Rabu, 12 Desember 2018

KEISTIMEWAAN ALAM SUKHAVATI




Alam Sukhavati memiliki fenomena yang sungguh istimewa, keistimewaan ini tidak dimiliki oleh Alam Buddha lainnya, meskipun di Alam Sukhavati masih ada "Empat Tingkatan Tanah Suci", namun semua tingkatan tersebut memperoleh perlakuan yang setara. Sedangkan di Alam Buddha lainnya pada tingkatan berbeda maka perlakuan yang diperoleh juga tidak serupa, tidak sama, perbedaanya sangat besar.

Di Alam Sukhavati Empat Tingkatan Tanah Suci mendapat perlakuan setara, mengapa demikian? Buddha Amitabha bermaitri karuna, pemberkatan dari 48 tekadNya, setiap praktisi yang terlahir ke Alam Sukhavati (tak perduli sejauh mana keterampilan melafal Amituofo yang anda miliki) sesampainya di Alam Sukhavati, semuanya menjadi Bodhisattva Avaivartika.
Avaivartika adalah Bodhisattva Dharmakaya (calon Buddha). Maka itu mengapa pintu Dharma ini disebut sebagai Dharma yang sulit dipercaya.

Hal begini tidak ada disebutkan di dalam semua sutra lainnya, hanya ada di dalam sutra ini (Sutra Usia Tanpa Batas) saja, maka itu pintu Dharma ini disebut sebagai Dharma yang sulit dipercaya. Untuk terlahir di Alam Sukhavati amatlah gampang, siapa saja dapat terlahir di sana, mengapa demikian? Oleh karena anda sendiri sejak semula adalah Buddha.

Dengan melatih pintu Dharma ini maka memperoleh pemberkatan dari tekad Buddha Amitabha, membantu dirimu agar cepat meraih keberhasilan, maka itu kemana lagi harus mencari pintu Dharma serupa ini



::: Kutipan Ceramah Master Chin Kung 27 Juli 2015 :::

Disadur dari Teratai Mustika.

Jumat, 21 September 2018

Namo Amituofo



silahkan klik link dibawah ini.. dengarkan nienfo .. untuk menemani aktifitas online anda, atau sebagai media untuk calming your mind, menumbuhkan kecintaan kepada Buddha Amitabha.

https://youtu.be/A-jgAxIWWvc

Minggu, 17 Juni 2018

Pilih terlahir di Alam Sukhavati atau Nibbana?


Terlahir di Alam Suci dengan Membawa Serta Karma dan 
Terlahir di Alam Suci dengan Karma yang Terkikis
Teringat dulu sekali.
Ada dua aliran Bhiksu, saling berperang pena, bunyi ledakan di mana-mana, masing-masing saling mengutip ayat Sutra dan menulis pengalaman nyata.
Satu aliran mengatakan:
Sukhavatiloka Barat, asalkan menyebut nama Buddha pada saat jelang wafat, sepenuh hati dan tidak galau, maka bisa langsung terlahir di Buddhaloka.
Satu aliran lagi mengatakan:
Tidak boleh. Rintangan karma belum dikikis habis, sampai di Sukhavatiloka Barat, alam suci ternoda, apakah itu masih alam suci?

Satu aliran mengatakan:
Sukhavatiloka Barat, termasuk jalan yang mudah ditempuh, jika harus mengikis habis rintangan karma baru terlahir di alam suci, apakah masih dianggap jalan yang mudah ditempuh?
Satu aliran lagi mengatakan:
Buddhadharma setara, jika ada yang namanya jalan yang mudah ditempuh, jalan yang sulit ditempuh. Begitu insan melihat ada jalan yang mudah ditempuh, siapa lagi yang mau menekuni jalan yang sulit ditempuh?
Satu aliran mengatakan:
Buddha Amitabha sangat welas asih, sehingga ada Dharma penjapaan nama Buddha.
Satu aliran lagi mengatakan:
Memangnya Buddha yang lain tidak welas asih?

Satu aliran mengatakan:
Sekte Sukhavati, tidak perlu kikis karma, menjapa nama Buddha adalah kikis karma, sepuluh penjapaan dengan hati yang bersih, memutuskan terlahir di alam suci.
Satu aliran lagi mengatakan:
Mesti:
Lebih dulu menekuni Sambhara-Marga.
Kemudian menekuni Prayoga-Marga.
Hingga mencapai Darsana-Marga.
Dilanjutkan dengan Bhavana-Marga.
Terakhir barulah Parayana.
Inilah tingkat melatih diri, tidak ada yang langsung naik ke surga dalam selangkah.

Satu aliran berkata:
Dalam sejarah, banyak guru sesepuh aliran lain, terakhir kembali ke Sekte Sukhavati, karena Sekte Sukhavati bisa terlahir di alam suci dengan membawa serta karma.
Satu aliran lagi berkata:
Terlahir di alam suci Buddhaloka begitu mudah, lantas apa nilai belajar Buddha? Terlahir di alam suci semudah ke pasar, buat apa akademi Buddhis? Cukup menjapa Buddha saja?
Satu aliran berkata:
Sampai di Buddhaloka, rintangan karma pun sirna dengan sendirinya.
Satu aliran lagi berkata:
Jika rintangan karma bisa sirna dengan sendirinya, kalau begitu, buat apa Buddhadharma?

