Senin, 23 Desember 2024

PINTU MASUK KE ALAM SUKHAVATI SEMAKIN TERBUKA LEBAR

 (BSPK diangkat sebagai Bodhisattva Utama di Alam Sukhavati)


Judul asli:
LENCANA EMAS BUDDHA AMITABHA
(Rabu, 11 Desember 2019), 16 bulan 11 lunar


Sore ini aku diundang seorang umat untuk makan bersama di salah satu restoran di daerah MaBes.

Saat hendak pergi, terjadi perubahan cuaca yang sangat drastis, dari terang benderang dan panas, mendadak angin kencang bertiup, awan gelap muncul memenuhi angkasa dan turun hujan.

Aku segera naik ke mobil dan berkonsentrasi di dalam meditasi, karena cepatnya perubahan alam itu diiringi dengan cepatnya pula perubahan aura tubuh yang kurasakan.

Dengan cepat aku memasuki samadhi, cakra mahkota terbuka dan dharmakaya (BSPK Bodhisattva Sukhavati Prajna Kuning) melesat ke angkasa menuju Surga Barat Buddha AmitabhaSukhavatiloka.

Aku melewati Pelataran dan turun di Tempat Pembabaran Dharma Buddha Amitabha.

Di situ telah banyak penghuni Sukhavatiloka berkumpul, wujud mereka sangat berkarisma, bercahaya dan berpakaian indah, ada juga para Bodhisattva dan para Dewa, mereka semua memenuhi Tempat Pembabaran Dharma, sangat ramai sekali, Buddha Amitabha duduk dengan agung di atas singgasana teratai di pusat, dengan didampingi para Bodhisattva Utama.

Aku berjalan menuju Junjungan Tertinggi dan memberi hormat, beliau mengarahkan wajahnya dan mengangkat tangan kanannya ke hadapanku memberkati sambil berkata ;

Bodhisattva Sukhavati Prajna Kuning, selamat datang...cepat sekali kau merespon panggilanKu ".

" Terimalah hormatku Buddha, aku segera menuju ke sini ketika melihat perubahan alam, adakah yang hendak Buddha sampaikan ? "

Buddha Amitabha tidak langsung menjawabku, beliau mengalihkan pandanganNya ke semua yang hadir sambil berseru ;
" Semua PengikutKu, seluruh penghuni alamKu, para Dewa dan para BodhisattvaKu, dengarkanlah ! Bodhisattva Sukhavati Prajna Kuning telah berhasil melewati ujian pelatihan dirinya dan telah berhasil menemukan metode pembangkitan kundalini, marilah kita memberi apresiasi kepadanya ".

Seluruh yang hadir di Tempat Pembabaran Dharma bertepuk tangan dan bersorak sorai, mengapresiasikan pencapaianku dengan penuh kegembiraan.

BSPK pada awalnya hanya seorang Dewi dalam wujud Burung Hong di Nirvana dan merupakan Binatang Langit kesayangan Kaisar Langit, Aku membawanya ke sini untuk bertugas menjaga keindahan dan memberinya nama Dewi Sukhavati Kuning.

Demi menjalankan misi dariKu dan peningkatan spiritual, dia rela turun ke dunia manusia untuk menjalankan tugas, melatih diri dan berhasil dalam setiap pembinaan dirinya.

Dia telah mampu menciptakan Tanah Sucinya di dalam Sukhavatiloka ini.

Kalian semua perlu belajar dari keberhasilannya dan mencontoh keteguhannya dalam menyelesaikan setiap ujian pelatihan diri "

" Ya. Kami akan berusaha melatih diri dengan baik, mengikuti perkataan Buddha ", semua berseru dengan penuh semangat, suasana hari ini begitu hidup dan meriah, aku merasa terharu melihat sikap Buddha Amitabha yang begitu antusias mengumumkan keberhasilanku, jika diingat lagi beberapa hari sebelumnya, ketika aku sedang mengalami kebuntuan dan kesakitan dalam menghadapi kundalini, Beliau tampak begitu tegas menyuruhku kembali ke bumi untuk menjalani tahap pelatihan diriku dan tidak berkenan memberitahukan cara mengatasinya ... he he he.

Buddha Amitabha kembali memandangku dan berkata ;
BSPK, kau telah kembali berhasil dalam pelatihan dirimu, dengan berhasilnya dirimu menyelesaikan tahap ini, Aku hendak memberikan penghargaan untukmu "

Beliau mengulurkan sesuatu kepadaku, aku bersujud dan mengangkat kedua tanganku di atas kepala dan menerima pemberian Beliau, ketika melihat apa yang diberikan di telapak tanganku, tampak sebuah benda berwarna kuning emas, berbentuk oval, di tengahnya terdapat gambar Buddha Amitabha dengan posisi berdiri, tangan kiri menopang sekuntum teratai, tangan kanan lurus kebawah dengan telapak menghadap depan, benda itu tampak bersinar berkilauan.

" Aku memberikan LENCANA EMAS untukmu, sebagai tanda bahwa saat ini, kau telah resmi menjadi salah satu BODHISATVA UTAMA Ku, yang akan selalu berada di sampingKu, dari sekarang sampai selamanya. "

" Terima kasih Buddha, atas pemberian yang sangat berharga ini "
Biasanya, jika mendapat hadiah ataupun penghargaan dari para mahkluk suci, aku akan memasukkannya ke dalam hati, tapi baru saja hendak memasukkan penghargaan ini, Buddha Amitabha berkata lagi ;

BSPK, masukkanlah ke atas kepalamu, di depan topi jirahmu terdapat wujudku, masukkanlah ke sana ".

