenuhi semua sumpah suci yang mereka ucapkan, untuk mewujudkan Alam Buddha masing-masing seperti Sukhavati ini. Menyadari bahwa segala sesuatu hanyalah seperti kilatan cahaya atau bayangan, Mereka akan berjuang dalam Jalur Ke-bodhisattva-an hingga selesai, menumpuk berbagai kebaikan-kebaikan tanpa kenal lelah, berkat arahanKu ini, mereka akan menjadi Buddha suatu hari nanti. Dengan menyadari sepenuhnya sifat asli dari segala sesuatu, kosong tanpa ada jati diri di dalamnya, mereka bertekad bulat melatih diri untuk mewujudkan Alam Buddha mereka, maka akan terwujudlah Alam Buddha mereka seperti Sukhavati ini.'

Para Buddha di manapun selalu menasehati para BodhisattvaNya, bersujudlah kepada Sang Buddha yang ada di Alam Sukhavati, " Dengarkanlah ajaranNya, resapi ajaranNya dengan gembira, dan praktekanlah, maka kalian akan segera mampu merealisasikan apa yang kalian niatkan !.

Jika kalian telah berada di Alam BuddhaNya, seketika itu pula kalian memperoleh kekuatan supranatural, berkat arahan-arahan dari Sang Buddha Amitabha, pastilah kalian akan mencapai Pencerahan Sempurna.

Berkat sumpah suci yang dipegang teguh oleh Buddha Amitabha, siapa saja yang mendengar tentang Beliau dan berniat lahir di Sukhavati, pasti akan terlahir di sana tanpa ada yang terkecualikan, dan dengan begitu mudahnya mereka mencapai tingkat Srotapanna. "

Demikianlah para Bodhisattva, jika kalian memiliki tekad sejati, maka kalian akan memiliki Alam Buddha seperti ini, dalam misi kalian menyelamatkan para mahluk, Nama kalian akan dikenal hingga ke sepuluh penjuru semesta.

Dalam melakukan sembah sujud kepada para Tathagata, kalian bisa menjelma dalam berbagai bentuk, lalu terbang ke Alam Suci Mereka, setelah bersujud kepada Mereka dengan batin penuh kebahagiaan, kalian bisa kembali lagi ke Alam Sukhavati.

(Sukhavati Vyuha Sutra)


*dicopas dari status FB yth Shangse Sukhavati Prajna, tgl : 18 Mei 2018.