Pokoknya:
Kedua belah pihak tidak mau mengalah satu sama lain, saling berdebat, temanya masih tetap terlahir di alam suci dengan membawa serta karma dan terlahir di alam suci dengan karma yang sudah terkikis.
Seseorang bertanya pada saya, “Sebenarnya mana yang benar? Terlahir di alam suci dengan membawa serta karma atau terlahir di alam suci dengan karma yang sudah terkikis?”
Saya menjawab, “Kedua-duanya benar!”

Orang bertanya, “Membawa serta karma, karma yang sudah terkikis, keduanya berbeda, bagaimana keduanya benar?”
Saya menjawab, “Rintangan karma kembali ke rintangan karma, terlahir di alam suci kembali ke terlahir di alam suci.”
Orang bertanya, “Maksudnya?”
Saya menjawab, “Udara kembali ke udara, tanah kembali ke tanah.”

Orang bertanya, “Bukankah itu rintangan karma yang sudah dikikis?”
Saya menjawab, “Rintangan karma ibarat bayangan manusia, karma mengikuti tubuh, jika tubuh sudah tidak ada, apakah masih ada bayangan?”
Orang bertanya, “Bukankah hanya karma yang mengikuti tubuh?”
Saya menjawab, “Jika tidak ada manusia, di mana karma?”
(Kalimat ini, mohon direnungkan baik-baik, ada rahasia di dalamnya) “Sarat dengan rahasia, penuh dengan rahasia”


sumber: Buku ke254 "Pencerahan Termulia", judul : Terlahir di Alam Suci dengan Membawa Serta Karma dan Terlahir di Alam Suci dengan Karma yang Terkikis
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=265&id=18

Jumat, 15 Juni 2018

SYAIR SANG BUDDHA GOTAMA


.Setelah Buddha Amitabha membabarkan 48 Ikrar Agung, para Bodhisattva dari sepuluh penjuru semesta datang berkunjung ke Alam Sukhavati, membekali diri dengan bunga-bunga surgawi, dupa wangi dan jubah-jubah yang mulia untuk dipersembahkan kepada Buddha Amitabha, Mereka memainkan alat musik surgawi dan menyanyikan hymne pujian, memberi penghormatan dengan mengitari Buddha Amitabha sebanyak 3x dan bertekad agar suatu saat nanti Alam Buddha mereka pun bisa seindah Alam Sukhavati.

Sang Buddha Amitabha tersenyum penuh kewelasasihan, dari mulut Beliau terpancar berkas sinar tak terhitung jumlahnya, menerangi seluruh alam di sepuluh penjuru semesta.

Lalu Avalokitesvara Bodhisattva merapihkan jubahnya dan bersujud kepada Buddha Amitabha, bertanya kepada Beliau tentang maksud dari senyumNya, dengan penuh rasa hormat ia meminta penjelasan kepada Beliau.

Terdengarlah suara Buddha Amitabha, mengema bagaikan suara gemuruh di langit, dengan kualitas suara yang sangat sempurna Ia pun berkata ;
' Aku berkeinginan memberikan arahan kepada para Bodhisattva, biarlah Aku uraikan dengan jelas, dengarkanlah baik-baik !
Aku sangat menguasai sumpah yang diambil oleh para bodhisattva yang berdatangan dari sepuluh penjuru semesta itu, mereka melatih diri demi kesempurnaan Alam Buddha mereka sendiri nantinya, arahan yang kuberikan akan menuntun mereka untuk menjadi Buddha kelak. Dengan menyadari bahwa segala sesuatu adalah bagaikan mimpi, hanya ilusi, hanya sebuah gema, maka ia dapat memenuhi semua sumpah suci yang mereka ucapkan, untuk mewujudkan Alam Buddha masing-masing seperti Sukhavati ini. Menyadari bahwa segala sesuatu hanyalah seperti kilatan cahaya atau bayangan, Mereka akan berjuang dalam Jalur Ke-bodhisattva-an hingga selesai, menumpuk berbagai kebaikan-kebaikan tanpa kenal lelah, berkat arahanKu ini, mereka akan menjadi Buddha suatu hari nanti. Dengan menyadari sepenuhnya sifat asli dari segala sesuatu, kosong tanpa ada jati diri di dalamnya, mereka bertekad bulat melatih diri untuk mewujudkan Alam Buddha mereka, maka akan terwujudlah Alam Buddha mereka seperti Sukhavati ini.'

Para Buddha di manapun selalu menasehati para BodhisattvaNya, bersujudlah kepada Sang Buddha yang ada di Alam Sukhavati, " Dengarkanlah ajaranNya, resapi ajaranNya dengan gembira, dan praktekanlah, maka kalian akan segera mampu merealisasikan apa yang kalian niatkan !.

Jika kalian telah berada di Alam BuddhaNya, seketika itu pula kalian memperoleh kekuatan supranatural, berkat arahan-arahan dari Sang Buddha Amitabha, pastilah kalian akan mencapai Pencerahan Sempurna.

Berkat sumpah suci yang dipegang teguh oleh Buddha Amitabha, siapa saja yang mendengar tentang Beliau dan berniat lahir di Sukhavati, pasti akan terlahir di sana tanpa ada yang terkecualikan, dan dengan begitu mudahnya mereka mencapai tingkat Srotapanna. "

Demikianlah para Bodhisattva, jika kalian memiliki tekad sejati, maka kalian akan memiliki Alam Buddha seperti ini, dalam misi kalian menyelamatkan para mahluk, Nama kalian akan dikenal hingga ke sepuluh penjuru semesta.