Aku mengangkat tanganku yang terdapat LENCANA EMAS ke depan Topi Jirah Chakravartin, menempelkannya di gambar Buddha Amitabha, saat menurunkan tangan, Lencana Emas itu hilang dari tanganku, dan wujud Buddha Amitabha di Topi Jirah Chakravartin yang aku kenakan, memancarkan sinar berkilauan.

BSPK, mulai hari ini, Aku akan selalu berada di atas kepalamu, selesaikanlah tugas dan misimu di dunia dengan baik ".

" Baik Buddha " aku beranjali berterima kasih.

" Temuilah Gurumu ... "
Buddha Amitabha mempersilahkan aku untuk bertemu Guru Sejati, aku segera menghampiri Guru yang memang berada tidak jauh dari beliau.

Setelah mendapat izin dari Buddha AmitabhaGuru Sejati segera bangkit dari duduknya, kami bergandengan tangan menjauhi Singgasana Buddha Amitabha, duduk di hamparan lantai Tempat Pembabaran Dharma.

Desi, aku turut berbahagia atas keberhasilanmu ".

" Terima kasih Guru, ini berkat dorongan semangat dariMu ".

Sejenak kami duduk berdampingan, berpegangan tangan dan menyandarkan diriku dipelukkan Guru Sejatiku ini, di dalam lubuk hatiku paling dalam, aku berterima kasih atas bimbingan dan penyertaannya selama ini, memohon maaf jika selama didampingi, aku pernah bandel, bermalas-malasan dan bersikap kurang patut secara pikiran, ucapan dan perbuatan. Aku tahu, walau tidak kuucapkan, Beliau bisa membaca dan mendengar perkataan hatiku.

" Besok adalah hari peringatan ulang tahun Buddha Amitabha, apakah kau mengetahuinya ? "
" Iya Guru, tapi waktu ke sini saya belum sempat membawa sesuatu untuk dipersembahkan kepada Beliau ".

" Bagaimana kalau kita mempersembahkan tarian untukNya ? ".

" Baik. Saya setuju Guru ".
Lalu kami bangkit berdiri dan menuju Singgasana TerataiGuru Sejati berkata kepada Buddha Amitabha ;

Buddha Amitabha, besok adalah hari peringatan ulang tahunMu, izinkan kami mempersembahkan tari sebagai hadiah dan ucapan syukur kami ".

Buddha Amitabha tersenyum, lalu berkata ;
" Menarilah ... ! "

Kemudian disaat kami hendak menari di hadapan Junjungan Tertinggi, suara musik surgawi berbunyi, sungguh menakjubkan, tidak tampak alat musik ataupun pemain musik sama sekali, tapi muncul suara musik begitu saja entah dari mana.

Aku bergandengan tangan dengan Guru Sejati, kami memberi hormat terlebih dulu kepada Buddha Amitabha, lalu kami mulai menari bersama dengan indahnya, teringat kembali masa yang lampau, ini bukan pertama kalinya aku menari bersama Guru Sejati, dulu sering menari bersamanya dan juga menari bersama para Dewi Sukhavati di Alam Sukhavati ini, sungguh membahagiakan, setelah selesai mempersembahkan tarian, aku harus kembali ke dunia untuk menyelesaikan tugas dan misi, menyelesaikan pembinaan diriku, juga menyelesaikan sisa hidupku dengan bahagia.

Selamat Ulang Tahun Buddha Amitabha.
BerkatMu Tak Berkesudahan.
Semoga semua mahkluk hidup mendapatkan pancaran cahaya kebahagiaan tanpa batas.

Amithofo,
Namo Samanto Motonam Wajela Tamo, Sie,
Om. Sukhavati Prajna, Hum.

--o0o--

Catatan:
BSPK -- Bodhisattva Sukhavati Prajna Kuning adalah tubuh Dharma (Dharmakaya) dari MG Sukhavati Prajna
Guru Sejati -- Bodhisattva Avalokitesvara Seribu Tangan Seribu Mata (Chien Shou Chien Yan Guan Shi Yin Pusa)

MGSP Menerima BINTANG UTAMA dari Guru Sejati (Bodhisattva Avalokitesvara 1000 Tangan 1000 Mata)



Judul asli: TUGAS AKHIR dari GURU SEJATI
(24 Desember 2108 - 1 Januari 2018)

Setelah upacara Apihoma pemberkatan Cahaya Teratai Kerukunan dan Kebahagiaan Buddha Amitabha selesai, esok harinya aku berangkat ke Taiwan, kami berjumlah 13 orang terdiri dari 3 keluarga. Tujuan awal ke Taiwan adalah untuk melihat beberapa sekolah yang diminati anak-anak, tidak pernah menyangka kalau perjalanan ini sekaligus merampungkan tugas dari Guru Sejati, waktu menerima tugas ini aku belum menyelesaikan tahap akhir Anuttarayoga dan beliau belum mencapai Maha Bodhisattva.
Beberapa waktu sebelumnya, salah satu muridku mengirimkan video dibangunnya rupang Kwan Im Seribu Tangan Seribu Mata, yang terbuat dari tembaga di Vihara Kuan Im, Taipei melalui sosial media, setelah melihat video tersebut, guru sejati hadir dalam meditasi dan menugaskan aku untuk ke tempat itu. Sebenarnya jauh hari sebelumnya aku sudah pernah melihat video tersebut, tapi waktu itu tidak ada intruksi dari guru sejati untuk kesana. Mungkin karena waktu dan karma jodohnya belum tiba.
Awalnya tidak tau lokasinya di mana, mencoba mencari cari informasi melalui teman, sudah dicari di daerah China tidak ada vihara yang sedang membangun rupang itu, ternyata adanya di Taipei, bersyukur karena tugas kali ini sejalan dengan rencanaku ke sana akhir tahun ini.
Kami berangkat tidak menggunakan jasa travel agent, sehingga kemana-mana naik MRT, yaitu kereta api yang menjadi salah satu transportasi umum di negara tersebut, karena itu kami harus kuat berjalan kaki, selama 9 hari di sana, waktu terasa padat dan berusaha tetap bersadhana dan meditasi menyerap energi alam.
Aku menghadap Guru Sejati pada tanggal 29 Desember setelah semua sekolah yang direncanakan sudah dikunjungi, untuk menuju ke vihara itu kami naik MRT menuju stasiun paling ujung di zona merah, stasiun Tamsui. Seorang teman di Jakarta mencoba membantu menghubungi orang vihara, katanya aku harus turun di stasiun Shulin, tapi kereta sepertinya sudah melewati stasiun itu, jadi kami putuskan untuk turun di stasiun selanjutnya, kemudian naik lagi arah balik, sungguh tidak diduga justru stasiun yang kami turun itu ternyata stasiun Shulin.
Dari stasiun Shulin, naik taksi 20 menit ke Yuan Dao Guan In, vihara itu berlokasi di daerah pegunungan, semakin mendekati lokasi hawa semakin dingin tapi sangat indah, dari kejauhan sepanjang perjalanan, aku bisa melihat rupang Guru Sejati dari dalam taksi dan merasakan aura dan energi yang sangat positif, dengan begitu aku tahu bahwa inilah tempat yang Guru Sejati maksudkan.
Karena rombongan yang lain tidak ikut bersamaku ke vihara ini, mereka menunggu di stasiun Tamsui, jadi aku tidak bisa berlama-lama, setelah bisa melihat wujud Guru dari kejauhan, aku segera bersadhana dan meditasi karena sudah merasakan kehadiran beliau.
Dalam meditasi, tubuhku terasa sangat nyaman, tampak cahaya putih muncul dan menerangi mataku, padahal cuaca saat itu sedang dingin sekali, tertutup kabut, hujan rintik dan angin. Tak lama kemudian guru sejati hadir di hadapanku, beliau berkata :
" Desi, kau sudah datang kesini, sungguh tulus. Ini adalah tugas terakhir yang aku berikan padamu selama membimbingmu, saat ini kau telah mandiri dan menjadi guru bagi murid muridmu. Aku hendak memberikan anugerah besar padamu atas pencapaian dan ketulusan hatimu mengikuti setiap ajaranKu, terimalah 'Bintang Utama' ini ".
Guru Sejati melontarkan sebuah benda berbentuk sebuah bintang berwarna dan bercahaya putih, memasuki cakra dahiku.
" Terima kasih Guru atas anugerahMu. Untuk apakah Bintang Utama ini ?"
" Ini adalah tanda bahwa saat ini, kau telah resmi menjadi Murid dan Pendamping UtamaKu dikehidupan sekarang dan akan datang, kita akan bersama-sama menyebarkan ajaran Buddha Amitabha ke segala penjuru alam semesta "