Dalam melakukan sembah sujud kepada para Tathagata, kalian bisa menjelma dalam berbagai bentuk, lalu terbang ke Alam Suci Mereka, setelah bersujud kepada Mereka dengan batin penuh kebahagiaan, kalian bisa kembali lagi ke Alam Sukhavati.

(Sukhavati Vyuha Sutra)


*dicopas dari status FB yth Shangse Sukhavati Prajna, tgl : 18 Mei 2018.

Minggu, 20 Mei 2018

TIADA KESERAKAHAN di SUKHAVATILOKA


Di Alam Sukhavati segala kekotoran batin tidak dapat muncul, karena lingkungannya terlalu bagus. Di dunia ini manusia tamak akan harta benda, mengapa demikian? Karena harta benda itu sangat langka, tidak cukup dibagi-bagikan. Sesungguhnya apa yang paling diperlukan manusia dan sedikitpun tidak boleh kurang, apakah itu? Udara. Apakah ada orang yang tamak akan udara? Tidak ada. Mengapa demikian? Karena sudah terlalu banyak.

Di Alam Sukhavati emas, perak dan permata lainnya, seperti udara di planet kita, terlampau banyak, siapa yang menghendaki benda sedemikian? Tujuh mustika di Alam Sukhavati, mutiara dan batu permata lainnya digunakan untuk apa? Sebagai bahan bangunan, emas digunakan untuk mengaspal jalanan, siapa yang menghendaki benda ini?
Maka itu di Alam Sukhavati, anda tidak mungkin timbul keserakahan, karena benda berharga ini sudah terlampau banyak, semuanya kebanyakan, anda tidak mungkin bisa mengambilnya hingga habis, keperluan hidup juga takkan kekurangan. Lagipula di Alam Sukhavati, segalanya muncul sesuai apa yang anda pikirkan, tidak perlu di produksi, semuanya terwujud dari pikiran, terpikir apa maka berubah jadi apa, segala keinginan jadi kenyataan, inilah Alam Sukhavati.
Kutipan Ceramah Master Chin Kung 5 Agustus 2014
極樂世界這些煩惱習氣生不起來,環境太好了。我們這個世間人貪財,為什麼?財物太少了,不夠分配。其實,人生迫切需要的,一刻都不能少的是什麼?空氣。有沒有人貪空氣的?沒有。為什麼?它太多了。極樂世界的金銀財寶,就跟我們這空氣一樣,太多了,誰要那個東西?在極樂世界的七寶,珍珠瑪瑙這種七寶,琉璃,做什麼用?建築材料。黃金鋪馬路的,鋪路的,我們這邊鋪柏油,極樂世界鋪黃金,誰要這個東西?極樂世界你不可能起貪心,那就是它太多了,樣樣都多,你取之不盡,用之不竭。而且在極樂世界,樣樣稱心如意,無需要造作,都是從念頭裡頭變現出來的,想什麼變現什麼,心想事成,這是極樂世界。
文摘恭录 — 二零一四淨土大經科註  (第八十六集)  2014/8/5

Senin, 23 April 2018

Melafal Amituofo Memperoleh Penjemputan


Clarity Sukhavati>ke Negeri Teratai
Admin26 Mei 2017
Kisah Mukjizat Melafal Amituofo Nusantara 02
Melafal Amituofo Memperoleh Penjemputan
Sekitar pertengahan tahun 2015, saya berjumpa dengan seorang bhiksuni di salah satu vihara di Jawa Barat. Bhiksuni tersebut berbagi kisah Dharma kepada saya tentang seorang praktisi wanita, umat di vihara tersebut, yang dengan tulus dan tekun melafal Amituofo, sehingga mengetahui terlebih dahulu waktu kepergiannya. Kisahnya begini.
“Dalam ingatan saya, kurang lebih belasan tahun yang lalu, ada seorang praktisi wanita yang sering datang ke vihara ini, dan dia tinggal hanya dengan putra tunggalnya”, cerita pembuka bhiksuni kepada saya.
Bhiksuni melanjutkan bahwa sepatah Amituofo tak terpisahkan dari aktivitas harian dari praktisi wanita tersebut. Baik dalam mengurus rumah, membantu di vihara, bahkan saat duduk, berdiri, berjalan, dan berbaring, dia selalu melafal Amituofo. Bhiksuni juga sering melihat gerakan bibir praktisi wanita tersebut sedang melafal Amituofo dengan suara kecil (melafal dengan Gaya Vajra).
“Sampai suatu ketika, praktisi wanita tersebut jarang terlihat oleh saya. Putranya yang datang ke vihara mengatakan bahwa mama mulai mengurangi aktivitas dan sedang serius menjalani jadwal melafal Amituofo yang dibuatnya”, cerita bhiksuni.
Bhiksuni menuturkan bahwa jadwal praktisi wanita itu adalah pagi setelah bangun tidur, dia mengurus rumah selama 3 jam. Kemudian 3 jam berikutnya masuk ke dalam kamar yang terkunci untuk melafal Amituofo, dan 3 jam berikutnya adalah keluar dari kamar untuk melakukan aktivitas rumah lagi. Begitulah kegiatannya sehari-hari antara melakukan aktivitas rumah dan melafal Amituofo yang diberi jeda 3 jam dari pagi hingga malam hari.
Sampai akhirnya tiga tahun kemudian, praktisi wanita tersebut tiba-tiba berpamitan kepada putranya.
“Tolong, nak, 7 hari lagi, undang bhiksu di vihara kita untuk membantuku melafal Amituofo di rumah, sebab Buddha Amitabha akan segera menjemputku”, kata praktisi wanita tersebut kepada putranya, dimana putranya menganggap ucapan si mama adalah sembarangan. Si mama juga sudah berpesan agar putranya mengurus rumah dengan baik.
Meski demikian, putranya tetap menuruti apa yang diminta si mama. Dan akhirnya dia mendapat informasi bahwa semua bhiksu sedang berada di Taiwan. Dan dijadwalkan pulang dari Taiwan, adalah tepat sehari, setelah hari penjemputan praktisi wanita tersebut.
Kemudian putra itu melapor kepada mamanya tentang hal ini. Dan hanya ditanggapi dengan senyuman yang teduh tanpa meminta bantuan putranya untuk melafal Amituofo untuknya.
“Saya sempat menceritakan hal ini kepada saudara seperguruan saya, dan dia meragukan dengan mengatakan bahwa mana mungkin di Indonesia ada peristiwa penjemputan oleh Buddha Amitabha”, tutur bhiksuni kepada saya.
Selanjutnya, bhiksuni mengatakan bahwa benar adanya bahwa tepat di hari ke-7, praktisi wanita tersebut terlahir ke Alam Sukhavati, meninggal di kamarnya dengan usaha melafal Amituofo sendiri tanpa bantuan siapapun, dengan wajah yang tenang dan lembut.
Anaknya mengatakan bahwa sempat ada yang mencium bau yang sangat harum di rumahnya hingga ada yang mendengar alunan musik yang indah setelah meninggalnya praktisi wanita tersebut. Setelah dikremasi, juga didapati beberapa relik (sarira) yang indah.
Mereka yang mengetahui dan menyaksikan kisah ini, semakin yakin bahwa melafal Amituofo dengan tulus dan tekun, akan memperoleh kepastian penjemputan dari Buddha Amitabha. Sekalipun itu dengan usaha sendiri yang telah dilatih dalam sehari-hari.