Apakah selama ini guru belum ada pendamping ?".
" Kau adalah pendampingku yang pertama, belum ada yang lainnya sejak dulu hingga sekarang ".
" Saya sangat bersyukur mendapat anugerah besar ini, semoga saya bisa menjalankan tugas mulia dengan baik dan benar ".
" Tempat ini belum selesai dibangun, tapi kau masuklah ke dalam untuk bersembahyang dan menghormat kepada Buddha dan Bodhisattva ".
Setelah Guru berkata demikian, tampak kehadiran Junjungan Tertinggi dan dua pendampingnya, tanpa berkata mereka memberkati dan pergi bersama Guru Sejati.
Aku memasuki gedung utama vihara, bagian dalam lantai 1, terdapat altar Buddha Amitabha dalam wujud dan sebutan Da Zi Zai Wan Fo / Buddha Cahaya yang Meluas, bersama dengan 4 Maha Bodhisattva, Avalokitesvara Bodhisattva, Manjusri Bodhisattva, Samanthabadra Bodhisattva, Ksitigarbha Bodhisattva, sedangkan Mahastamaprapta Bodhisattva sudah dalam penyatuan tubuh Buddha, serta 2 Bodhisattva pelindung yang hebat: Skanda Bodhisattva dan Sangharama Bodhisattva, sepenuhnya memiliki pemberdayaan yang tak terbayangkan untuk bantuan dalam kekayaan, keturunan, nasib baik, karier, atau ketenaran. Di sisi kanan aula, Bodhisattva Yuan-Dao, terdapat altar Patriark ke-2 dari Buddhisme Forshang. Disini juga terdapat piramid energi positif bagi kebijaksanaan, cinta, kesehatan dan kesejahteraan. Ada semacam ramalan kayu, tangan Buddha, beraneka warna dan jenis dupa permohonan.
Di Lantai 2 terdapat Relik Suci yang Luar Biasa, dimana tulang kremasi yang terdapat relix/sarira berwarna ditempatkan di dalam stupa stupa kecil. Ini tempat yang menginspirasi dan membuatku yakin bahwa pelimpahan jasa sangat bermanfaat untuk kebahagiaan semua makhluk hidup. Semua makhluk memiliki sifat Buddha. Baik itu manusia atau hewan, semua makhluk yang dikremasi dapat tetap menjadi peninggalan suci. Semua peninggalan suci yang dipajang di lantai 2 diperoleh karena tulang mereka berwarna putih bersih setelah dikremasi, menunjukkan bahwa makhluk yang sudah meninggal telah terlahir ke alam Sukhavati.
Oleh karena itu, tidak hanya penampakan peninggalan suci menunjukkan tingkat pencapaian seseorang dalam proses kultivasi, dalam arti positif, itu juga memberitahu orang-orang yang hidup untuk menghargai sebab akibat dari memahami kebenaran tertinggi.
Setelah selesai bersembahyang, kami segera meninggalkan vihara itu karena sudah ditunggu rombongan yang lain untuk makan siang. Dengan begitu tugas akhir dari guru sejati telah selesai dengan baik dan sempurna.
Dalam perjalanan pulang dengan MRT, aku merasa perut mulas hendak ke toilet, ternyata tidak hanya panggilan alam tapi juga panggilan Ucussma Vidyaraja, aku beryoga dan menyatu dengannya, ternyata beliau hendak mengucapkan selamat dan memberikan bonus atas keberhasilanku, beliau memberikan Vajrapasa/Tali Vajra yang berguna untuk menjerat/mengikat Mara atau hantu jahat, beliau juga berpesan supaya berkenan membimbing muridnya agar bisa mencapai keberhasilan dalam melatih diri.
Dharmapala yang satu ini walau wujudnya tampak sanggar tapi begitu lembut, terlebih lagi beliau amat menjaga dan memperhatikan keberhasilan muridnya. Mungkin semua guru sejati akan bersikap sama terhadap murid-muridnya, hanya saja mereka tidak menyadari.
Tanggal 31 Desember, tanpa sengaja aku dan Tangcu melewati sebuah klenteng dipinggir jalan dekat hotel kami menginap, karena hari sudah malam dan pintu menuju altar utama telah ditutup, kami hanya beranjali saja di bagian depan, tapi di sisi kiri dan kanan pintu masuk ke altar utama, terdapat rupang Ta Ye Er Ye, mencoba mengintip kebagian dalam tidak jelas terlihat, di sisi kanan tampak rupang Buddha Chi Kung, yang bagian tengah wujudnya berwarna hitam, berjanggut hitam, memegang plakat perintah dan bermahkota. Siapa adinata klenteng ini ?.
Tangcu menyarankan berkonsentrasi di altar depan, jadi aku beranjali dan mencoba menyatu dengan alam semesta dalam posisi berdiri, kurasakan energi positif yang sangat kuat, tidak lama kemudian muncul seorang Dewa Penguasa Neraka yang berwibawa, ternyata adinata klenteng ini adalah Raja Yama. Beliau sempat sedikit berbincang denganku, pembicaraan pribadi, tapi beliau berkenan memberkati beberapa kantung jimat yang aku terima dari tempatNya, cuma dapat 10 buah untuk bisa diberikan kepada mereka yang berjodoh, agar senantiasa mendapat berkah dari Raja Yama.
Perjalanan ini sangat bermakna, terutama saat mendapatkan hadiah istimewa kemunculan Pelangi yang sangat panjang dan indah di atas gunung wisata yang kami kunjungi pada tanggal 30 Desember.
Hari itu kami pergi ke Yan Ming Shan, yaitu sebuah tempat wisata yang banyak dikunjungi, tapi hari itu di sepanjang perjalanan naik ke atas gunung, hujan turun tidak berhenti, gunung tertutup kabut, angin juga kencang dan hawa dingin sekali.
Karena cuaca demikian akhirnya setiba di puncak, kami berniat turun kembali dan pulang dengan kecewa karena tidak bisa melihat pemandangan dan berfoto di sana. Saat perjalanan turun gunung, kami berbelok kekanan, karena menurut penjaga toko kecil dimana kami membeli makanan dan minuman, ada taman bunga yang bagus, jadi kami coba pergi ketaman bunga itu walau harus pakai jas hujan dan hujan-hujanan.
Kami berjalan menuju taman bunga dengan tidak bersemangat, karena hujan semakin deras saja, tapi ditengah perjalanan, Tangcu melihat sebuah pelangi dan menunjukkannya kepada kami semua, alhasil yang tadinya lemas dan kecewa, semua menjadi melonjak kegirangan, kami semua berlarian menuju semakin dekat ke pelangi itu, dalam hati aku berdoa, semoga berkah kebahagiaan ini tidak hanya bermanfaat bagi diri kami saja, tapi bisa dilimpahkan kepada semua makhluk hidup agar ditahun 2019 mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari tahun sebelumnya.
Kami semua berfoto dengan pemandangan alam yang menakjubkan itu, mungkin ini adalah pertama kalinya pelangi muncul di tempat wisata itu dan beruntungnya hanya kami yang berada di situ, menyaksikan dan mengabadikannya, sepertinya alam semesta sedang menghibur dan menyemangati kami dengan memunculkan sebuah pelangi, kembali teringat perkataan Junjungan Tertinggi, " Alam semesta berpihak padamu ", hari ini kembali dibuktikan. Setelah kami selesai berfoto, pelangi itu menghilang.
Guru Sejati ... terima kasih atas anugerah 'Bintang Utama'
Ucussma Vidyaraja ... terima kasih atas bonus 'Tali Vajra'
Raja Yama ... terima kasih atas berkah 'Kantung Jimat'
Alam Semesta ... terima kasih atas hadiah ''Pelangi Istimewa'
Amithofo.
o0o