Ditulis pada 26 Mei 2017 oleh Dharma Sena.
**Dicopas dari status Facebook: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1670160623279973&set=gm.129050267660767&type=3&theater&ifg=1

Kamis, 15 Maret 2018

Bhaisajyaguru Buddha dan Amitabha Buddha


Kiriman dari: Bpk Satyavira Zhu
@16/March/2018 Bhiksu Ru Ji menulis ;

Aliran Bhaisajyaguru di China, Taiwan, Jepang, Korea, Tibet, bahkan di berbagai tempat di dunia, adalah salah satu aliran Buddha yang banyak penganutnya, terutama dalam sistem ajaran Buddha di Tiongkok. Sakyamuni Buddha, Bhaisajaguru Buddha, dan Amitabha Buddha disebut sebagai "3 Mustika Buddha.", maka ruang baktisala utama menampilkan ibadah 3 Buddha ini, sebagai simbol beribadah kepada para Buddha di sepuluh arah, terlihat betapa tinggi keluhurannya.
Aliran Bhaisajyaguru mendapatkan sambutan yang hangat, dihormati, terutama karena ikrar agung Buddha Bhaisajyaguru untuk kebaikan bagi kehidupan. Meliputi pangan, sandang, tempat tinggal, transportasi, kesehatan, badan sehat, mencegah penyakit dan mengobati penyakit, bahkan karir, kekayaan, keturunan, dan berbagai macam harapan. Buddha Bhaisajyaguru bisa memenuhi semua harapan makhluk hidup. Semua makhluk hanya perlu taat dan menerimanya, menjalankan ajarannya, bertekad membaca dan menerima, menghormati, memuja, selaras dengan jauhi semua kejahatan, berbuat semua kebajikan , berdoa kepada Buddha Bhaisajyaguru, semua keinginan akan berbuah sesuai harapan.

Umat yang menjalani ajaran Buddha Bhaisajyaguru bukan hanya terhindar dari bencana, rezeki lancar, usia panjang, di waktu yang sama meletakkan dasar bagi kesejahteraan dunia, meningkatkan kebajikan bagi dunia, sehingga dunia semakin mendapatkan kesejahteraan, dan kebijaksanaan secara penuh.

Meskipun ajaran Bhaisajyaguru menitik beratkan keuntungan dalam kehidupan, tetapi bukan hanya itu, melainkan ajaran kebajikan melampaui ajaran kebajikan dunia, hingga secara hakikatnya semua makhluk bebas dari penderitaan, merealisasikan (membuktikan) kebodhian. Inilah energi ikrar agung Buddha Bhaisajyaguru, yang juga merupakan keunggulan aliran Bhaisajyaguru, suatu kondisi abadi dan sejahtera.

Ada orang ingin ke Surga Sukhavati, menurut nya tidak perlu ikuti ajaran Bhaisajyaguru, cukup menjalani ajaran Amitabha. Tidak salah memang, namun ada yang salah paham bahwa ajaran Bhaisajyaguru dan Amitabha tidak ada hubungannya. Atau ada yang beranggapan ajaran Bhaisajyaguru dengan ajaran Amitabha bertolak belakang, keduanya tidak saling akomodatif, atau saling memisahkan. Pemikiran demikian adalah salah paham ! Sutra Bhaisajyaguru mengatakan bila anda menjalani ajaran Bhaisajyaguru tapi ingin lahir di Surga Sukhavati, menjelang kematian anda Buddha Bhaisajyaguru akan mengutus 8 Maha Bodhisattva menjeput, membawa anda ke sana segera ; Bodhisattva Avalokitesvara, Bodhisattva Mahasthamaprapta, Bodhisattva Manjusri, Bodhisattva Maitreya, Bodhisattva Bhaisajyotama, Bodhisattva Bhaisajya Raja, Bodhisattva Ratna Cendana Kusuma, Bodhisattva Akshayamati. Para Bodhisattva ini, jangankan 8 Bodhisattva, satu saja yang datang sudah sulit diperoleh, apalagi sampai 8 Bodhisattva. Salah satunya adalah Avalokitesvara ( Kuan Im ) dan Mahasthamaprapta ( Ta Se Ce ) adalah 2 di antara 3 makhluk suci Surga Sukhavati ! Dia mewakili Buddha Amitabha datang menjeput anda. Jadi, Buddha Bhaisajyaguru memiliki energi ikrar agung membantu umat menuju Sukhavati. Kalau anda ingin Buddha Amitabha sendiri yang datang menjeput anda, segera beliau akan datang menjeput, dengan kata lain Buddha Bhaisajyaguru berubah bentuk menjadi Buddha Amitabha menjeput anda ( Buddha Bhaisajyaguru dan Buddha Amitabha pada dasarnya 1 tapi 2, juga 2 tapi 1 ). Jadi, ajaran Bhaisajyaguru dengan ajaran Amitabha tampaknya beda, sebenarnya saling mendukung dan saling menjadikan. Bagi orang yang hanya menjalani ajaran Bhaisajyaguru, kalau mau ke Surga Sukhavati, Buddha Bhaisajaguru tetap akan memenuhi harapan anda, jadi tidak perlu khawatir...

Sebenarnya dari 84.000 ajaran para Buddha, semua mempelajari ajaran Bhaisajyaguru, tanpa ajaran Bhaisajyaguru tidak bisa. Buddha Bhaisajyaguru mengobati penyakit jasmani dan batin. Termasuk fisika, biologi, psikologi, rohani, kesadaran , pikiran, sifat, emosi, bahkan berbagai kebiasaan, meliputi alam lingkungan, bencana, kecelakaan, berbagai penderitaan karma buruk, berbagai penyakit, menggunakan obat mujarab Buddha Bhaisajyaguru, tidak ada yang tidak mengabarkan penyakit nya sembuh. Lebih lanjut lagi bila orang mau merealisasikan jalan kebuddhaan, mesti melewati pembuktian ajaran Bhaisajyaguru. Simpel dikatakan harus mengobati penyakit. Seseorang yang tidak sehat jasmani rohani tidak mungkin bisa merealisasikan kebuddhaan. Bisa dikatakan dalam ajaran Buddha, semua Bodhisattva adalah sosok yang sehat jasmani rohani. Dari sudut pandang ini, diketahui ajaran Buddha Bhaisajyaguru sangatlah penting.

Ada juga yang menganggap 7 Buddha hakikatnya hanya perwujudan dari 1 Buddha ( Buddha Bhaisajyaguru ), ada juga yang bilang 7 Buddha berdiri sendiri sendiri, tidak sama. Maknanya secara Badan Dharma (Dharma Kaya), hanya ada satu, bukan 2 atau 7 ; berdasarkan gelar nama Buddha yang berbeda, alam Buddha yang berbeda, ikrar agung yang berbeda (isinya sebetulnya saling melengkapi, saling mencerminkan, saling berhubungan), maka dipisahkan menjadi 7 Buddha. Setiap Buddha punya makna tersendiri, 7 Buddha punya 7 kegunaan masing masing. Sekarang semua digabungkan, sesuai kesukaan masing masing orang, dan pandangan masing masing, mau jalani 1 ajaran atau 2 ajaran, boleh boleh saja. Keahlian masing masing akan meningkatkan keyakinan terhadap ajaran Bhaisajyaguru.

Semoga semua makhluk dunia yang berjodoh dengan Buddha Bhaisajyaguru, dapat memasuki cahaya lazuardi meditasi Buddha Bhaisajyaguru, kebuddhaan muncul dimana mana, jauh dari segala penyakit dan penderitaan, bebas dari bencana, karma buruk berakhir muncullah kesejahteraan, semoga cepat merealisasikan kesadaran agung, cahaya dan usia tanpa batas, membimbing makhluk hidup lainnya untuk merealisasikan ikrar kebodhian.

Sadhu Sadhu Sadhu
---

*Namo Yao Shi Liu Li Guang Wang Fo


Sabtu, 17 Februari 2018

Kemelekatan kepada Buddha Amitabha dan Alam Sukhavati


Dikutip dari grup FB "Recite Amituofo"
Status pada: 27 Oktober 2017

Orang awam melatih diri, tidak ada yang tidak melekat pada rupa, kesalahannya terletak di sini, mengapa keterampilan melatih diri tidak efektif? [Sebabnya adalah karena] melekat pada rupa. [Bagaimana agar] tidak melekat pada rupa?. Sulit!
Di dalam Aliran Sukhavati ada sebuah cara untuk menghadapinya.
Aliran Tanah Suci justru [dengan] melekat pada rupa, yakni melekat pada Buddha Amitabha, melekat pada  [kerinduan atau keinginan yang kuat untuk terlahir di] Alam Sukhavati.