======

copas dari status MGSP (MahaGuru Sukhavati Prajna):

Sukhavati Prajna menambahkan 5 foto baru — merasa terberkati.
29 Desember 2018 pukul 16.55 ·
"Tugas Akhir" telah selesai dengan baik, lancar dan sempurna,
Bersyukur hari ini mendapat anugerah besar "Bintang Utama",
Resmi menjadi Murid & Pendamping Utama Guru Sejati (Maha Bodhisattva Avalokitesvara Seribu Tangan Seribu Mata/Chien Shou Chien Yen Guan Se In Pusa Mohesa), dalam kehidupan sekarang dan akan datang.
Terima kasih Guru Sejati ...
Terima kasih Tri Suciwan Sukhavati ...
Terima kasih para Guru Pembimbing ...
Terima kasih para Sesepuh Tantra ...
Terima kasih para Guru Silsilah Angkasa dan Manusia.
Om Ami Te Wa, Sie
Om. Mani Padme, Hum

Minggu, 02 Juni 2024

MELAFAL AMITUOFO, MENGHAPUS DOSA BERAT 8 MILYAR KEHIDUPAN

Tanya Jawab Seputar Pintu Dharma Tanah Suci, #120

***Pertanyaan :
Saya sudah tua, tubuhku sering didera penyakit, meskipun kebaktian pagi dan sore serta melafal Amituofo masih bisa dilakukan berkesinambungan tak terputus, tetapi masih saja tetap seperti dulu.
Beberapa hari yang lalu, setelah membaca “Riwayat Para Bhiksu Senior”, di dalamnya ada sebuah kisah Bhiksu yang jatuh sakit, dalam mimpinya, Buddha datang memberi petunjuk padanya agar membaca “Mahaparinirvana Sutra”, kemudian sakitnya sembuh.
Apakah saya juga boleh meneladaninya membaca “Mahaparinirvana Sutra”, atau menggunakan cara lainnya? Banyak orang yang berkata anda berpengalaman di bidang pengobatan, saya sudah menderita penyakit liver selama bertahun-tahun, tulang rusuk sebelah kanan sering terasa sakit, otot belakang juga ada bengkak kecil.
Saya percaya rintangan karmaku berat, tidak berniat berobat ke dokter (oleh karena tidak leluasa bergerak, kalau kaki bergerak maka penyakit segera kambuh), hanya dengan membangkitkan ketulusan melafal Amituofo untuk menyembuhkannya, tetapi tidak efektif, mohon Upasaka senior memberiku cara untuk menyembuhkan penyakitku.
***Upasaka Li Bing-nan menjawab :
Melatih diri hendaknya bisa terfokus, yang paling ditakutkan adalah tidak memiliki pendirian dan ketetapan hati, suka berubah-ubah, satu kaki menginjak dua perahu. Harus diketahui bahwa seluruh pintu Dharma adalah sempurna adanya, tinggal memilih metode mana yang hendak digunakan, tergantung pada keadaan masing-masing individu, tentu saja harus memilih metode yang paling akrab dengan diri sendiri.
Melafal Namo Amituofo merupakan pil mujarab yang menyembuhkan penyakit, asalkan dapat mempertahankan ketulusan hati, pasti dapat mengobati segala penyakit.
Sutra dengan jelas memberitahukan pada kita, dengan hati yang paling tulus melafal sepatah Amituofo, dapat mengeliminasi 8 miliar kalpa dosa berat samsara. Anda telah memperoleh harta karun, kenapa pula masih mencari metode lainnya?.
Lagi pula anda selalu teringat sudah bertahun-tahun tubuh anda didera penyakit, kemelekatan yang begitu berat pada tubuh jasmani, mendambakan alam saha dengan terlalu mendalam.
Mengetahui bahwa sakit adalah penderitaan, maka itu hendaknya melepaskan kemelekatan, kalau tidak maka tidak perlu lagi membahas tentang kelahiran ke Alam Sukhavati.
Meskipun saya memahami sedikit tentang ilmu pengobatan, tetapi ilmu pengobatan tidak bisa mengeliminasi rintangan karma. Hanya bisa memberi anda beberapa kalimat, tak peduli itu adalah bertekad terlahir ke Alam Sukhavati, menyingkirkan Mara, menyembuhkan penyakit, harus memiliki keteguhan hati, tidak boleh tergoyahkan.
Ini adalah menfokuskan diri melatih satu Pintu Dharma yakni melafal Amituofo, jangan lagi mempunyai niat lain yang bercabang-cabang.
Dipetik dari : Tanya Jawab Seputar Pintu Dharma Tanah Suci, #120
Penulis : Upasaka Li Bing-nan
Disusun oleh : Upasaka Ceng Qi-yun Catatan: dikutip dari grup Facebook Avaivartika, diposting oleh Briella Cai, pada 27-Mei-2024 jam 17:00 wib.
淨土法門疑難問題解答
(一二零)
問 :
我已老了,身體常常被病魔侵襲折磨,雖然早晚功課和念佛都不間斷,但仍舊一樣。前天,看了《高僧傳》,裏面有一位法師病了,夢見佛祖給他指示念誦《涅槃 經》,然後病就好了。我是不是也可以模仿他念誦《涅槃經》,或者採取其他方法呢?人家說您老在醫藥方面也有相當的成就,我已經患了很多年的肝病,右肋時常 作痛,透過背後肌肉也有小腫。我相信我的業重,不願就醫(因行動不自由,腳動病就發作),只以虔誠的心念佛治療,可是功力不見效,敬請老居士贈給我一個治 病的方法。
李炳南老居士解答 :
修法貴在專一,最怕朝三暮四,腳踏兩隻 船。要知道所有佛法都能圓融無礙,具體採用哪種方法,就要看各人的情況,當然是應該採用自己最熟悉的方法。念六字洪名,就是治病良藥,只要誠心堅持,一定 能愈百病。經上明明告訴我們,至心念一句阿彌陀佛,就能夠消除八十億劫生死重罪。你已擁有珍寶,為什麼還要尋找其他辦法呢?再說老居士念念不忘長年患病, 執著幻軀如此嚴重,貪戀娑婆興趣太深。知病是苦,就當捨離,否則就談不上往生了。鄙人雖然稍懂醫藥,但醫藥不能消除業障。敬贈你幾句話,無論是求往生,求 去魔,求愈病,都要立定主旨,決不動搖。這就是堅持念佛一法,不再節外生枝了。
文摘恭錄 : 淨土法門疑難問題解答
李炳南老居士原著
曾琦雲編譯