Kewibawaan lingkungan Alam Sukhavati seperti yang disebutkan di dalam sutra, kita mesti senantiasa merindukannya, ini adalah melekat pada rupa, mengingatNya, ini sudah melekat pada rupa, melafal-Nya, ini juga sudah melekat pada rupa, jadi Aliran Sukhavati tidak sama dengan pintu Dharma lainnya. Selain Aliran Sukhavati, 84 ribu pintu Dharma lainnya, [dimana] setiap metode tersebut tidak boleh melekat pada rupa.
Bagi Aliran Sukhavati yang penting adalah anda benar-benar yakin pada Alam Sukhavati, tiada keraguan sama sekali, bila anda bertanya padaku, apakah benar Alam Sukhavati itu nyata adanya? Saya beritahu padamu, Alam Sukhavati itu benar-benar nyata adanya, Buddha Sakyamuni takkan mengelabui kita.

Lantas kenapa sudah melekat pada rupa, kita masih dapat terlahir ke Alam Sukhavati?
Justru hanya dengan melekat pada Tanah Suci Sukhavati barulah dapat terlahir di sana, sesampainya di Alam Sukhavati belajar pada Buddha Amitabha, menerima pemberkatan dari kekuatan kewibawaan Buddha Amitabha, membantumu meninggalkan segala kemelekatan rupa, sehingga memperoleh keseluruhan Dharma.
Kemudahan metode Tanah Suci ada di sini, demikian pula keunggulan metode Tanah Suci juga ada di sini. Selain Pintu Dharma ini, tiada lagi pintu Dharma kedua, yang melekat pada rupa tapi bisa mencapai keberhasilan, takkan ada lagi yang kedua.

Kutipan Ceramah Master Chin Kung 13 Oktober 2017
https://tujuhmustika.blogspot.co.id/2017/10/kutipan-ceramah-master-chin-kung-13.html

凡夫修行,沒有不著相的,錯就錯在這裡,功夫為什麼不得力?著相。不著相,難!在淨宗有一個方法,對治這個辦法,用什麼?淨土宗是住相。住什麼相?住阿彌陀佛的相,住極樂世界的相,經上所講極樂世界依正莊嚴,要我們常常想念,這就著相,想,著相了,念,著相了,不同於其他大乘法門。其他的,除淨宗之外,八萬四千法門,門門都不能著相。難易從這裡明顯的顯示出來了。
淨宗只要你對極樂世界真正相信,絕不懷疑,你要問我有沒有極樂世界?我告訴你,真有,確實有極樂世界,佛不妄語。那我們到極樂世界去,著了相為什麼還能去?著相只能去淨土,去淨土之後,跟阿彌陀佛學習,阿彌陀佛威神加持,幫助你離一切相,即一切法。淨土的方便在此地,淨土的殊勝也在此地。除這個法門之外,沒有第二個法門,說是住相能成就的,沒有。
文摘恭錄 — 淨土大經科註(第四回)  (第四九O集)  2017/10/13

Pahala Melafal Namo Amituofo (Nianfo)



Dari Grup FB "Recite Amituofo"
Status: 11 Oktober 2017
Master Fa Zhao yang hidup pada masa Dinasti Tang ketika berziarah ke Gunung Wutai, [disana beliau] bersua dengan Bodhisattva Manjusri dan Bodhisattva Samantabhadra, lalu  [beliau] bertanya pada kedua Maha Bodhisattva, apa metode melatih diri yang terunggul.
Bodhisattva Manjusri menjawab : “Diantara seluruh pintu Dharma, tidak ada yang sebanding dengan Pintu Dharma Pelafalan Amituofo”. Bodhisattva Manjusri juga berkata, “Saya sendiri pada kalpa lampau, oleh karena melatih metode pelafalan Amituofo, sehingga memperoleh segala benih kebijaksanaan”. Bodhisattva Manjusri mewakili kebijaksanaan.
Dalam Tradisi Mahayana terdapat empat Maha Bodhisattva, yakni ; -- Bodhisattva Ksitigarbha  (Ti Chang Wang Pusa), -- Bodhisattva Avalokitesvara  (Guan Shi Yin Pusa),
-- Bodhisattva Manjusri   (Wen Shu Shi Li Pusa), dan -- Bodhisattva Samantabhadra  (Pu Xian Pusa)
Bodhisattva Ksitigarbha mewakili landasan dari pelatihan diri, yakni berbakti pada ayahbunda.
Dengan perkataan lain, kalau tidak berbakti pada ayahbunda, juga tidak tahu menghormati guru, maka dia tidak bisa melatih Pintu Dharma ini, hal ini mesti diketahui. Mengapa demikian? Berbakti merupakan akar dari segala Dharma di dunia ini, baik Dharma duniawi maupun Dharma non duniawi, tanpa akar ini, bagaimana anda dapat melatih diri?
Maka itu di dalam “Tiga Berkah Karma Suci”, kalimat pertama bunyinya adalah “Berbakti pada ayahbunda, menghormati guru dan senior, berwelas asih tidak membunuh, melatih Sepuluh Kebajikan”. Berbakti berada di urutan pertama.
Kutipan Ceramah Master Chin Kung 14 September 2017
唐朝法照法師上五台山,見到大聖竹林寺,「見文殊、普賢二大菩薩,問修行之要」。文殊菩薩說:「諸修行門無如念佛。」諸,是指八萬四千法門,無量法門,這麼多的法門,修行的法門,沒有一樣能跟念佛相比,都不如念佛。菩薩說,文殊菩薩,「我於過去劫中,因念佛故,得一切種智」。文殊菩薩表智慧。
大乘有四大菩薩,地藏、觀音、文殊、普賢,這四大菩薩。地藏代表修行的根本,是什麼?孝養父母。換句話說,不能夠孝養父母、不能夠尊敬老師,他修這個法門也不行,這個一定要知道。為什麼?孝親尊師是善根,世間一切法的根,出世間也是一切法的根,你沒有這個根,你怎麼修?所以淨業三福第一條就是「孝養父母,奉事師長,慈心不殺,修十善業」,頭一條,四句話。
文摘恭錄 — 淨土大經科註(第四回)  (第四七七集)  2017/9/14