Senin, 25 Maret 2024

Amituofo atau Amithofo atau Emithuofo?



Dikutip dari grup FB Mudita Center 喜来寺, posting tgl 16-Jul-2013

Amithofo atau Emithuofo?

Namo Sakyamuni Buddhaya
Namo Amitabha Tathagataya

Tanya:
Amithofo sami, saya ingin bertanya, bagaimana pendapat sami mengenai artikel yang menyatakan bahwa pelafalan Amithofo atau Amitabha berdasar ejaan bahasa Indonesia adalah suatu kesalahan, harusnya dibaca "E", bukan "A" ?

Jawab:
Salam hangat sahabat,

Penulis tentu merupakan seorang terpelajar dan peduli pada perkembangan dan kesejahteraan umat Buddha. Bila tidak, tentu ia tidak akan berlelah mencari dan mengetik informasi yang sedemikian detilnya.

Dapat kita katakan tidak ada kesalahan signifikan dalam penyampaian beliau, selain pada metode penyampaian yang mungkin, kembali lagi, karena semata-mata tidak diketahui akibatnya, telah menyebabkan buah karma buruk yang cukup beratlah yang tertuai.

Mengapa?
Buddha bukanlah manusia atau makhluk, melainkan pelampauan makhluk, sehingga, "Ia" bukanlah seorang guru bahasa yang kaku, walau bukan berarti bisa sekenanya saja. Banyak yang tetap terlahir ke Sukhavati walaupun membaca Amitabha atau Amithofo atau bahkan Amitofo, atau Amitohut, atau Amida butsu.

Mengapa?
Karena esensi dari nama seorang Buddha, adalah pada perenungan kualitas baik dari Buddha tersebut (Buddhanussati), namaNya hanyalah sebatas "pengantar" kita agar dapat senantiasa mengingat dan merenungkan kualitas2Nya, membantu kita melarutkan kualitas-kualitasNya dalam kehidupan kita dengan terus melafalkan namaNya seiring beraktivitas.

Nama Buddha bukanlah Mantra, Mantra, menekankan pada bunyi, nama Buddha menekankan pada makna dan arti yang mendalam. Sehingga, Amitabha, dapat juga dibaca sebagai Wuliang Shou Fo, Buddha Usia Tanpa Batas, atau Buddha Cahaya Tanpa Batas. Hanya saja karena alasan kesederhanaan, kita tetap menggunakan 4 suku kata, Amitabha atau Amithofo.
Tentu saja, karenanya tidak ada masalah berlebihan dari perbedaan cara pengucapan, yang penting adalah tingkat ketulusan dan kemurnian niat.

Dengan memahami ini, adalah tidak perlu muncul sedikitpun kebingungan dan keraguan pada sahabat seDharma yang telah melafalkan Amitohut, atau Amitofo sehari-hari.

Adalah benar bahwa artikel tersebut mungkin ditulis seorang yang cukup berpendidikan atau pintar, diukur secara pengetahuan duniawi yang baru berusia kurang dari 10.000 tahun. Namun, esensi Buddha Dharma yang telah berusia berkalpa-kalpa (1 kalpa kurang lebih 10^140 tahun), tidak mampu terwakilkan dengan baik dalam tulisan yang hanya dilihat dari sudut pandang kebenaran tekstual semata.

Sehingga, bila ditanya, sami hanya bisa menyatakan, tidak masalah Amithofo, Emithofo, Amithuofo, Emithuofo, Amitabha, Amida Buddha, Amita Buddha, Emitabha, Emida Buddha, Emita Buddha, Amitofut, Amithohut, yang anda baca, selama pikiran adalah ditekadkan pada keagungan dan 48 Maha Ikrar Buddha di Sukhavati, tidak ada masalah.

Intinya, yang mampu menghalangi kita untuk terlahir di Sukhavati, di hadapan Buddha Amitabha, adalah keraguan dan karma buruk. Bukan lafal "A" atau "E". Asalkan tulus, lafal Amitofo pun akan mengantar kita pada pencapaian Sukhavati setelah maupun dalam kehidupan ini juga.

Sekali lagi, sahabat, penulis dan penyebar informasi sama sekali tidak menyampaikan hal yang salah, mereka menyampaikan hal yang benar walaupun patut dikasihani telah tanpa sadar menyebabkan karma buruk yang berat dari apa yang telah dilakukan.

Mengapa?
Karena salah satu dari tiga penyebab perbuatan buruk (lobha, dosa, moha) adalah moha, ketidaktahuan, yang merujuk pada tidak dimilikinya pengetahuan yang menyeluruh, namun menyatakan hal yang tidak menyeluruh tersebut seolah menyeluruh.

Dari penyampaian seperti itu, tanpa sadar penulis blog ini dan penyebar informasi telah menyebabkan keraguan muncul dengan signifikan di kalangan umat yang selama ini nianfo, melafalkan nama Buddha Amitabha dengan keyakinan yang dilandasi rasa hormat dan ketulusan. Sebenarnya, dalam pertanyaan ini sudah beberapa hari, karena semakin banyak yang bertanya (umat galau karena merasa apa yang dilakukan selama ini percuma), akhirnya sami diarahkan untuk segera mencoba menyampaikan pendapat yang berdasarkan esensi Buddha Dharma.

Intinya, yang mampu menghalangi kita untuk terlahir di Sukhavati, di hadapan Buddha Amitabha, adalah keraguan dan karma buruk. Bukan lafal "A" atau "E". Asalkan tulus, lafal Amitofo pun akan mengantar kita pada pencapaian Sukhavati setelah maupun dalam kehidupan ini juga. Karma buruk luar biasa terhasilkan dari sang penyampai informasi yang belum mampu mengemas informasi yang menurutnya baik, dengan cara yang baik pula. Seperti memberi bayi yang baru lahir makan kacang, dapat menyebabkan kematiannya, demikian pula, penyampai informasi ini telah menyampaikan informasi yang tidak dikemas dengan baik, sehingga menimbulkan keraguan pada praktisi nianfo, yang mana berarti menambah HALANGAN langsung pada mereka untuk mencapai Sukhavati.

Sami tentu tidak berkepentingan selain semakin banyak makhluk (bukan hanya manusia) yang dapat terbebas dari samsara, sehingga, hanya ingin membantu menyadarkan akibat karma buruk yang mungkin tanpa tersadar telah terlakukan penulis, sehingga, dengan segera menyadari, mempertobatkan, dan memperbaiki metode penyampaian, semoga ia dapat terhindar dari tiga alam sengsara dan mencapai kebahagiaan sejati.

Seperti halnya, pernah ada kasus yang jauh lebih "parah" bila dinilai menurut sudut pandang penulis artikel tersebut, yang terjadi di China

Seorang ibu tua yang setelah membaca manfaat mantram Om Mani Padme Hum (嗡嘛尼叭彌吽), iapun mulai membaca mantram Avalokitesvara Bodhisattva tersebut setiap harinya, di depan altar, ia selalu menyiapkan dua gelas yang salah satunya berisi kacang untuk membantunya berhitung. Namun, karena keterbatas pemahaman karakter mandarinnya, ia salah menerjemahkan bunyi dari aksara terakhir: 吽.

Karena Aksara Hum, dalam bahasa mandarin terdiri dari aksara mulut (kou: 口) dan sapi (Niu: 牛), sehingga sang nenek pun salah paham, dan dengan tulus membaca berulang-ulang Om Mani Padme Niu sembari berkonsentrasi pada Avalokitesvara Bodhisattva.

Setelah 20 tahun berlatih dengan ketulusan, setiap ia membaca Om Mani Padme Niu, kacangnya sudah melompat sendiri ke gelas berikutnya, untuk membantunya menghitung., ini semata-mata terjadi karena daya konsentrasinya. Hingga suatu hari, seorang bhiksu muda (kasus ini mirip, dimana yang menyebabkan kebenaran tersalahkan karena penyampaian, adalah anak muda yang belum berpengalaman) tanpa sengaja melewati rumahnya, dan ketika mendengar ada yang membaca Om Mani Padme Niu, tentu saja ia sangat kaget, dan segera mengetuk pintu sang nenek.

Ia menyatakan: “Nek, tahukah engkau bahwa anda sudah melakukan kesalahan fatal? Engkau telah salah membaca mantram welas asih dari Avalokitesvara Bodhisattva, ini dapat berakibat terjatuh ke neraka! Yang benar adalah Om Mani Padme Hum!”

Mendengar ini, sang nenek pun sangat ketakutan dan sedih, dan mulai mengganti mantram yang ia baca menjadi Om Mani Padme Hum, namun kacang2nya tidak bergerak sedikitpun.