Kamis, 04 Januari 2018

Pengenalan Singkat Amitabha Buddha



Tubuh Amitabha Buddha ( Amituofo ) berwarna merah, mengenakan jubah kasaya, duduk bersila penuh di atas padmasana berkelopak seribu, kedua tangannya membentuk mudra dhyana menopang patra penuh dengan amrta, dengan penuh kewelasan Dia memandang semua makhluk.
Amitabha Buddha memiliki 48 Mahapranidhana. Amitabha Buddha telah menuntun para insan yang tak terhingga banyaknya, berjodoh dengan semua mahluk oleh karena itu dimuliakan dengan ungkapan : “Di setiap keluarga terdapat Amitabha Buddha.”
Dalam Tantrayana, Amitabha Buddha merupakan salah satu dari Pancajnana Mahavairocana Tathagata, yaitu : Pratyaveksanajnanam ( Kebijaksanaan Pengamatan Luhur ).
Dalam Garbhadhatu Mandala, Amitabha Buddha bersemayam di sebelah Barat dalam Sala Tengah Padmasana Berkelopak Delapan. Dalam Vajradhatu Mandala berada di sebelah Barat Pancamoksacakra, merupakan upayajnana ( Kebijaksanaan Dalam Upaya Menuntun Semua Makhluk ) dari Tathagata.
Amitabha Buddha memiliki tiga nama utama :
Buddhisme Sutrayana menyebutnya : Buddha Usia Tak Terhingga ( Amitayus Buddha ) dan Buddha Cahaya Tak Terhingga ( Amitabha Buddha )
Sedangkan dalam Tantrayana disebut : Amrtaraja Tathagata.
Amitabha Buddha memiliki 13 Nama Agung, antara lain :
Buddha Usia Tak Terhingga, Buddha Cahaya Tak Terhingga, Buddha Cahaya Tak Bertepi, Buddha Cahaya Tanpa Rintangan, Buddha Cahaya Tiada Tara, Buddha Raja Nyala Cahaya, Buddha Cahaya Murni, Buddha Cahaya Sukacita, Buddha Cahaya Prajna, Buddha Cahaya Tiada Terputus, Buddha Cahaya Tak Terperikan, Buddha Cahaya Tak Terungkapkan, Buddha Cahaya Melampaui Surya dan Candra.
Amitabha Buddha memiliki Samyakdharmacakrakaya dan Sasanacakrakaya :
Samyakdharmacakrakaya : Manjusri Bodhisattva
Sasanacakrakaya : Yamantaka Vajra
Trini Arya Sukhavatiloka adalah : Amitabha Buddha , Avalokitesvara Bodhisattva dan Mahastamaprapta Bodhisattva.
Ada dua Sutra Buddhabashitam Maha Amitabha Buddha , yang pertama adalah hasil koreksi dari Jinshiwang Rixiu dari Dinasti Song.
Yang satunya lagi adalah Amituosanyesanfosaloufotanguodurendaojing ( yang disebut juga Maha Amitabha Sutra )
Padma merupakan lambang bagi Amitabha Buddha.
Di dunia saha ini, Buddha yang paling utama dalam menuntun semua makhluk adalah Amitabha Buddha.
Dalam Sukhavatiloka terdapat sembilan kelahiran tiga kualitas . Asalkan sadhaka memiliki keyakinan kokoh terhadap mulapranidhana Amitabha Buddha dan mencapai kondisi sepenuh hati dan konsentrasi, maka pasti dapat terlahir di Sukhavatiloka.
Asalkan di saat-saat meninggal dunia dapat mencapai kondisi sepenuh hati melafal Nama Buddha, bahkan insan yang pernah melakukan sepuluh perbuatan jahat dan lima karma buruk berat pun dapat terlahir dalam 9 kualitas kelahiran padma dalam Ksetraparisuddhi Amitabha Buddha. Sukhavatiloka dan mulapranidhana Amitabha Buddha, sungguh istimewa, sungguh agung, inilah Amitayus Buddha yang paling utama dalam menuntun insan.
Keistimewaan Amitabha Buddha adalah Beliau mendirikan empat jenis Ksetraparisuddhi :
1. Ksetraparisuddhi tempat insan awam dan Suciwan tinggal bersama.
2. Ksetraparisuddhi tempat Suciwan yang telah memadamkan segala nafsu keinginan namun masih mempunyai sisa avidya.
3. Ksetraparisuddhi tempat Bodhisattva yang telah memadamkan satu bagian avidya.
4. Ksetraparisuddhi yang berupa kondisi Kebuddhaan sempurna, dimana semua avidya telah sepenuhnya padam.
Teristimewa adalah Ksetraparisuddhi di mana insan awam dan Suciwan tinggal bersama, di sana dapat terlahir dengan membawa karma, merupakan upaya kausalya nan agung, di lingkungan istimewa dari padma, batin timbul dan lenyap dari awam ditransformasikan menjadi Bodhicitta tak timbul dan tak lenyap.
Mengapa Sukhavatiloka Barat demikian termasyhur ? Menurut hasil penelitian dari Mahabhiksu Yinshun, orang India cenderung memuja saat matahari hendak terbenam , mereka menikmati keindahan dan kesunyian saat matahari mulai terbenam, sebab saat itulah hari akan berlalu, sehingga mereka selalu sangat memuja matahari terbenam. Matahari terbenam di sebelah Barat, di India, Buddha dikatakan berada di Sukhavatiloka Barat, yang terutama adalah karena mereka sangat memuja matahari terbenam. Oleh karena itulah Sukhavatiloka Barat menjadi sangat termasyhur. “Keindahan matahari terbenam sungguh tidak terkira, saat-saat di mana senja telah dekat.” Matahari terbenam memancarkan kilauan sinar yang sangat indah, juga memberikan nuansa kesunyian, di mana siang hari sudah hendak berakhir.
“Di antara Para Buddha, janji suci Amitabha Buddha adalah yang paling agung
Mahasadhana Amitabha Buddha seperti halnya metode dalam Aliran Ksetraparisuddhi , sepenuhnya melafal Amitabha Buddha, juga merupakan pelafalan Buddha Vidyadhara, banyak orang menekuni sadhana ini, ini disebut sebagai jalan yang mudah ditempuh, dapat dikatakan lebih mudah dilakukan dibanding dengan metode lain dalam Buddhisme.
Tiap hari saat hendak keluar rumah melafalkan : Metode 10 Pelafalan, yaitu menghirup napas sekali, kemudian terus melafal, melafal hingga hembusan napas habis ; Kemudian menghirup napas lagi dan terus melafal hingga hembusan napas habis, melakukan hal ini sepuluh kali baru boleh keluar rumah. lakukan rutin setiap hari seumur hidup.
Lebih maju lagi adalah Metode Pelafalan Nama Buddha Dengan Visualisasi
para siswa melakukan pradaksina, saat itu harus memvisualisasikan Amitabha Buddha setinggi Pohon Pinus, atau bahkan lebih tinggi dari Pohon Pinus, di hadapan terdapat Amitabha Buddha yang bahkan dapat setinggi langit, saat berjalan sambil melafal dan sambil memvisualisasikannya. Inilah pelafalan Nama Buddha dengan visualisasi, yaitu melafalkan Nama Agung Buddha dengan memvisualisasikan wujud-Nya.
Saat bersadhana di hadapan altar, visualisasikan Amitabha Buddha menjadi sangat kecil, berwarna kuning keemasan, memancarkan cahaya, tangan membawa padma, satu tangan membentuk mudra varada ( memberi anugerah ) , satu tangan membentuk mudra memegang padma, Amitabha Buddha yang berukuran kecil berada di hadapan dahi (Dantian atas). Bisa juga memvisualisasikan Amithaba buddha sebesar angkasa, terus melafal Namo Amituofo sambil bervisualisasi.
Amitabha Buddha sangat agung, Nama Buddha yang paling banyak dilafalkan oleh para insan adalah Nama Agung Amitabha Buddha. Kekuatannya dalam menuntun para insan adalah yang terbesar, Dia adalah Cahaya Tak Terhingga, Usia Tak Terhingga, memiliki afinitas yang paling erat dan paling besar dengan para insan.
Dalam Teks Makna Gatha Ksetraparisuddhi oleh Nagarjuna Bodhisattva, terdapat sebutan khusus bagi Amitabha Tathagata, yaitu : “Namo Amitabha Buddhaya dalam nama agung berjumlah tiga ratus enam puluh triliun seratus sembilan belas ribu lima ratus” Sekali melakukan pelafalan, langsung melafal : “Namo Amitabha Buddhaya dalam nama agung berjumlah tiga ratus enam puluh triliun seratus sembilan belas ribu lima ratus”
Pelafalan Nama Buddha adalah upaya kausalya. Usai melafal Amitabha Buddha, kita perlu melafal Avalokitesvara Bodhisattva dan Mahastamaprapta Bodhisattva. Untuk Avalokitesvara Bodhisattva, kita melafal : “Om. Mani. Beimi. Hom.”, sedangkan untuk Mahastamaprapta Bodhisattva, kita melafal, “Om. Xuxu. Suo. Suoha.” Demikian biasanya saya melakukan pelafalan Nama Buddha.
Maharatnakuta Sutra menyatakan : "Di masa akhir Dharma, di antara ratusan juta orang yang menekuni bhavana, sangat jarang ada satu yang dapat merealisasi Bodhi, ( oleh karena itu ), hanya metode pelafalan Nama Buddha, yang dapat menyeberangkan mereka terbebas dari tumimbal lahir."
Manfaat Aksara "HRIH" ( XIE / CHULI )
Satu aksara "Xie", merupakan mantra bijaksara Amitabha Buddha.
Dalam Prajnaparamitanayasatapancasatika disebutkan : "Menjapa mantra satu aksara ini, dapat menyingkirkan segala malapetaka dan penyakit, kelak meninggal dunia dapat terlahir di Sukhavatiloka, memperoleh kelahiran jenjang padma tertinggi.


source : dharmadesana Lien Seng rhinpoce.
*status dari Sdr Padma Kara Kumara, 04-Jan-2018 di Grup Buddha Dharma
*https://www.facebook.com/kwanyin.putosan/posts/1683942181648783