Mengapa? Karena ketakutan, kesedihannya dan rasa bahwa yang selama ini dibaca adalah percuma karena salah, telah mencemari pikiran murninya, sehingga kekuatan mantra yang berasal dari hati polosnya hilang.

Ketika bhiksu muda ini pulang, ia menceritakan kasus ini pada sang guru dan tanpa banyak bicara, sang guru menampar wajahnya dan berkata: “Engkaulah yang akan terjatuh ke neraka, bagaimana dapat engkau dengan tanpa welas asih, menghancurkan semangat seorang nenek yang tulus berlatih? Buddha tidak mengajarkan kerahasiaan, mantram yang diajarkan, semata-mata adalah untuk membantu mengarahkan batin pada kebaikan. Om Mani Padme Niu, karena dibacakannya dengan pikiran terpusat pada Avalokitesvara Bodhisattva, telah berhasil membimbingnya pada Samadhi. Namun, pernyataanmu yang seolah benar, telah menyeretnya jatuh dalam penyesalan dan kesedihan.”

Sang bhiksu muda pun segera menuju kediaman sang nenek, memohon maaf dan menyatakan tidak apa-apa untuk melatih seperti terdahulu. Sang nenek sangat bergembira, begitu ia berkonsentrasi seperti biasanya, kacang kembali melompat..

Hm, terakhir, bila bahasa sangat mempengaruhi, maka kata Amithofo sudah salah dari dulu, walaupun dibaca Emithuofo, mengapa? Karena kata Amita”bha”, diterjemahkan menjadi Amito”fo”, “Bha” dan “Fo” bunyinya jauh tidak?

Kemudian, bila dikatakan “Fo” itu terjemahan dari “Buddha”, jauh tidak bunyinya? Jadi, tidak ada masalah berlebihan tentang perbedaan bunyi yang didasari rasa hormat yang tulus.

Semoga senantiasa berbahagia sehingga dapat selalu menebarkan bibit kebahagiaan pada semua makhluk,

Amithofo.
🙏
Salam Mudita

Makna dan Manfaat Menjapa Amituofo

 

Apa arti dari “Amituofo”?
問:「阿彌陀佛」的意義為何?(三十二問)
Master Chin Kung menjawab:
Amituofo berarti memuji orang agar berumur panjang, mendapatkan cahaya terang tanpa batas dan kebijaksanaan tiada terhingga,
sepatah kata “Amituofo” mencakup doa tiada batas.
Ketika kita sedang menjapa nama Buddha, ada dua macam pahala yang sangat penting, ada dua macam pahala menjapa nama Buddha,
adalah (1) mengumpulkan bekal Anda sendiri, mengumpulkan berkah Anda, mengumpulkan bekal terlahir di alam suci; kedua (2) adalah sepenuh hati dan tidak galau (=konsentrasi, fikiran terfokus). Ketika Anda sepenuh hati dan tidak galau, cita-cita Anda akan tercapai. Buddha pernah bersabda, jika pikiran bisa terfokus, konsentrasi, tidak ada yang tidak terlaksana. Setiap orang dalam proses melatih diri, harus konsentrasi, sepenuh hati dan tidak galau, sangat terfokus, dengan demikian, dapat terlahir di alam suci. Jika hati Anda kacau balau, ketika meninggal dunia, berpikir ke mana-mana, seketika memikirkan hal yang sangat rumit, tidak mampu membuka simpul tersebut, anda pun tidak mampu memutuskan bermacam-macam karma duniawi dan gagal terlahir di alam suci Buddhaloka. Oleh karena itu, dua hal yang penting yang harus kita ingat, * kita mesti japa nama Buddha, japa Namo Amituofo, kemudian * japa pendamping-Nya “Namo Kwan Im Pusat , * Namo Tasece Pusat.” Boleh menjapa 3 kali, lalu namaskara 3 kali, menjapa dan bernamaskara dengan sangat tulus, bahkan harus sepenuh hati dan tidak galau, ini adalah poin penting dari menjapa nama Buddha. Kelak di dalam buku saya akan menulis tentang Dharma Sukhavati, mengajari Anda metode japa nama Buddha. Setelah metode menjapa nama Buddha ini ditulis, kalian jalankan metode ini, manula juga boleh menekuninya. Saat muda, Anda harus banyak mendengarkan Dharma! Saat usia setengah baya, harus mendalami satu metode; saat usia lanjut, memohon dapat terlahir di Buddhaloka, ini paling penting, juga merupakan ajaran dari pendahulu kita, ini baru bisa sepenuh hati dan tidak galau.
Kita melatih diri, ada pada pangan, sandang, papan, transportasi, pendidikan, hiburan, termasuk pendidikan dan kebahagiaan, semua dilakukan atas dasar yidam, Anda pun tidak melanggar Sila. Pangan adalah persembahan, penyeberangan; sandang adalah perisai perlindungan diri; papan adalah simabandhana; berjalan adalah sambil dengan tekun japa nama Buddha, japa mantra; pendidikan, saat bersekolah, juga visualisasi yidam di tengah angkasa, di antara berbagai cara mendengar, juga visualisasi yidam bersama dengan Anda; lagi senang, saat paling bahagia, juga jangan melupakan yidam, ini barulah melatih diri yang sesungguhnya. Hari ini, sekian tentang Amitabha.